OPINI
Generasi Muda dan Kesepian: Ada Apa dengan Kita?
Oleh: Husna Kamilah
(Sahabat Tanah Ribath Media)
TanahRibathMedia.Com—Kita hidup di tengah keramaian, tetapi semakin banyak yang merasa sendirian. Padahal, kita punya lebih banyak cara untuk terkoneksi daripada generasi-generasi sebelumnya. Ada media sosial, ruang komunitas, kampus, sekolah, dan berbagai tempat untuk bertemu. Namun, mengapa kesepian justru semakin dekat dengan kehidupan generasi muda?
Mengutip dari Kompas.id, pada September 2026, seorang mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya berinisial RR (19) diduga melakukan percobaan bunuh diri dengan melompat dari lantai enam gedung kampus. Padahal ia dikenal sebagai mahasiswa berprestasi dengan IPK 3,8. Sebelumnya, seorang pria berinisial FS (30) ditemukan tewas di kawasan GBK, Jakarta Pusat. Sebelumnya, ia sempat mengunggah pesan perpisahan dan mendonasikan Rp40 juta kepada komunitas kesehatan mental.
Bunuh diri merupakan persoalan yang kompleks dan dapat dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari kondisi psikologis, tekanan hidup, konflik interpersonal, hingga isolasi sosial. Kementerian Kesehatan melaporkan bahwa dari sekitar tujuh juta anak yang mengikuti skrining kesehatan pada 2026, sekitar 4,4 persen menunjukkan gejala kecemasan dan 4,8 persen menunjukkan gejala depresi. Data tersebut menunjukkan bahwa persoalan kesehatan mental di kalangan anak dan remaja bukan lagi sesuatu yang bisa dianggap sepele.
Sejak kecil, kita terbiasa diarahkan untuk berprestasi, masuk sekolah unggulan, kuliah di kampus ternama, mendapatkan pekerjaan dengan penghasilan tinggi, lalu membangun kehidupan yang dianggap berhasil. Tidak ada yang salah ketika mampu mencapai hal itu. Persoalannya terjadi ketika pencapaian tersebut mulai dijadikan ukuran utama nilai diri seseorang. Akhirnya, membuat hidup terasa seperti perlombaan. Siapa yang lebih cepat lulus, lebih tinggi penghasilannya, lebih banyak pencapaiannya, lebih dikenal, dan lebih bahagia. Ketika semua orang sibuk mengejar targetnya masing-masing, hubungan dengan sesama manusia pun dapat semakin renggang.
Media sosial semakin memperkuat keadaan ini. Setiap hari kita melihat orang lain yang tampaknya lebih berhasil. Ada yang lulus lebih dulu, mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, menikah lebih cepat, memiliki rumah, bepergian ke banyak tempat dan terlihat bahagia. Kita didorong untuk berkembang, produktif, glow up dan menjadi versi terbaik dari diri sendiri.
Tapi siapa yang mengajarkan bagaimana menerima diri ketika kita gagal? Siapa yang menemani ketika kita tidak sanggup memenuhi ekspektasi?
Di sinilah budaya individualistik dalam masyarakat kapitalistik wajib dikritisi. Sistem yang sangat menekankan persaingan dan pencapaian individu membuat manusia terbiasa menghadapi semuanya sendirian.
Kamu punya masalah? Cari solusi sendiri.
Kamu gagal? Bangkit sendiri.
Kamu sedih? Healing sendiri.
Kamu tertinggal? Tingkatkan diri lagi.
Seolah-olah manusia harus selalu kuat.
Di dalam sistem sekularisme yang memisahkan agama dari pengaturan kehidupan, agama cenderung ditempatkan sebagai urusan pribadi. Padahal manusia tidak hanya membutuhkan jawaban tentang bagaimana menjalani hidup, tetapi juga untuk apa hidup ini dijalani. Ketika ukuran hidup semakin bertumpu pada pencapaian duniawi, seseorang dapat merasa hancur ketika apa yang dikejarnya gagal dicapai.
Inilah sisi busuk dari sistem sekuler-kapitalistik dimana manusia didorong untuk mengejar pencapaian material dan berdiri sendiri, sementara kebutuhan manusia terhadap makna hidup, ketenangan dan keterikatan dengan sesama tidak mendapatkan perhatian yang sama.
Islam datang dengan pandangan yang berbeda. Manusia tidak diciptakan hanya untuk mengejar dunia.
Allah Swt. berfirman:
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku.” (TQS. Adz-Dzariyat: 56)
Gagal kuliah bukan berarti gagal sebagai manusia. Tidak punya pekerjaan bergengsi bukan berarti hidup tidak berharga. Tidak memiliki apa yang dimiliki orang lain bukan berarti Allah meninggalkan kita. Sesungguhnya dunia hanyalah tempat singgah menuju akhirat, bukan tujuan akhir.
Islam juga tidak membiarkan manusia menghadapi hidup seorang diri. Keluarga, masyarakat, dan negara memiliki tanggung jawab terhadap kehidupan manusia.
Rasulullah ï·º bersabda:
“Ketahuilah, setiap kalian adalah pemimpin dan kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Persoalan masyarakat tidak cukup hanya dikembalikan kepada individu. Negara memiliki amanah untuk menjaga rakyatnya. Ketika generasi muda menghadapi tekanan, kesepian dan krisis kesehatan jiwa, negara tidak cukup hanya hadir ketika masalah sudah terjadi. Pendidikan, lingkungan sosial, kebutuhan dasar, hingga akses terhadap pertolongan juga menjadi bagian dari hal-hal yang perlu diperhatikan negara dalam menjaga kehidupan rakyatnya.
Via
OPINI
Posting Komentar