Nafsiah
Takut Terlihat Tertinggal
Oleh: Faidah Alfiyah Muslimin
(Sahabat Tanah Ribath Media)
TanahRibathMedia.Com—Kita sering buru-buru jalan, kelihatannya memang maju tapi faktanya kita malah lebih jauh meninggalkan diri sendiri. Kita belum meyakini apa tujuan kita dan apa yang akan kita kejar, kebanyakan dari langkah kita adalah takut tertinggal dari pencapaian orang lain. Dan ternyata yang paling melelahkan adalah mengejar yang tidak kita butuhkan, lelah iya, mungkin juga mengakibatkan mudharat bagi diri kita.
Allah Swt. berfirman dalam QS Adz-Dzariyat ayat 56:
ÙˆَÙ…َا Ø®َÙ„َÙ‚ْتُ الْجِÙ†َّ ÙˆَالْاِÙ†ْسَ اِÙ„َّا Ù„ِÙŠَعْبُدُÙˆْÙ†
Artinya: “Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.”
Dikatakan di sana bahwa Allah menciptakan segala sesuatu tidak ada tujuan lain untuk beribadah dan mencari Ridho Dunia dan akhirat.
Tidak ada larangan untuk kita sukses, kaya dan menjadi terkenal. Justru ketika kita mencapai kesuksesan di dunia ada campur tangan Allah di dalamnya, ada jalan dan tujuan untuk mencapai sukses. Dan apakah kesuksesan itu sesuai dengan syariat atau tidak? Bahkan saat barometer dari sukses pun bukan lagi bersumber dari syariat, terukur dengan pencapaian orang lain. Di usia muda sudah berhasil membeli mobil, rumah, tanah, gadget terbaru dan masih banyak lagi dalam segi materi. Belum lagi ketika kita disuguhkan bermacam destinasi wisata, fashion, kuliner yang bervariatif dengan gaya hidup anak muda zaman now dengan kebiasaannya nongkrong di kafe.
Begitulah gaya Hedon dari kebanyakan orang saat ini, ketika memang malu terlihat tertinggal mereka justru berlomba lomba untuk mengikuti di luar kemampuannya. Tidak sedikit dari kita bahkan dengan sengaja mengajukan pinjol , pembaruan paylater dengan persyaratan yang semakin di permudah oleh marketplace.
Problematika di Era digital inilah yang kita kenal dengan 7 of destroyer, fun (kesenangan sesaat), food (makanan yang banyak mengandung bahan berbahaya dan menurunkan anti body pada tubuh) , fashion (gaya berpakaian yang jauh dari batas kesopanan dan dengan sengaja memperlihatkan aurat) , fame (haus popularitas/ ingin viral), fortune (mengejar kekayaan tanpa batas), freedom (kebebasan tanpa arah) , fear (ketakutan yang mengendalikan: takut gagal atau takut miskin).
Jelaslah sudah masyarakatnya telah di didik dengan kefomoan, hedonisme yang menjadikan mereka bersifat konsumtif. Bahkan negara dengan sadar, sengaja, dan tersistem mendukung sistem ribawi seperti paylater, pinjam yang konon kabarnya diawasi oleh Ojk serta pinjaman-pinjaman lain yang di bawah pengawasan Bank Nasional ataupun swasta.
Apalagi yang kita harapkan dari sistem seperti ini? Bukankah Allah dengan jelas mengharamkan riba di Al Baqarah ayat 275. Bahkan menjelaskan secara gamblang, orang-orang yang terjerat riba seperti orang yang kesurupan setan. Hidupnya tidak tenang selalu cemas, tidak tenang karena dihantui dengan jatuh tempo angsuran, beban bunga, denda bahkan sampai harus berhadapan dengan mata elang.
Bisa jadi kita bangga memakai pakaian, menenteng Hp ter-upgrade, memakai sepatu dan tas branded. Tapi apa dengan itu semua bisa menutupi betapa gundahnya hati kita ketika dihadapkan jatuh tempo paylater atau angsuran cicilan bank beserta denda bunganya? Gali lubang tutup lubang begitulah seterusnya, bukankah Allah berfirman dalam QS At Takatsur ayat 1:
Ø£َÙ„ْÙ‡َاكُÙ…ُ التَّÙƒَاثُرُۙ
“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu.”
Kembali pulang pada syariat, meyakinkan bahwa sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Sebagai seorang muslim yang hidup di jaman neo imperialisme ini patutlah kita menelaah Al-Quran dan Sunnah sebagai rujukan menjalani kehidupan yang semakin sempit ini, serta berkumpul dengan orang orang yang selalu mengingatkan dalam kebaikan. Karena circle-mu saat ini menentukan perjalanan hidupmu. Yakinkan apa yang saat ini kita inginkan adalah kebutuhan bukan karena fomo atau hanya ingin dinilai orang lain modis dan ter-update.
Wallahua'alam bish showab.
Via
Nafsiah
Posting Komentar