OPINI
Solusi Stunting ala Makan Gizi Gratis yang bikin Miris
Oleh: Heni Ummu Jaisy
(Sahabat Tanah Ribath Media)
TanahRibathMedia.Com—Lagi-lagi program Makan bergizi Gratis (MBG) jadi topik perbincangan. Bukan tanpa alasan jika itu terjadi, dari pernyataan Kepala Badan Komunikasi (BAKOM) Muhammad Qodari menyebut ada 414 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menerima transfer anggaran namun SPPG itu belum beroperasi. Juga disebutkan bahwa ada 414 SPPG fiktif yang tidak beroperasi tetapi mendapatkan transfer anggaran walaupun sudah bisa diatasi (Kompas.com, 29-7-2026).
Data per juni 2026 BGN mencatat ada 29.991 SPPG di seluruh Indonesia. Urutan pertama diduduki oleh Jawa Barat dengan jumlah 6.721 SPPG di urutan terakhir ada Papua Pegunungan dengan hanya ada 14 unit saja. Jika ditotal pulau paling timur ini hanya memiliki SPPG 10% saja dari total SPPG nasional. Padahal Papua adalah salah satu wilayah yang mempunyai prevalensi stunting terbanyak di antara wilayah yang lain. Tapi hanya memiliki dapur MBG tidak lebih dari 1%. Ini bertolak belakang dengan misi utamanya untuk memberantas kemiskinan dan stunting.
Masyarakat yang berharap ada perbaikan gizi malah dihadapkan pada fakta bahwa program ini menambah masalah baru, apalagi kalau bukan lahan basah korupsi. Padahal anggaran yang dikeluarkan tidak sedikit, hasil pemangkasan beberapa sektor yang harusnya memperoleh perhatian lebih seperti pendidikan dan kesehatan. Mereka dianaktirikan dari pada program populis pemerintah.
Bagi-Bagi Kekuaaan
Bukan rahasia umum lagi bahwa banyak program di kabinet kita hari ini bukan hasil dari pertimbangan matang, setidaknya menggunakan data yang akurat. Kebijakannya mentikberatkan pada kepentingan segelintir orang yang punya hasrat kekuaaan. Sehingga mudah saja di sistem kapitalis ini untuk menjalankan program yang jauh dari kemaslahatan rakyat. Bayangkan, masyarakat yang tinggal di wilayah tertinggal, terdepan dan terluar (3T) di negeri ini luput dari perhatian. Ini akan berdampak buruk bagi kaum ibu dan generasi selanjutnya. Generasi emas yang digadang-gadang itu hanya akan jadi generasi cemas.
Para pendukung dan orang yang berada di lingkaran kekuasaan sedang menikmati lezatnya kue bagiannya sedang rakyat hanya diperlukan ketika masa pemilihan tiba, setelah itu nasibnya tidak diperdulikan lagi. Habis manis sepah dibuang.
Program populis seperti MBG juga jadi ajang untuk mengumpulkan modal yang diperlukan untuk pesta demokrasi mendatang. Kita tahu untuk hanya mencalonkan saja butuh dana yaang tidak sedikit. Setelah itu mereka harus cari cara balik modal dengan cepat dan mengumpulkan dana untuk periode selanjutnya persis seperti lingkaran setan yang tak ada ujungnya.
Kepemimpinan dalam Islam
Di alam kapitalis penguasa akan menempatkan diri mereka sebagai regulator, yaitu pengatur kepentingan pihak yang memberi mereka posisi (para kapital). Berbeda jauh dengan sistem Islam, pemimpin adalah raa'in. Mereka bertanggung jawab sepenuhnya pada rakyat yang dipimpin. Kekuaasan yang dimiliki dipandang sebagai amanah yang akan dihisab di akhirat kelak. Teladan ini bisa kita lihat pada pribadi amirul mukminin Umar bin Khattab, Khalifah kedua setelah Abu Bakar Ash-Shiddiq ketika ia merasa bersalah karena ada hewan yang terperosok akibat jalanan yang rusak di masa kepemimpinannya. Sang Khalifah segera memperbaiki jalan tersebut. Apalagi jika itu berhubungan dengan nyawa manusia, tentu akan lebih diutamakan.
Kebijakan yang dikeluarkan kan berbasis pada kemaslahataan orang banyak, akan diperhatikan individu per individu. Data bukan hanya sebatas angka yang tertulis di kertas tapi ada manusia yang perlu diurusi segera. Pemimpin dalam sistem Islam tidak disibukaan dengan pencitraan belaka. Hanya untuk terlihat baik depan publik karena setiap amal hanya ditujukan pada Allah Swt.
Ini sejalan dengan sistem pemilihan pemimpin yang mudah efektif dan efisien. Tidak memerlukaan biaya yang mahal jadi siapa yang ketika ia memenuhi syarat bisa menjadi seorang pemimpin. Sehingga kecil kemungkinan ada titipan kebijakan dari pemodal atau politik balas budi yang hari ini marak dipraktikan. Alhasil akan tercipta negara yang berkah. Kesejahteraan masyarakat bukan hanya sebatas slogan tapi tercipta ketika Islam diterapkan dalam sebuah sistem kehidupan.
Via
OPINI
Posting Komentar