OPINI
370 Anak Palestina di Balik Jeruji, 57 Negara Muslim di Balik Kebisuan
Oleh: Leihana
(Ibu Pemerhati Umat)
“If I must die, you must live.”
TanahRibathMedia.Com—Itukah 8 petikan puisi karya Refaat Alareer yang berjudul "If I Must Die", yaitu puisi populer yang menggambarkan penderitaan anak-anak Gaza. Bait pertama digambarkan penyair tentang kematian tidak menjadi akhir seseorang, tetapi ingatan dan pesan berarti bagi orang lain termasuk banyak kematian kaum muslimin di Palestina, dilanjutkan dengan bait-bait selanjutnya yang sangat terkenal "sebuah layang-layang yang diterbangkan oleh seorang anak" yang bermakna harapan kebebasan dari anak-anak Gaza yang sangat relevan dengan fakta anak-anak di Gaza saat ini.
Sebagaimana yang dilaporkan oleh Palestinian Center for Prisoners’ Advocacy bahwa sebanyak 370 anak Palestina dipenjara oleh tentara Israel tanpa pandang bulu, apakah anak-anak tersebut bagian dari yang terpisah dari keluarganya atau tidak? Sebab, mereka sebagian besar adalah bagian dari 9400 tahanan Israel lainnya selama enam bulan terakhir yang dipenjarakan di penjara Megiddo dan Ofer (Kompas.com, 28 Agustus 2026).
Sedangkan menurut Kepala penelitian Komisi Palestina Urusan Tahanan dan Mantan Tahanan Abden Nasser Farawneh, kasus pemenjaraan anak oleh Israel sudah terjadi lebih dari 50 ribu kasus dari tahun 1967. Di tahun 2000 pada peristiwa Intifada lebih dari 16.000 anak ditahan dan setelah peristiwa tersebut dalam setiap tahunnya tidak kurang dari 700 anak Palestina per tahun dipenjarakan tanpa dakwaan dan peradilan oleh militer Israel (Antaranews.com, 29 April 2019).
Penangkapan Anak, Politik Memutus Masa Depan Palestina
Penangkapan kemudian dilanjutkan dengan pemenjaraan tanpa dakwaan dan peradilan yang dilakukan oleh militer Israel terhadap anak-anak Palestina adalah upaya sistematis yang dilakukan secara sengaja dan terencana oleh pemerintahan Israel. Dalam upaya politiknya untuk menghancurkan Palestina hingga ke akarnya dan masa depannya. Sebab, militer Israel menyadari betul potensi anak-anak Palestina di masa depan, mereka bisa menjadi ancaman yang menakutkan bagi Israel.
Sebab, generasi muda di Palestina tidak pernah kehilangan semangat jihad dan militansinya dalam membela tanah suci yang telah diamanatkan pada mereka. Selain itu, penangkapan terhadap anak di bawah umur dilakukan dengan sengaja untuk mengintimidasi upaya perjuangan rakyat Palestina saat ini, militer Israel berharap dengan ditangkapnya anak-anak di bawah umur dapat memukul mundur perlawanan rakyat Palestina.
Penguasa Muslim Membisu di Tengah Jeruji Anak Palestina
Di balik fakta memilukan anak-anak Palestina dijadikan alat politik Israel untuk mengintimidasi perjuangan rakyat Palestina, justru para penguasa negeri muslim yang ada di Timur Tengah tidak pernah benar-benar serius menunjukkan kepeduliaanya. Seperti pendapat Walid Kazziha, profesor ilmu politik di American University in Cairo (AUC) bahwa respons pemimpin negara Timur Tengah terhadap penderitaan rakyat Palestina hanya suam-suam kuku atau tidak sama sekali, padahal secara empiris negara-negara di Timur Tengah punya ikatan sejarah yang kuat dengan Palestina.
Hal utamanya sama-sama memiliki penduduk mayoritas muslim, kepedulian itu bahkan seharusnya sudah jadi kewajiban dalam Islam. Sebab, dalam Islam sesama muslim itu saudara yang bagai satu tubuh, jika satu bagian disakiti, bagian lain turut sakit dan berusaha menghilangkan penyebab rasa sakit tersebut.
Namun, mayoritas penguasa di Timur Tengah hanya membisu, jika pun bersuara hanya kepedulian formalitas belaka. Tidak ada tindakan nyata membantu menghilangkan penyebab penderitaan rakyat Palestina yaitu dengan mengusir Zionis penjajah Israel dengan membangkitkan umat dari kebisuan atas Palestina. Solusi untuk mengentaskan penderitaan rakyat Palestina–khususnya kalangan anak-anak– dibutuhkan persatuan umat yang menyerukan hal yang sama, yaitu Jihad fisabilillah untuk mengusir Zionis penjajah Israel dari tanah Palestina.
Dibutuhkan upaya penyadaran di tengah umat, bahwa penderitaan Palestina adalah masalah seluruh umat Islam di dunia. Penderitaan rakyat Palestina hanya akan berakhir jika Zionis Israel diusir dari tanah Palestina. Mengingat militer Israel didukung oleh negara adidaya seperti Amerika Serikat, maka dibutuhkan juga kekuatan militer yang setara agar bisa mengalahkan militer Israel tersebut yang tiada lain hanya bisa dihadapi oleh kekuatan umat Islam di seluruh dunia.
Sebab, hakikatnya jihad fisabilillah melawan penjajah Zionis Israel adalah kewajiban kaum muslimin di seluruh dunia. Allah Swt. berfirman, "Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, tetapi jangan melampaui batas. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas." (TQS. Al-Baqarah: 190)
Persatuan umat dan Penegakan Sistem Islam Kafah adalah Jalan Pembebasan Palestina
Untuk melaksanakan jihad fisabilillah memerangi Zionis penjajah Israel ini dibutuhkan kekuatan seluruh kaum muslimin di dunia maka dibutuhkan juga satu komandan kepemimpinan yang mampu menggerakkannya. Tidak ada kepemimpinan yang bisa memobilisasi seluruh kekuatan kaum muslimin kecuali kepemimpinan Khilafah Islamiah yaitu negara Islam sepeninggal Rasulullah, kepemimpinan yang menyatukan seluruh umat Islam tanpa sekat nasionalisme atau batas wilayah yang menghalangi ukhuwah umat Islam saat ini sehingga tidak dapat menunjukkan bantuan yang seharusnya dan dibutuhkan umat Islam di Palestina.
Jihad dalam Islam sangat berbeda dengan metode penjajahan saat ini seperti yang dilakukan Israel. Tidak pandang bulu, anak-anak, wanita, bahkan lansia tak luput jadi sasaran kekejian mereka. Sedangkan jihad dalam Islam hanya dilakukan pada individu pasukan musuh yang laki-laki dewasa mengecualikan anak-anak, wanita, lansia. Bahkan fasilitas umum dan pepohonan pun dijaga untuk tidak jadi sasaran serangan.
Sejarah penerapan Islam dalam kekhilafahan terdahulu telah membuktikan bagaimana jihad fisabilillah yang dikomandoi seorang khalifah bisa menjaga nyawa bahkan kehormatan rakyatnya. Seorang muslimah dilecehkan bangsa Romawi dibalas dengan pasukan dari komando Mu'tashim Billah yang panjang pasukannya dari ibu kota Khilafah, saat itu di Baghdad hingga ujung lainnya ada di Negeri Romawi Amuriyah saat itu.
Apalagi jika yang terjadi seperti saat ini di Palestina, anak-anak ditahan, wanita dan lansia juga dibunuh, maka balasan yang akan dikirim kekhilafahan akan lebih besar dari itu. Untuk itu sudah saatnya kembali menerapkan Islam secara kafah di bawah naungan Khilafah untuk mengakhiri penderitaan rakyat Palestina selamanya.
Wallahualam bissawab.
Via
OPINI
Posting Komentar