OPINI
Merawat Minat di Ruang Digital: Siasat Bekasi Mengatasi Ketertinggalan Literasi
Oleh: Ayu Lusfita A
(Sahabat Tanah Ribath Media)
TanahRibathMedia.Com—Literasi merupakan kemampuan seseorang dalam mengolah informasi sehingga dapat memahami tulisan, memudahkan dalam menulis, berpikir kritis, serta berkomunikasi. Saat ini, sayangnya Indonesia masih berada di peringkat ke-70 dari 80 negara dalam posisi global. Fakta pahit yang enggan beranjak di tengah riuhnya informasi digital saat ini.
Menurut skor PISA (Programme for International Sudent Assesment) pada tahun 2025 Indonesia memiliki skor literasi membaca 359 (termasuk dibawah rata-rata), serta menurut Badan Pusat Statistik (BPS) bersama Perpustakaan Nasional (Perpusnas), nilai rata-rata Tingkat Kegemaran Membaca (TKM) Nasional 2025 berada pada angka 54,80 poin (kategori rendah).
Dengan adanya data di atas, muncul upaya pemkot Bekasi untuk menyiapkan perpustakaan modern yang bertujuan menjadi ikon literasi pada tahun 2028 mendatang. Fasilitas yang akan dibangun tak hanya bertujuan menjadi tempat masyarakat membaca. Namun, menurut walikota Bekasi Tri ardhianto, perpustakaan modern yang akan dibangun dapat menjadi tempat pusat belajar, akses literasi digital, ruang diskusi, ruang kolaborasi masyarakat untuk meningkatkan budaya membaca serta meningkatkan kreativitas warga (Bekasiguide.com, 10-7-2026).
Perpustakaan modern tersebut akan dibangun di gedung bekas Dinas Kesehatan di jalan Jendral Sudirman, Kecamatan Kranji, Bekasi Barat. Dengan perkiraan lima lantai yang memuat banyak fasilitas, menurut Tri ardhianto Walikota Bekasi, konsep perpustakaan modern ini akan berbeda dengan perpustakaan konvensional yang hanya memuat buku-buku dan ruang membaca bagi masyarakat. Perpustakaan modern ini akan menyediakan lebih banyak fasilitas modern yang memanfaatkan teknologi, seperti studio animasi, fasilitas audio visual, ramah bagi penyandang disabilitas, hingga tersedia tempat bermain bagi anak-anak. Karena rancangan yang ada, anggaran yang dibutuhkan tak hanya cukup dengan satu tahun anggaran, tetapi butuh dua hingga tiga tahun anggaran, sehingga harapan warga bisa terwujud (Bekasi.com, 10-7-2026)
Apakah Hanya dengan Membangun Fasilitas dapat Meningkatkan Literasi?
Rendahnya angka literasi di negeri ini tak hanya bisa diselesaikan dengan membangun fasilitas semata. Gedung perpustakaan bukan satu-satunya cara untuk meningkatkan literasi di negara ini. Masalah utama bukan hanya kurangnya fasilitas, melainkan belum terbentuknya budaya membaca dan ekosistem ilmu di masyarakat. Tak hanya itu, ruang digital saat ini menjadi sebuah distraksi masif yang tentu saja memengaruhi kemampuan literasi seseorang. Pemanfaatan ruang digital yang keliru, menambah turunnya angka literasi masyarakat Indonesia khususnya generasi muda saat ini.
Literasi tak hanya cukup dimaknai sebagai kemampuan mengakses informasi seseorang. Namun, kemampuan berpikir kritis, mampu memilah dan menyerap informasi yang baik dan benar, tidak mudah termakan hoax, hingga memiliki nilai untuk memanfaatkan ilmu, merupakan makna literasi sesungguhnya yang diperlukan masyarakat. Semua kemampuan tersebut dapat diperoleh jika setiap elemen ekosistem ilmu masyarakat mendukung. Dimulai dari lingkungan keluarga, masyarakat, sekolah hingga peran pemerintah di ruang digital.
Sistem pendidikan saat ini pun harus selaras bertujuan meningkatkan literasi. Bukan hanya dengan pembangunan infrasturuktur semata yang tentunya akan memakan waktu bagi terwujudnya peningkatan literasi pada masyarakat. Pembentukan karakter yang cinta terhadap ilmu, dan budaya menghargai ilmu serta membaca harus ditumbuhkan pada masyarakat saat ini. Karena, megahnya gedung perpustakaan tak menjamin meningkatnya literasi generasi Indonesia.
Islam Membangun Ekosistem Ilmu
Dalam Islam, negara senantiasa membangun ekosistem ilmu yang bermutu. Hal ini untuk menjalankan perintah Allah Swt. dalam menajalani peran sebagai hamba-Nya. Serta menjalani perintah seperti yang disabdakan Nabi saw.: “Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah)
Untuk mewujudkan ekosistem ilmu yang bermutu, negara tak hanya membangun perpustakaan, akan tetapi negara menjamin setiap kebutuhan pendidikan. Negara dalam sistem Islam akan membangun peradaban yang mencintai ilmu, menyediakan fasilitas ilmu yang merata, menumbuhkan budaya membaca serta mendukung berbagai macam penelitian. Sehingga output pribadi yang dihasilkan akan memiliki kemampuan literasi yang mumpuni.
Selain itu, Islam menempatkan ilmu selaras dengan nilai dan akhlak seorang muslim. Pendidikan dalam Islam bertujuan menghasilkan pribadi yang berkarakter sholeh, cerdas, bepikir benar dan bertanggung jawab dalam menggunakan ilmunya. Islam menempatkan negara sebagai pendukung utama dan penggerak dalam membangun peradaban ilmu.
Sebagai contoh, pada masa kejayaan Islam pada akhir abad ke-8 Masehi, Khalifah Harun ar-Rasyid membangun Baitul Hikmah, sebuah perpustakaan yang menjadi pusat riset, observatorium, astronomi, akademi formal lembaga kedokteran serta institusional lembaga penerjemah. Perpustakaan ini dapat berdiri berawal dari perpustakaan pribadi kerajaan, hingga kemudian menjadi sebuah ruang pusat intelektual global yang melahirkan banyak ilmuan terkemuka yang ilmunya digunakan oleh para ilmuan dunia hingga kini. Salah satunya adalah Al-Khawarizmi, penemu konsep aljabar dan pencetus algoritma sebagai dasar ilmu komputer modern.
Inilah bukti bahwa dengan pemimpin Islam yang menerapkan syariat, mudahnya mewujudkan visi menjunjung tinggi ilmu, memiliki kemampuan literasi tinggi, hingga dapat menghasilkan pribadi yang bermanfaat bagi peradaban dan banyak umat manusia, bukan sekedar demi kepentingan pribadi maupun ekonomi seperti yang terjadi saat ini.
Wallahu'alam bi ash shawaab.
Via
OPINI
Posting Komentar