Motivasi
Tidak Ada Jawaban Doa yang Tertunda
Oleh: Kartika Soetarjo
(Sahabat Tanah Ribath Media)
TanahRibathMedia.Com—Lama sudah jari-jari perempuan itu diam. Pena yang selama ini menjadi teman setianya, kini seakan menjaga jarak. Entah mungkin tinta inspirasinya yang mengering, atau mungkin ia hanya ingin jeda sejenak. Dulu, mentari pagi selalu ia jadikan inspirasi, terik siang selalu ia jadikan ide cemerlang, dan heningnya malam selalu ia jadikan teman dalam kesendirian ketika ia memainkan drama aksara-aksaranya yang selalu tampil di atas panggung pikiran.
Namun, lama sudah inspirasi tak kunjung bertamu. Walau dengan sabar ia menunggu, inspirasi itu seakan beku enggan bertemu. Jemari yang dulu lincah memoles setiap kalimat yang ia gores, kini seakan kaku. Tinta yang setia memeluk kata yang ia ukir, seakan berhanti mengalir. Riak aksara pun seakan sirna. Siang itu, ada rindu menyeruak dalam rasa perempuan itu. Rindu tersenyum bersama bait-bait kisah yang kerap ia tenun, rindu bercengkrama dengan irama keyboard dalam setiap paragraf cerita yang ia renda, dan rindu menebar wangi bunga-bunga karya kepada dunia.
Perlahan, keyboard yang berdebu itu ia sentuh. Dengan hati yang dijaga, jemarinya yang lama terdiam itu mulai mengetik huruf demi huruf, menata kata, menyusun aksara, meluapkan rasa yang lama penuh sesak di rongga, untuk dijadikan carik-carik jalan hidupnya. Ia teringat akan hari-hari yang telah ia lalui, di mana ia harus menelan pil pahit kegagalan demi kegagalan. Doa yang serasa akan menjadi kenyataan, doa yang nyaris berlabuh di dekapan sebagai jawaban, tapi Allah mengurungkan, seakan Dia mengatakan: "Ini jalan yang salah".
Tak patah arang. Dengan keyakinan yang kuat ia mulai lagi mencari jalan lain, dan berdoa tanpa jeda. Namun lagi-lagi, senyuman yang nyaris tersungging sebagai jawaban dari semua harapan, kembali memudar, meninggalkan gumpalan kesal di ruang batinnya. Sejak saat itu, ia terjebak dalam penantian panjang yang tak kunjung ada jawaban. Doa-doanya seakan hampa menggantung di langit-langit sepi tanpa kepastian, tanpa suara. Semua itu menuntunnya untuk melonggarkan jemarinya dari genggaman.
"Terserah Engkau ya Allah, aku pasrah, aku lelah", gumamnya, di atas sajadah.
Ia pun bangkit, bukan hanya bangkit dari sujudnya, tapi bangkit dari penantiannya. Ia tak lagi menunggu hasil dengan diam. Hatinya tak lagi terpaku pada satu bentuk jawaban doa, tapi terus berjalan mengikuti alur Rabb-nya. Justru di balik kepasrahan itu, ketika ia tidak lagi menuntut waktu, Allah membuktikan segala kuasa-Nya. Doa-doanya yang dulu seakan menggantung tanpa suara, kini satu per satu menjelma menjadi kenyataan. Bahkan lebih indah dari apa yang ia bayangkan.
Kini, ia menyadari, bahwa teka-teki hidupnya yang selama ini membuat ia berhenti menulis, hanyalah cara Allah menyembunyikan kejutan besar yang akan Dia berikan. Dari jalan hidup perempuan itu kita belajar tiga hal.
Pertama, usaha dan doa adalah dua hal yang saling bertautan. Namun, keduanya hanyalah kewajiban, serta sarana kita menuju ridha Allah Ar-Rahman. Jangan sekali-kali menjadikan kedua hal tersebut sebagai sandaran utama dalam kehidupan, atau menjadikan tolok ukur sebuah keberhasilan. Usaha dan doa adalah reaksi kita, sedangkan keberhasilan, hanya Allah yang memiliki hak cipta.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Rasulullah saw. telah bersabda:
"Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan, dan ketahuilah bahwa Allah tidak akan mengabulkan doa dari hati yang lalai." (HR At-Tirmidzi)
Jika upayamu terbentur lelah, dan doa belum juga diijabah, maka berserah adalah reaksi terindah.
Kedua, tidak ada jawaban doa yang tertunda, apalagi tidak dikabulkan, hanya saja waktu yang menjadi rahasianya. Allah lebih mengetahui kapan kita pantas menerima jelmaan semua doa.
Jika doa-doa belum juga menjadi nyata, itu bukan pertanda Allah tak cinta. Jika semua pinta belum juga Allah beri, bukan berarti Allah benci. Hanya saja, Allah ingin tahu, seberapa lama kita sabar menunggu. Allah ingin tahu sampai mana kita lembut terus merayu.
Karena jika sekali pinta langsung Allah beri, Allah tahu, kita akan pergi. Jika sekali doa langsung nyata, Allah tahu kita akan jumawa, dan jika sekali mendamba langsung menjelma, Allah tidak mau kita merasa mulia. Allah pun dengan segala kelembutannya telah membelai kita dalam firman-Nya:
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (TQS, Al-Bqarah: 216).
Ketiga, tentang menunggu. Menunggu adalah hal yang membosankan. Tak jarang, marah selalu menyerang ketika yang ditunggu terlambat datang. Itu terjadi jika kita menunggu sambil diam. Tapi cobalah menunggu sambil berjalan! Maka tanpa kita sadari yang kita tunggu ternyata sudah di depan.
Menunggulah sambil berzikir, bersabar, dan sambil melangkah menjalani kehidupan ini dengan ringan, seolah langkah tanpa beban, serta terus berusaha memantaskan diri untuk menerima sesuatu yang pantas kita terima. Entah itu menunggu seseorang, menunggu pesanan datang, atau mungkin yang paling krusial, yakni menunggu doa-doa menjadi kenyataan.
Sahabat, ada sedikit kutipan dari manisnya tulisan Nadirsyah Hosen.
"Doa tidak datang cepat dengan jawaban "ya" yang tergesa, juga tidak datang terlambat dengan jawaban "tidak" yang mematahkan. Ia disimpan rapi oleh Allah Swt. untuk menguji sampai mana kita bertahan dalam bosannya penantian. Namun, ketika kita sudah diam dalam rasa lelah yang selalu menyelinap tanpa permisi, doa itu datang dibalut oleh kalimat suci dari Illahi. "Kun Fayakun".
Wallahu alam bishshawwab.
Kembang Kenangan, 20 Juni 2026
Via
Motivasi
Posting Komentar