Telusuri
  • Pedoman Media
  • Disclaimer
  • Info Iklan
  • Form Pengaduan
Tanah Ribath Media
Pasang Iklan Murah
  • Home
  • Berita
    • Nasional
    • Lensa Daerah
    • Internasional
  • Afkar
    • Opini Tokoh
    • Opini Anda
    • Editorial
  • Remaja
    • Video
  • Sejarah
  • Analisa
    • Tsaqofah
    • Hukum
  • Featured
    • Keluarga
    • Pernikahan
    • Pendidikan Anak
    • Pendidikan Remaja
    • FiksiBaru
Tanah Ribath Media
Telusuri
Beranda OPINI Generasi Tertekan: Ketika Keputusasaan Menjadi Jalan Terakhir
OPINI

Generasi Tertekan: Ketika Keputusasaan Menjadi Jalan Terakhir

Tanah Ribath Media
Tanah Ribath Media
23 Agu, 2026 0 0
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp

Oleh: Faidah Alfiyah 
(Sahabat Tanah Ribath Media)

TanahRibathMedia.Com—Pada 3 Agustus 2025, publik kembali dikejutkan oleh berita duka tentang seorang siswi SMA di Jakarta Timur yang meninggal dunia setelah tertabrak Kereta Rel Listrik di perlintasan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Peristiwa seperti ini tidak seharusnya hanya menjadi berita yang lewat. Kita perlu bertanya: apa yang sedang terjadi pada generasi muda kita?

Kita tidak sedang menghakimi. Kita sedang berkabung dan belajar. Di balik anak yang terlihat ceria, aktif di sekolah, atau tersenyum di media sosial, bisa saja ada pergulatan batin yang tidak diketahui siapa pun. Tekanan akademik, masalah keluarga, perundungan, persoalan ekonomi, tuntutan sosial, dan kesepian di tengah dunia digital dapat membuat seorang remaja merasa lelah dan kehilangan harapan.

Keputusasaan tidak muncul begitu saja. Ada cara pandang dan kondisi sosial yang dapat memperparah tekanan hidup. Dua di antaranya adalah sekularisasi dan kapitalisasi.

Pertama, sekularisasi memisahkan agama dari kehidupan sehari-hari. Agama sering dipahami hanya sebagai urusan ibadah, sementara persoalan pergaulan, pendidikan, karier, kegagalan, dan masa depan dianggap harus diselesaikan sendiri. Akibatnya, ketika masalah berat datang, seseorang dapat kehilangan sandaran spiritual.

Kedua, kapitalisasi mendorong manusia untuk terus menjadi konsumen dan mesin produksi. Anak dibentuk dengan ukuran bahwa keberhasilan berarti prestasi tinggi, kampus favorit, barang bagus, atau cepat kaya. Media sosial membuat perbandingan semakin tidak ada habisnya. Kita melihat pencapaian orang lain, tetapi jarang melihat perjuangan mereka.

Akibatnya, harga diri mudah bergantung pada pencapaian. Sekali gagal, seseorang merasa dirinya gagal sebagai manusia. Kompetisi tanpa akhir melahirkan iri, minder, dan kelelahan. Di tengah banyaknya koneksi digital, seseorang justru dapat merasa tidak memiliki tempat untuk pulang.

Islam tidak menutup mata terhadap penderitaan manusia. Islam mengajarkan bahwa manusia membutuhkan hubungan kuat dengan Allah sekaligus dukungan keluarga, masyarakat, dan negara.

Pertama, menghidupkan kembali hubungan dengan Allah. Iman memberikan arah dan makna ketika hidup terasa berat. Shalat, dzikir, doa, dan membaca Al-Qur'an menjadi sarana menenangkan hati dan mengingatkan manusia bahwa dirinya tidak sendirian. Namun, ikhtiar spiritual tidak berarti mengabaikan pertolongan nyata. Orang yang tertekan tetap perlu didengar, didampingi, dan bila diperlukan mendapatkan bantuan profesional.

Kedua, membangun makna hidup yang kokoh. Islam mengajarkan bahwa kehidupan adalah ujian. Sakit, kehilangan, kegagalan, dan kesulitan bukan berarti hidup tidak bernilai. Kesabaran mengajarkan manusia untuk tetap bertahan dan berusaha. Kegagalan bukan akhir dari segalanya. Harapan harus dijaga karena rahmat Allah tidak boleh dianggap tertutup.

Ketiga, membangun sistem sosial yang saling menguatkan. Keluarga harus menjadi tempat pertama bagi anak untuk berbicara tanpa takut dihakimi. Orang tua bukan hanya pemberi perintah, tetapi juga pendengar. Sekolah dan kampus perlu menyediakan bimbingan konseling serta ruang aman. Masyarakat harus membangun budaya peduli, bukan mengejek kelemahan.

Negara juga memiliki tanggung jawab menjamin pendidikan, kesehatan, perlindungan sosial, dan lingkungan yang aman. Perundungan, eksploitasi, serta konten yang merusak harus ditangani serius. Kesejahteraan material penting karena kemiskinan dan ketidakpastian dapat memperberat tekanan hidup. 

Kematian seorang anak muda bukan hanya urusan keluarga. Ini menjadi cermin bagi kita tentang bagaimana pendidikan, keluarga, masyarakat, dan negara menjalankan tanggung jawabnya.

Diperlukan sistem yang membentuk generasi kuat secara iman, sehat secara mental, dan terlindungi secara sosial. Pendidikan harus menanamkan aqidah sekaligus karakter. Keluarga dan masyarakat harus menjadi ruang aman untuk saling menguatkan. Negara perlu menjamin kebutuhan dasar, pendidikan, kesehatan, serta perlindungan dari kekerasan dan perundungan. Sekolah juga perlu memiliki guru BK dan akses kepada tenaga profesional ketika anak membutuhkan bantuan.

Islam mengajarkan bahwa manusia tidak boleh dibiarkan berjalan sendirian. Kita perlu membangun lingkungan yang membuat anak berani berkata, "Aku sedang tidak baik-baik saja," tanpa takut dicemooh. Kita perlu belajar mendengar sebelum menasihati, merangkul sebelum menghakimi, dan menolong sebelum semuanya terlambat.

Mari menjadi generasi yang menyelamatkan, bukan menghakimi. Mari membangun keluarga, sekolah, masyarakat, dan negara yang membuat anak-anak kita merasa berharga dan memiliki masa depan.

Allah Swt. berfirman:

"...dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir." (TQS. Yusuf: 87)

Rasulullah saw. bersabda:

"Ketahuilah, pertolongan itu datang bersama kesabaran. Jalan keluar datang bersama kesempitan. Dan kemudahan datang bersama kesulitan." (HR.Tirmidzi)

Wallahu a'lam bishshawab.
Via OPINI
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Postingan Lama
Postingan Lebih Baru

Anda mungkin menyukai postingan ini

Posting Komentar

- Advertisment -
Pasang Iklan Murah
- Advertisment -
Pasang Iklan Murah

Featured Post

Kapitalisasi Masjid Istiqlal: Dana Suci Umat Digulirkan ke Meja Judi Bursa Efek

Tanah Ribath Media- Agustus 23, 2026 0
Kapitalisasi Masjid Istiqlal: Dana Suci Umat Digulirkan ke Meja Judi Bursa Efek
Oleh: Mei Widiati, M.Pd .  ( Sahabat Tanah Ribath Media ) TanahRibathMedia.Com— Masjid Istiqlal Jakarta, yang berdiri anggun sebagai simbol kemerdekaan dan keb…

Most Popular

‎Pelucutan Senjata Hamas, Makar Barat Melemahkan Palestina‎

‎Pelucutan Senjata Hamas, Makar Barat Melemahkan Palestina‎

Agustus 19, 2026
Mampukah Kurikulum Sekolah Mencegah L6BTQ?

Mampukah Kurikulum Sekolah Mencegah L6BTQ?

Agustus 15, 2026
Sejuta Sarjana Nganggur, Harusnya Pemerintah Ngatur

Sejuta Sarjana Nganggur, Harusnya Pemerintah Ngatur

Agustus 18, 2026

Editor Post

Tak Habis Pikir

Tak Habis Pikir

Juni 11, 2023
Anak Terjerat Prostitusi Online, Dimana Perlindungan Negara?

Anak Terjerat Prostitusi Online, Dimana Perlindungan Negara?

Agustus 06, 2024
Lebih dari 70 Muslimah Hadiri Talk Show Kajian Risalah Akhir Tahun 2023

Lebih dari 70 Muslimah Hadiri Talk Show Kajian Risalah Akhir Tahun 2023

Januari 01, 2024

Popular Post

‎Pelucutan Senjata Hamas, Makar Barat Melemahkan Palestina‎

‎Pelucutan Senjata Hamas, Makar Barat Melemahkan Palestina‎

Agustus 19, 2026
Mampukah Kurikulum Sekolah Mencegah L6BTQ?

Mampukah Kurikulum Sekolah Mencegah L6BTQ?

Agustus 15, 2026
Sejuta Sarjana Nganggur, Harusnya Pemerintah Ngatur

Sejuta Sarjana Nganggur, Harusnya Pemerintah Ngatur

Agustus 18, 2026

Populart Categoris

Tanah Ribath Media

Tentang Kami

Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Contact us: contact@gmail.com

Follow Us

Copyright © 2023 Tanah Ribath Media All Right Reserved
  • Disclaimer
  • Privacy
  • Advertisement
  • Contact Us