OPINI
Pelucutan Senjata Hamas, Makar Barat Melemahkan Palestina
Oleh: Arpah Latifah
(Muslimah Peduli Palestina)
TanahRibathMedia.Com—Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali melontarkan pernyataan tentang kesepakatan perdamaian di Palestina. Trump mengatakan bahwa Dewan Perdamaian telah bersepakat untuk melucuti senjata Hamas yang dilakukan secara bertahap. Pasukan Israel akan mundur dari Gaza andai proses pelucutan senjata tersebut berhasil dilakukan. Proses keamanan dalam kesepakatan damai ini akan melibatkan Pasukan Stabilitas Internasional dan kepolisian Palestina yang baru (detik.com, 31 Juli 2026).
Rencana perdamaian ini tampak bagaikan sebuah jalan keluar bagi konflik di Palestina. Pelucutan senjata Hamas, penarikan mundur pasukan Israel, lalu pembangunan kembali Gaza. Padahal sejatinya, kesepakatan damai ini tidak sesederhana itu. Palestina lagi dan lagi ditempatkan pada posisi yang dirugikan, sedangkan penarikan pasukan Israel dari Palestina bisa jadi hanya wacana semata. Sebab, menjadi rahasia publik, Zionis Yahudi kerap mengingkari kesepakatan damai.
Masalah Palestina Bukan Sekadar Senjata
Pelucutan senjata Hamas bukanlah solusi untuk mengakhiri begitu saja konflik Palestina. Sebab, konflik Palestina merupakan persoalan panjang yang muncul akibat kependudukan dan penjajahan Zionis Yahudi atas Palestina. Penjajahan yang menjadi sumber derita panjang bagi rakyat Palestina hingga hari ini. Oleh karena itu, menjadikan pelucutan senjata Hamas sebagai pusat persoalan membuat konflik Palestina terlihat terlalu sederhana.
Fakta berbicara, kondisi umat Islam di Gaza hingga detik ini masih saja dihantui serangan Zionis Yahudi. Keadaan ini menunjukkan bahwa pelucutan senjata tidak serta-merta menghadirkan keamanan. Sebaliknya, pelucutan senjata menjadi cara untuk melemahkan perlawanan umat Islam di Gaza seperti yang diharapkan oleh Zionis Yahudi dan Barat.
Berbagai kesepakatan damai terbukti tidak mampu menghentikan penjajahan Zionis Yahudi atas Palestina. Mulai dari diplomasi, resolusi PBB, hingga gencatana senjata upaya perdamaian hanya pepesan kosong semata. Zionis Yahudi terbukti tidak akan melepaskan cengkeramannya di atas tanah Palestina.
Berbagai kecaman dan kutukan dari dunia pun tidak membuat Zionis Yahudi takut.
Sebaliknya, mereka makin brutal dan berani membunuh warga Gaza yang tidak bersalah. Menghancurkan rumah, gedung, dan rumah sakit dengan penuh kesombongan. Alhasil, kemerdekaan Palestina mustahil tercapai di meja kesepakatan perdamaian. Kemerdekaan hakiki Palestina niscaya terwujud hanya dalam naungan jihad.
Pentingnya Kepemimpinan Umat
Persoalan Palestina memperlihatkan pentingnya kepemimpinan umat. Dalam Islam, kekuasaan bukan sekadar jabatan, tetapi amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban.
Rasulullah saw. bersabda:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa seorang pemimpin tidak hanya memiliki kekuasaan, tetapi juga tanggung jawab terhadap rakyat yang berada di bawah kepemimpinannya.
Dalam Islam dikenal istilah raa'in, yaitu pihak yang mengurus urusan rakyat. Ada pula junnah, yaitu perisai atau pelindung. Artinya, pemimpin tidak cukup hanya memberikan pernyataan ketika umat mengalami penderitaan. Ia harus memiliki kemampuan untuk melindungi mereka. Dalam persoalan Palestina, penderitaan umat tidak cukup dijawab dengan kecaman atau bantuan kemanusiaan. Bantuan memang penting, tetapi akar persoalannya juga membutuhkan penyelesaian. Umat membutuhkan kepemimpinan yang mampu menjaga kepentingan mereka dan tidak mudah tunduk pada tekanan negara besar.
Dalam perspektif Islam, kepemimpinan tersebut adalah Khilafah. Khilafah bukan sekadar nama pemerintahan. Ia merupakan institusi yang bertugas menerapkan syariat dan mengurus kepentingan kaum Muslim. Sehingga ketika ada kaum Muslim yang tertindas, persoalannya tidak cukup diserahkan kepada negara-negara besar yang memiliki kepentingan masing-masing. Pembelaan terhadap Palestina membutuhkan kekuatan politik yang mampu melindungi umat, bukan hanya pernyataan kecaman setelah serangan terjadi. Islam juga memerintahkan umat untuk menyiapkan kekuatan.
Allah Swt. berfirman:
وَأَعِدُّوا لَهُم مَّا اسْتَطَعْتُم مِّن قُوَّةٍ وَمِن رِّبَاطِ الْخَيْلِ ...
“Dan persiapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang...” (QS Al-Anfal [8]: 60).
Ayat ini menunjukkan bahwa kekuatan tidak boleh diabaikan. Kekuatan dibutuhkan agar umat tidak mudah ditekan dan negara memiliki kemampuan menghadapi ancaman.
Dalam konteks Palestina, umat tidak seharusnya terus berada pada posisi meminta perlindungan kepada pihak lain. Sebab, sejatinya negara-negara Muslim memiliki sumber daya dan kekuatan yang besar. Persoalannya adalah bagaimana kekuatan tersebut digunakan untuk melindungi umat saat ini.
Solusi Islam tidak berhenti pada seruan agar perang dihentikan. Ada tanggung jawab negara untuk melindungi umat dan menghadapi ancaman yang datang kepada mereka. Maka persoalan Palestina hanya dapat dihentikan dengan pengiriman pasukan militer untuk membebaskan Palestina dari penjajahan Zionis Yahudi. Pengiriman pasukan militer ini hanya dapat dilakukan atas komando seorang Khalifah.
Sejarah Pernah Membuktikannya
Sejarah Baitul Maqdis memberikan pelajaran penting. Pada 1187 M, Salahuddin al-Ayyubi berhasil mengalahkan pasukan Salib dalam Pertempuran Hattin. Setelah itu, Yerusalem kembali berada di bawah kekuasaan kaum Muslim. Keberhasilan tersebut tidak muncul begitu saja. Salahuddin lebih dahulu membangun kekuatan dan menyatukan wilayah-wilayah Muslim yang sebelumnya terpecah. Tentu keadaan abad ke-12 tidak bisa disamakan begitu saja dengan Palestina hari ini. Namun, ada pelajaran yang masih relevan. Pembebasan membutuhkan kepemimpinan, persatuan, dan kekuatan.
Salahuddin tidak membangun kekuatan untuk sekadar menunjukkan bahwa umat memiliki pasukan. Kekuatan tersebut digunakan untuk menghadapi ancaman dan membebaskan wilayah yang berada di bawah kekuasaan pasukan Salib. Pelajaran dari sejarah bukan untuk sekadar bernostalgia. Umat perlu melihat bahwa kelemahan tidak akan membuat penjajahan berhenti dengan sendirinya.
Jelas, persoalan Palestina tidak semestinya berhenti pada tuntutan agar Hamas menyerahkan senjata. Yang lebih penting adalah bagaimana umat memiliki kepemimpinan dan kekuatan yang mampu memberikan perlindungan serta menyelesaikan persoalan penjajahan. Palestina tidak membutuhkan perdamaian yang membuatnya makin lemah. Palestina membutuhkan keadilan, perlindungan, dan pembebasan dari penjajahan.
Wallahu'alam bissawab.
Via
OPINI
Posting Komentar