OPINI
Tangis Relawan di Tengah Brutalnya Zionis
Oleh: Poppy Kamelia P.B.A (Psych), S.Sos, CBPNLP, CCHS, CCLS, CTRS.
(Pelatih Parenting Islam, Konselor dan Terapis Kesehatan Mental, Penulis, Pegiat Dakwah)
TanahRibathMedia.Com—Dunia kembali dipaksa menyaksikan wajah paling brutal dari penjajahan Zionis atas Palestina. Kali ini, kekerasan tidak hanya menimpa rakyat Gaza yang selama bertahun-tahun hidup di bawah bom, blokade, dan kelaparan, tetapi juga para aktivis kemanusiaan yang datang membawa solidaritas. Penyelenggara Global Sumud Flotilla 2.0 mengungkap sedikitnya 15 kasus kekerasan seksual, termasuk pemerkosaan, yang dilakukan militer Israel terhadap relawan kemanusiaan yang ditahan. Sebagian korban ditembak dengan peluru karet dari jarak dekat, sementara puluhan lainnya mengalami patah tulang akibat kekerasan brutal yang mereka alami (Aljazeera.com, 22-5-2026).
Kesaksian para relawan yang berhasil dibebaskan meninggalkan luka mendalam bagi nurani manusia. Aktivis warga negara Indonesia peserta misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla mengaku dipukuli, disetrum, dihina, bahkan diteriaki sebagai teroris selama berada dalam tahanan militer Israel (Inews.id, 21-5-2026). Pemerintah Kanada juga menerima laporan mengenai perlakuan mengerikan yang dialami warganya, sementara Jerman dan Spanyol mengonfirmasi adanya relawan yang mengalami cedera serius (BBC.com, 22-5-2026).
Peristiwa ini menunjukkan bahwa kekejaman Zionis telah mencapai titik yang nyaris tanpa batas. Aktivis kemanusiaan yang seharusnya dilindungi dalam hukum perang internasional justru diperlakukan secara tidak manusiawi. Bahkan perempuan relawan menjadi korban kekerasan seksual yang begitu biadab. Ini bukan sekadar pelanggaran hukum perang, tetapi bentuk dehumanisasi yang lahir dari watak kolonialisme modern yang merasa dirinya kebal hukum dan bebas melakukan apa saja terhadap siapa pun yang membela Palestina.
Kejahatan tersebut tidak berdiri sendiri. Israel mampu bertindak represif karena adanya perlindungan politik, militer, dan diplomatik dari negara-negara Barat. Dukungan ini melahirkan impunitas, yaitu kondisi ketika pelaku kejahatan merasa aman dari hukuman. Selama bertahun-tahun dunia menyaksikan bagaimana Israel membombardir Gaza, membunuh anak-anak, menghancurkan rumah sakit, menargetkan jurnalis, dan memblokade bantuan kemanusiaan tanpa hukuman berarti. Kini, bahkan relawan kemanusiaan internasional pun menjadi sasaran kekerasan.
Fakta ini memperjelas bahwa hukum internasional hari ini tidak benar-benar netral. Sistem internasional yang dibangun negara-negara besar justru sering menjadi alat menjaga kepentingan geopolitik mereka. Ketika pelanggaran dilakukan oleh negara yang dilindungi kekuatan Barat, maka hukum menjadi tumpul dan keadilan kehilangan makna. Sebaliknya, siapa pun yang mencoba melawan penjajahan Palestina akan dengan mudah dicap ekstremis atau teroris.
Padahal para relawan Global Sumud Flotilla datang bukan membawa senjata. Mereka membawa bantuan kemanusiaan dan solidaritas bagi rakyat Gaza yang kelaparan akibat blokade panjang. Namun keberpihakan kepada Palestina dianggap ancaman oleh Zionis dan sekutunya. Karena itu, segala bentuk dukungan terhadap Gaza berusaha dibungkam dengan intimidasi dan kekerasan agar dunia takut membela Palestina.
Yang lebih menyakitkan, tragedi ini juga menjadi tamparan keras bagi para penguasa negeri-negeri Muslim. Di saat relawan sipil dari berbagai negara rela mempertaruhkan nyawa demi membantu Gaza, banyak negeri Muslim justru memilih diam dan tetap tunduk pada tekanan politik internasional. Tidak ada langkah nyata untuk menghentikan penjajahan. Tidak ada pengerahan kekuatan militer untuk melindungi rakyat Palestina. Padahal Gaza terus dihancurkan, rakyatnya diblokade, dan para aktivis kemanusiaan diperlakukan secara brutal.
Diamnya penguasa Muslim menunjukkan bagaimana nasionalisme telah memecah belah umat Islam. Negeri-negeri Muslim lebih sibuk menjaga kepentingan politik masing-masing daripada melindungi saudara seiman yang ditindas. Ukhuwah Islamiah yang dahulu menjadikan kaum Muslim sebagai satu tubuh kini terkikis oleh batas negara dan kepentingan rezim. Akibatnya, Palestina dibiarkan menghadapi penjajahan sendirian di tengah dunia Islam yang tercerai-berai.
Islam memiliki pandangan yang sangat berbeda dalam persoalan perang dan perlindungan manusia. Dalam syariat Islam, perempuan, anak-anak, orang tua, tenaga medis, dan aktivis kemanusiaan yang bukan kombatan wajib dilindungi. Kehormatan mereka haram dilanggar. Bahkan dalam peperangan sekalipun, Islam menetapkan aturan yang menjaga kemanusiaan dan melarang tindakan brutal terhadap warga sipil. Negara Islam akan menegakkan hukum perang berdasarkan syariat, bukan berdasarkan kepentingan politik dan standar ganda seperti hari ini. Keselamatan warga sipil dan relawan kemanusiaan akan dijaga, sementara pelaku kejahatan perang dihukum secara tegas tanpa pandang bulu. Negara juga tidak akan membiarkan penjajahan berlangsung bertahun-tahun tanpa perlawanan nyata.
Islam memandang akar masalah Palestina bukan sekadar krisis kemanusiaan, tetapi penjajahan yang dipelihara sistem global kapitalisme. Selama entitas Zionis tetap berdiri di atas tanah Palestina dengan dukungan Barat, maka genosida dan penindasan akan terus terjadi. Karena itu, solusi hakiki bagi Palestina tidak cukup hanya dengan bantuan kemanusiaan atau diplomasi yang lemah. Pembebasan Palestina membutuhkan jihad untuk mengusir penjajah dan mengembalikan seluruh tanah Palestina kepada kaum Muslimin. Untuk itulah umat Islam membutuhkan kepemimpinan Islam yang menyatukan kekuatan kaum Muslimin dalam satu institusi politik yang kuat. Khilafah akan menjadi junnah, perisai bagi kaum Muslimin dan pelindung bagi tanah-tanah Islam yang dijajah.
Tragedi yang dialami para aktivis Global Sumud Flotilla seharusnya membuka mata dunia bahwa kejahatan Israel telah melampaui batas kemanusiaan. Ketika relawan kemanusiaan diperkosa, dipukuli, dan disiksa hanya karena membela Palestina, maka sesungguhnya dunia sedang menyaksikan runtuhnya peradaban yang mengaku menjunjung tinggi hak asasi manusia. Palestina tidak membutuhkan belas kasihan dunia yang hanya hadir dalam pidato dan kecaman. Palestina membutuhkan pembebasan yang nyata. Dan itu tidak akan lahir dari sistem kapitalisme global yang sejak awal menjadi pelindung penjajahan, tetapi dari kebangkitan umat Islam di bawah kepemimpinan Islam yang mampu menghentikan kezaliman hingga ke akarnya.
Wallahu a’laam bisshawaab.
Via
OPINI
Posting Komentar