IBRAH
Kita Punya Keinginan, Tapi Allah Punya Ketetapan
Oleh: Umi Syahidah
(Sahabat Tanah Ribath Media)
Hamdan wa Syukron lillah, Sholawat atas Rasullullah.
TanahRibathMedia.Com—Tersebutlah kisah, perjalanan hidup yang di alami beberapa orang dan saya sajikan sebagai bahan tulisan pada pembahasan kajian malam hari ini. Semoga Allah memberikan Taufiq kepada kita bisa mengambil ibrah dari kisah-kisah tersebut.
Si Fulanah, setelah lulus kuliah. Ia hijrah ke kota untuk mencari pekerjaan. Ia bersemangat melamar pekerjaan di beberapa perusahaan, berharap di terima di salah satunya, tapi selang beberapa lama belum juga ada panggilan kerja.
Sedangkan si Fulan, setelah lulus SMK berharap bisa kuliah di kampus dan prodi impian, ternyata jalannya terganjal karena tidak lolos UTBK, teman-temannya yang lain juga bernasib sama. terpaksa bekerja untuk melanjutkan hidup sambil mempersiapkan seleksi tahun berikutnya. Sementara si Fulanah, tahun ini telah berumur 33 tahun, berharap segera menemukan jodoh terbaik. Ia bermimpi punya kehidupan pernikahan impian seperti kebanyakan teman- temannya, tapi sampai detik ini belum nampak hilal jodohnya.
Pasutri ini lain lagi ceritanya, setelah menikah puluhan tahun. Berharap punya momongan tapi tak juga kunjung terkabul. Sementara pasutri yang lain, yang sedang di uji ekonomi, berharap ekonominya membaik. Eh Allah uji dengan kabar kehamilan yang sebenarnya tidak mereka harapkan. Beda cerita dengan si mbak yang pernikahannya harus berakhir karena suaminya menceraikannya setelah kepincut dengan teman sekolahnya dahulu.
Begitulah, macam-macam cerita orang yang menunjukkan kepada kita bahwa kadang manusia menginginkan sesuatu, tapi Allah memberikan yang lain yang bertentangan dengan keinginan manusia. Bagaimana Islam memandang hal tersebut?
Maha benar Allah Swt. yang telah berfirman dalam
Surat Al-Baqarah ayat 216:
كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تَكْرَهُوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
Artinya: “Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
Ayat di atas menjelaskan tentang kewajiban berjihad (dalam makna syara' jihad artinya qital atau berperang). Allah Swt. sangat tahu jika manusia pada dasarnya tidak menyukai berperang, tapi ketika datang perintah berperang dari Allah Swt. dan Rasulnya maka kewajiban itu tetap wajib di laksanakan meskipun manusia tidak menyukainya.
Demikian juga tentang keinginan manusia, kadang manusia ingin A tapi Allah kasih B, manusia ingin B tapi Allah kasih C, manusia ingin C tapi Allah kasih A dan seterusnya.
Apakah manusia harus kecewa dengan sesuatu yang Allah tetapkan?
Allah Swt. Memberikan yang Kita Butuhkan
Ayat di atas juga menjelaskan bahwa sejatinya manusia tidak tahu apa-apa tentang dirinya, manusia di berikan oleh Allah Swt. akal, tapi akal manusia punya keterbatasan. Manusia pada dasarnya tidak mengerti apa yang baik dan apa yang tidak baik untuk dirinya. Maka, Ketetapan Allah sejatinya adalah yang manusia butuhkan, meskipun itu tidak sesuai dengan keinginannya.
Ketetapan Allah adalah yang Terbaik
Manusia dengan segala keterbatasannya sejatinya tidak mampu memahami apa yang terbaik bagi dirinya, Allah Swt. sebagai Al-Khaliq (yang Maha Menciptakan) Yang Mahatahu apa yang terbaik untuk manusia.
Manusia dianugerahi kemampuan untuk merangkai mimpi dan berusaha, namun pada akhirnya keputusan mutlak tetap berada di tangan Allah. Islam mengajarkan mengajarkan kita untuk senantiasa ikhlas dan berhusnudzan (berbaik sangka) bahwa ketetapan Allah pasti adalah yang terbaik, sekalipun tidak sesuai dengan harapan awal kita. Pemahaman ini memberi kita ketenangan batin. Saat keinginan kita belum terwujud, kita memahami bahwa Allah sedang menyiapkan sesuatu yang lebih besar atau sedang melindungi kita dari hal yang kurang baik. Tugas kita hanyalah memaksimalkan ikhtisar dan berdoa, lalu menyerahkan hasilnya dengan senantiasa tetap tawakal penuh kepada Allah Swt.
Kadang-kadang manusia mengukur sesuatu itu baik jika itu bermanfaat untuk dirinya, maka manusia mengira sesuatu yang tidak bermanfaat itu sebagai sesuatu yang tidak baik. Misalnya pada contoh kasus di atas: manusia mengira mendapatkan pekerjaan, masuk kampus dan prodi impian, mendapatkan jodoh , punya momongan, ekonomi membaik, tidak bercerai di pandang baik karena bermanfaat dan sesuai keinginan.
Islam mengajarkan bahwa sesuatu itu baik, Sesuatu itu berkah jika Ziyadatul Khoir bagi kita. Ziyadatul Khoir yakni bertambahnya kebaikan pada diri kita. Ketetapan Allah Swt. yang kadang bertentangan dengan keinginan kita adalah ujian dari Allah, jika dengan ujian itu menambah kebaikan kita di sisi Allah, maka itulah berkah.
Jika tidak mendapatkan pekerjaan, tidak masuk prodi dan kampus impian, belum bertemu jodoh, belum punya momongan, kehamilan saat ekonomi belum baik tapi itu semakin mendekatkan diri kita pada Allah, maka sejatinya itu keberkahan yang Allah hadirkan di tengah ujian. Begitulah adek-adek muslimah shalihah, hidup itu sejatinya adalah ujian demi ujian, kita menapaki satu ujian ke ujian yang lain.
Maha benar Allah SWT yang telah berfirman dalam Surat Al-‘Ankabut Ayat 2
أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتْرَكُوٓا۟ أَن يَقُولُوٓا۟ ءَامَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ
Artinya: “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?”
Wallahu a'lam bishshawwab.
Via
IBRAH
Posting Komentar