OPINI
Alarm Genting Ekonomi
Oleh: Sepfani Haisa Putri
(Pendidik Generasi)
TanahRibathMedia.Com—Kesulitan ekonomi yang kian menghimpit membuat banyak masyarakat semakin menjerit. Hal ini menyebabkan sebuah fenomena di mana masyarakat yang dulunya memakan hasil tabungan kini mulai bergeser ke kelas masyarakat menengah ke bawah yang bertahan dengan utang alias makan utang bukan lagi makan tabungan. Berdasarkan data tahun 2024 menunjukkan kelas menengah menurun dari 57,3 juta menjadi 47,85 juta yang disertai dengan melemahnya daya beli masyarakat dan meningkatnya tekanan ekonomi.
Jika kita lihat pada data OJK pada layanan pinjaman online (pinjol) di tahun 2026 bulan Februari jumlahnya sudah mencapai 100,69 T. Jumlah ini naik 25,75 %. Data yang sama dengan ini bisa kita lihat pada pertumbuhan layanan paylater yang juga mengalami pertumbuhan sebesar 86,7%. Artinya, jumlah utang yang dilakukan masyarakat Indonesia untuk memenuhi kebutuhan konsumsinya melesat tinggi dan ini menandai kondisi masyarakat tidak bisa lagi memenuhi kebutuhan konsumsinya dari tabungan disebabkan tabungan sudah tidak ada sehingga mereka harus memenuhi kebutuhan sehari-harinya dari berhutang.
Tidak hanya itu, masyarakat juga dilema dengan kenaikan harga-harga barang dan kenaikan BBM akan berdampak buruk di masyarakat. Pengeluaran keluarga akan semakin besar. Dunia industri dan UMKM juga akan mengalami kesulitan karena kenaikan harga bahan baku, kemasan dan logistik. Hal ini bisa berdampak kepada kelesuan ekonomi dan berujung kepada PHK massal yang semakin menekan ekonomi masyarakat. Ditambah lagi adanya pemadaman listrik yang terjadi di kota medan juga menambah kesulitan ekonomi di masyarakat. Pemadaman listrik ini di perkirakan berlangsung hingga 14 Juni sebagai bagian dari pemeliharaan (11 juni 2026 Kompas.com). Namun akibat dari pemadaman listrik banyak masyarakat yang mengalami kerugian seperti pabrik yang tidak bisa beroperasi, para peternak ayam mengalami kerugian cukup besar akibat dari pemadaman listrik, para pedagang jus, es dan ibu rumah tangga juga terkena imbasnya. Lagi-lagi masyarakat selalu menjadi korban masalah ekonomi ini.
Di sisi lain tekanan nilai tukar rupiah yang melemah atas dolar hingga menembus Rp.18.000 pada 3 juni 2026 akibatnya secara otomatis akan mempengaruhi kondisi perekonomian didalam negeri.
Akibat Penerapan Sistem Ekonomi Kapitalis
Kondisi ini terjadi karena Indonesia dan dunia umumnya menerapkan sistem ekonomi kapitalisme. Dalam sistem ekonomi kapitalisme yang paling menonjol justru kepemilikan individu. Bahkan kepemilikan negara dapat diubah menjadi kepemilikan individu dengan cara privatisasi. Inilah yang menjadi sebab utama mengapa peraturan tentang SDA dan energi semua mengarah pada privatisasi yang berakibat pada penguasaan SDA dan energi oleh swasta bahkan pihak asing. Selain itu, ketidakstabilan moneter yang berdampak pada munculnya berbagai persoalan ekonomi terjadi karena adanya faktor pemicu terjadinya krisis keuangan dan berdampak pada krisis ekonomi yakni persoalan mata uang dan sistem keuangan(moneter) yang sangat spekulatif dan penuh rente. Yang menambah karut marut ekonomi Indonesia saat ini adalah ketidakberpihakan pemerintah dan Legislatif kepada rakyat. Hal ini tercermin dalam pembuatan peraturan dan perundangan. Lihatlah UU Minerba, UU PMA, UU SDA, UU Cipta Kerja, dll yang jelas-jelas tidak berpihak pada kepentingan rakyat. Semuanya berpihak pada kepentingan pihak swasta pemilik modal bahkan pihak asing. Kondisi ini diperparah dengan tingginya kejahatan ekonomi seperti korupsi, kolusi, suap dan kejahatan lainnya. Semua ini menambah derita rakyat dan makin membuat karut marut ekonomi Indonesia.
Mengapa sistem ekonomi kapitalis bisa menyebabkan kegentingan ekonomi? Hal ini disebabkan oleh beberapa mekanisme utama, yaitu: pertama, sistem monopoli dan oligopoli dimana kebebasan pasar yang diagungkan kapitalisme sering kali menciptakan pemusatan kekayaan pada segelintir korporasi besar (kartel/monopoli). Hal ini mematikan persaingan sehat, memicu lonjakan inflasi dan menyebabkan pengangguran
Kedua, ketergantungan pada sektor ribawi (nonriil) yaitu kapitalisme mengandalkan sistem bunga (riba) dalam instrument keuangannya. Hal ini menciptakan ilusi pertumbuhan ekonomi dan memicu praktik spekulasi (seperti di pasar saham dan derivatif), yang sangat rawan memicu gelembung ekonomi hingga memicu krisis
Terakhir, yaitu kesenjangan kekayaan yang ekstrim dikarenakan modal berpusat pada pemilik modal(kapitalis), jurang pemisah antara si kaya dan si miskin sangat besar. Ini menghambat daya beli masyarakat kelas bawah dan memicu ketidakstabilan sosial. Di sisi lain, kemandirian ekonomi merupakan keharusan bagi sebuah negara walaupun impor terasa mudah dilakukan namun kemandirian ekonomi akan menjadikan negara tetap bertahan saat terjadi keguncangan global.
Sistem kapitalisme menjadikan Indonesia sebagai negara pengikut yang lemah dan tergantung pada impor dari negara-negara lain, terutama negara besar seperti AS, Cina dan Rusia Bahkan dalam urusan pangan pun kita belum mampu mandiri.
Padahal Indonesia memiliki keunggulan SDA. Indonesia memiliki keanekaragaman hayati, tanah yang subur, dan beraneka macam sumber energi sehingga jika dikelola dengan baik akan mampu mencukupi kebutuhan setiap warga. Namun sayangnya, negara kita diisi para pejabat yang tidak memiliki visi negarawan namun pejabat yang asal asbun, serta enggan membina dan mengurusi petani sehingga hasil produksi pertanian tidak mencukupi kebutuhan dan harus impor. Impor menjadi aktifitas yang lebih disukai karena mendatangkan keuntungan bagi mereka. Akibatnya Negara terus menerus tergantung kepada impor. Ini merupakan wujud penjajahan. Negara besar sebagai kekuatan ekonomi menanamkan pola ketergantungan pada Indonesia terhadap modal, teknologi dan pasar dari Negara maju. Hal ini menghambat kemandirian ekonomi dan membatasi ruang gerak Indonesia dalam kancah global.
Dunia Membutuhkan Tatanan Ekonomi Global Baru
Tatanan ekonomi global dunia yang baru yang hanya bisa disediakan oleh Islam dan hanya dapat dilakukan oleh sebuah negara islam, yaitu Khilafah. Tatanan ekonomi Dunia Islam akan mengutamakan pemerataan ekonomi dan menghilangkan kesenjangan, menolak pinjaman berbunga, menggunakan emas (dinar) dan perak (dirham) sebagai mata uang, menggunakan mata uang sendiri dalam perdagangan internasional dan transaksi bersama serta mencegah adanya praktik perdagangan yang spekulatif.
Khilafah inilah yang akan mengakhiri dominasi dolar, menolak institusi penjajahan seperti IMF dan Bank Dunia dan menyatakan minyak, gas, dan pembangkit listrik sebagai milik publik. Khilafah akan menegakkan tatanan ekonomi revolusioner ini di dunia. Allah Swt. telah menganugerahkan wilayah kaum muslim dengan kekayaan sumberdaya alam yang berlimpah dan beraneka ragam. Jalur laut, darat dan udara utama untuk perdagangan internasional melewati wilayah negeri-negeri islam. Diatas segalanya, umat islam memiliki harta berupa iman. Dengan iman itulah umat islam dapat meruntuhkan tatanan ekonomi kapitalis yang eksploitatif saat ini.
Oleh karena itu, umat islam harus berusaha dengan segenap kemampuannya untuk mencabut tatanan ekonomi kapitalis yang menindas, eksploitatif dan tidak adil ini, seraya memastikan penerapan satu-satunya agama yang haq di hadapan Allah Swt. Itulah islam. Tentu dengan menegakkan kembali khilafah yang berjalan kokoh di atas metode kenabian.
Wallahu a'lam bishshowab.
Via
OPINI
Posting Komentar