OPINI
Dampak Asap Karhutla, Ancaman Kesehatan, dan Tanggung Jawab Siapa
Oleh: Ermawati
(Penulis Ideologis)
TanahRibathMedia.Com—Api yang telah membakar menghancurkan kehidupan ekosistem di hutan selain itu dampaknya begitu besar bagi kehidupan masyarakat menyisakan kumpulan asap yang begitu tebal mencemari lingkungan dan udara bahkan paparan asapnya ancaman kesehatan bagi umat manusia.
Kebakaran terakhir yang berlangsung pada Minggu (30/8) malam, kata Direktur Eksekutif Daerah Walhi Kalimantan Tengah, Janang Firman Palanungkai, disebut menjadi yang terbesar dan terbilang parah karena dekat dengan permukiman penduduk.
Berdasarkan pemantauan IQAir, kualitas udara di Kota Palangkaraya memburuk seiring pekatnya kabut asap. Konsentrasi PM2.5 bahkan menembus angka 128.4 µg/m³ pada Senin malam. Angka itu menandakan kualitas udara "sangat tidak sehat" (BBC.com, 30-8-2026).
Api yang membara membakar hutan kalimantan tidak hanya membakar pohon-pohon tapi juga membumihanguskan kehidupan yang ada di dalam hutan banyak hewan-hewan yang mati terjebak di hutan karena ganasnya kobaran api dari kebakaran hutan yang dahsyat. Kini yang tersisa kumpulan kabut asap tebal yang mencemari air, udara, dan lingkungan. Dampaknya sangat buruk dan mengancam kesehatan serta membuat masyarakat menjadi ketakutan. Masyarakat merasa tidak aman karena seringnya terulang kembali kebakaran serta sulitnya api untuk dipadamkan menyebabkan karhutla semakin meluas.
Hal ini menjadi perhatian khusus karena dampak asapnya sangat berbahaya bagi kesehatan dan juga mengganggu kehidupan masyarakat untuk melakukan aktivitas. Apakah karena kondisi alam yang sedang musim kemarau sehingga rawan terjadi kebakaran karena memang akhir-akhir ini kebakaran hutan sering sekali terjadi serta lambannya pemerintahan dalam menyelesaikan kebakaran hutan membuat api cepat menyebar hingga makin mendekati permukiman warga, pemerintah tidak belajar dari pengalaman dalam menyelesaikan masalah kebakaran hutan padahal kasus kebakaran hutan bukanlah yang pertama kali terjadi.
Karhutla dengan asap tebal yang semakin menakutkan dan akibat kebakaran ini banyak kerugian yang harus ditanggung oleh negara dan rakyat tidaklah sedikit, siapa yang patut disalahkan dan yang harus bertanggung jawab atas musibah ini membuat kita saling tuding dan merasa benar tidak ada yang mau disalahkan, memang banyak tangan-tangan jail mengatas namakan demi kesejahteraan rakyat, seperti mengunduli hutan untuk ditanami kelapa sawit sehingga hutan menjadi alih fungsi baik secara legal atau pun ilegal demi kepentingan politik.
Rakyatlah yang paling menderita akibat kebakaran hutan harus menanggung polusi udara dan trauma karena merasa tidak aman selalu dibayangin kebakaran hutan, padahal menjaga dan memelihara hutan serta lingkungan adalah tugas kita semua tetapi masih saja ada oknum yang lalai demi kepentingannya agar mendapatkan keuntungan yang mencoba menganti hutan tropis dengan hutan sawit, ketamakan dan kerakusan oligarki tanpa berpikir panjang akibat yang akan terjadi karena hutan adalah tempat kehidupan mahluk hidup kalau dirusak hutannya maka rusak juga kehidupan yang ada disekitar hutannya.
Kebakaran hutan ini tidak lepas dari tata kelola serta penyalahgunaan kekuasaan dalam sistem kapitalis negara yang abai dan tidak tegas serta memberikan ruang bagi para kapitalis untuk mengobrak-abrik hutan negara kita yang ingin mengubah hutan tropis menjadi hutan sawit, selain itu masalah dilapangan semakin sulit dalam memadamkan api karena kurang sigap dan cepatnya negara dalam memberikan bantuan yang terkesan lamban sehingga membuat api semakin berkobar besar dan melebar dengan cepat menghabisi hutan, betapa rusaknya sistem kapitalis merasa paling benar yang tidak mau diatur oleh syariat IsIam makin terlihat jelas kehancuran sistem kapitalis.
Dalam Islam penguasa adalah pengurus rakyat. Rasulullah ﷺ bersabda:
مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيهِ اللَّهُ رَعِيَّةً، يَمُوتُ يَوْمَ يَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لِرَعِيَّتِهِ، إِلَّا حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ
“Tidaklah seorang hamba yang Allah beri amanah untuk mengurus rakyat, kemudian ia meninggal pada hari ia meninggal dalam keadaan menipu rakyatnya, kecuali Allah mengharamkan surga bagi dirinya.” (HR al-Bukhari dan Muslim)
Dalam pandangan IsIam, hutan adalah tempat kekayaan alam milik rakyat. Selain itu hutan juga paru-paru dunia yang menyaring udara dan air serta menahan berbagai bencana alam seperti longsor dan banjir dari gunung di saat musim hujan. Hutan juga tempat bergantungnya berbagai mahluk hidup tidak hanya hewan manusia juga. Sudah menjadi tugas dan kewajiban manusia untuk menjaga dan melestarikannya karena banyak manfaat jika kita menjaga hutan, dan hasilnya pun untuk kesejahteraan dan kemaslahatan rakyat jadi haram hukumnya bila diperjualbelikan.
Namun karena sistem kapitalis banyak melahirkan para penguasa yang rakus dan tamak sehingga hutan pun tak luput jadi kepentingan politik untuk memperkaya golongan dan pribadi. Jadi masihkah kita percaya dan yakin untuk terus mengunakan sistem kapitalis yang telah banyak merusak diberbagai aspek kehidupan, sudah saatnya umat bersatu dan bangkit untuk menegakkan kembali syariat IsIam didalam kehidupan masyarakat agar kesejahteraan dan kemaslahatan dapat terwujud dengan sistem IsIam hidup damai dan aman di bawah naungan khilafah Islammiyah.
Wallahu a'lam bish-shawab.
Via
OPINI
Posting Komentar