OPINI
Menyerahkan Pedang di Mulut Harimau: Siasat Pelucutan Senjata dan Perangkap Licik BoP di Gaza
Oleh: Prayudisti SP
(Sahabat Tanah Ribath Media)
TanahRibathMedia.Com—Gelombang siasat diplomasi yang digulirkan oleh sekutu utama entitas Zionis kembali memperlihatkan taring intrik politiknya di kawasan Timur Tengah. Berdasarkan laporan yang dilansir oleh kantor berita AFP dan dikutip oleh Detik.com (31-7-2026), Presiden AS Donald Trump secara resmi mengumumkan rencana pelucutan senjata Hamas beserta seluruh kelompok perlawanan bersenjata lainnya di Gaza. Langkah ini diklaim secara sepihak sebagai pijakan monumental menuju perdamaian dan keamanan yang langgeng. Sebagaimana diberitakan CNN Indonesia pada 31-7-2026 dan Kompas.com pada 2-8-2026, dalam skema tersebut tentara Zionis dijanjikan akan bertahap mundur setelah pelucutan senjata usai, disusul penempatan Pasukan Stabilitas Internasional yang bekerja sama dengan polisi Palestina baru. Namun realitas di lapangan berbicara lain; sebagaimana dilaporkan IDN Times pada 1-8-2026, serangan militer Zionis Israel nyatanya tetap membara dan menelan korban jiwa di Gaza, sekalipun narasi kompromi dan kesepakatan pelucutan senjata tengah dihembuskan.
Fakta empiris ini dengan telanjang membongkar bahwa agenda pelucutan senjata pejuang Palestina melalui skema Board of Peace (BoP) sejatinya merupakan siasat strategis AS dan entitas Zionis untuk melemahkan benteng pertahanan terakhir rakyat Palestina. Sayangnya, pemikiran kritis untuk menolak BoP di tengah umat belakangan ini mulai mengabur dan terkikis oleh propaganda kemanusiaan semu. Umat harus ditegaskan kembali bahwa menyetujui skema BoP dan menyerahkan senjata para pejuang sama saja dengan menyerahkan Gaza secara bulat-bulat ke dalam mulut harimau. Di saat pejuang dilucuti daya tawarnya, proyek pembongkaran dan pembangunan New Gaza terus dipacu menggunakan jaringan aktor lokal agar terlihat alamiah dan mudah diterima, diselimuti narasi hipokrit "demi penyelamatan warga Gaza"—sebuah retorika usang yang patut dipertanyakan: mengapa kepedulian itu tidak pernah ada sejak awal pembantaian?
Pelucutan senjata sekali lagi terbukti bukanlah solusi hakiki bagi perdamaian, keamanan, apalagi pembebasan Gaza. Penjajahan, perampasan tanah, serta praktik genosida oleh entitas Zionis tidak akan pernah surut hanya karena lembar perundingan diplomasi. Begitu pula keberadaan Pasukan Stabilitas Internasional; kehadiran mereka sama sekali tidak dirancang untuk membebaskan tanah Palestina dari belenggu penjajahan, melainkan menjadi tameng pengaman bagi kepenting geopolitik AS dan legitimasi pendudukan Zionis dengan gaya baru.
Di dalam pandangan Islam, kompromi yang melucuti daya jihad menghadapi penjajah adalah keharaman dan kekeliruan fatal. Allah Swt. telah memperingatkan kecenderungan musuh-musuh Islam dalam Al-Qur'an:
"Orang-orang kafir ingin agar kamu lengah terhadap senjatamu dan harta bendamu, lalu mereka menyerbu kamu sekaligus..." (TQS. An-Nisa: 102)
Rasulullah saw. juga menegaskan dalam hadis riwayat Imam Abu Dawud mengenai martabat dan kehormatan membela diri serta tanah air dari kezaliman:
"Barangsiapa yang terbunuh karena mempertahankan hartanya (atau tanahnya) maka ia adalah syahid, dan barangsiapa yang terbunuh karena mempertahankan agamanya maka ia adalah syahid." (HR. Abu Dawud)
Oleh karena itu, konstruksi pemikiran dan aksi umat harus diarahkan pada empat pilar mendasar. Pertama, menyadarkan seluruh komponen umat Islam akan bahaya persekongkolan AS dan entitas Zionis yang tiada henti memproduksi rancangan baru demi melanggengkan penjajahan di bumi Palestina. Kedua, mendorong lahirnya gelombang koreksi dan kritik tajam atas pengkhianatan para penguasa negeri-negeri Muslim yang justru bersekutu, tunduk, serta memfasilitasi agenda BoP buatan AS.
Ketiga, menggalang kesadaran politik umat untuk terus berjuang secara terorganisir menyatukan seluruh negeri-negeri Muslim di bawah satu kepemimpinan global yang syar'i, yakni Khilafah Islam. Keempat, meyakinkan seluruh umat bahwa Palestina tidak akan pernah bebas melalui belas kasihan lembaga internasional atau meja runding musuh, melainkan baru akan terbebas secara mutlak ketika tentara kaum muslimin bergerak di bawah komando Khalifah untuk membebaskan Al-Quds.
Sejarah kekhalifahan Islam telah mengukir bukti otentik bagaimana Al-Quds dan Palestina diperlakukan. Ketika Panglima Salahuddin Al-Ayyubi membebaskan Jerusalem pada tahun 1187 M dari cengkeraman Pasukan Salib, beliau tidak bertumpu pada diploma kompromi yang melucuti kekuatan pasukannya. Salahuddin menghimpun persatuan militer dan kekuatan politik kaum muslimin dari Mesir hingga Syam, lalu bergerak mengusir penjajah dengan ketegangan fisik dan ketegasan prinsip. Kemerdekaan tanah Al-Quds kala itu diraih bukan dengan menyerahkan senjata, melainkan dengan menyatukan barisan militer di bawah panji Islam yang berwibawa.
Sudah saatnya umat Islam membuang jauh-jauh ilusi perdamaian buatan musuh. Hanya dengan pembongkaran topeng diplomasi BoP dan penyatuan potensi militer umat di bawah naungan Khilafah, kemerdekaan sejati bagi Gaza dan seluruh bumi Palestina dapat terwujud secara nyata.
Via
OPINI
Posting Komentar