Editorial
Kepemimpinan yang Bertanggung Jawab di Hadapan Allah
Oleh: Nai Ummu Maryam
(Pemred Tanah Ribath Media)
TanahRibathMedia.Com—Jabatan adalah amanah, bukan hadiah. Namun sayangnya para pemangku jabatan banyak yang lupa. Fakta yang tak bisa terbantahkan, setiap tahun kita disuguhi dengan berita yang berulang, pejabat korupsi ditangkap KPK. Mulai dari kepala daerah, anggota dewan, hingga menteri. Ironisnya, hukum yang tegas dan adil tak kunjung hadir, sehingga krisis kepercayaan kepada para pemangku jabatan memuncak di tengah-tengah rakyat.
Rakyat dibohongi dengan janji-janji manis kampanye, realita pun berbicara, kondisi kehidupan tak kunjung membaik. Banyaknya badai PHK, lapangan pekerjaan yang sulit, pendidikan yang mahal, akses kesehatan yang tebang pilih, harga sembako melangit, hingga pungutan pajak yang melambung tinggi. Pengeluaran tak sebanding dengan pendapatan. Gaji guru, tenaga kesehatan, hingga buruh belum kunjung mendapatkan perhatian khusus dari negara. Semua itu bukan karena negara yang miskin, tetapi karena amanah yang dikhianati.
Sistem Demokrasi Sekuler Melahirkan Pejabat Khianat
Kepemimpinan yang kacau lahir dari sistem yang kacau pula. Demokrasi melahirkan individu yang jauh dari Islam. Sekularisme menjadi racun yang diam-diam mematikan. Kepemimpinan tidak lagi dianggap sebagai amanah dan ladang amal solih. Ketika kepemimpinan berorientasi pada kekayaan, kekuasaan, dan pencitraan. Maka aturan menjadi "barang dagangan". Kita sering mendengar takut kepada KPK itu biasa. Namun, takut kepada Allah? Jarang terdengar. Dosa korupsi dianggap "risiko politik", standar sukses diukur dari elektabilitas, bukan dari berapa banyak perut rakyat yang kenyang dan kehidupan yang sejahtera karena kebijakan.
Mengembalikan Makna Kepemimpinan
Islam sejatinya tidak anti jabatan. Islam justru menempatkan kepemimpinan sebagai amanah yang berat dan ladang amal solih. Sebagaimana sabda Rasulullah saw.:
"Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban." (HR Bukhari Muslim)
Kepemimpinan dapat mengantarkan kepada surga ketika pemimpin tersebut mengurusi urusan rakyatnya dengan baik dan ikhlas. Sebaliknya, ketika amanah kepemimpinan disalahgunakan maka tunggulah pertanggungjawabannya di jurang api neraka. Sejarah Khalifah Umar bin Khattab menjadi pengingat bagi kita. Seorang khalifah dengan wilayah seluas dua benua, pernah tidak tidur karena takut ditanya Allah.
"Wahai Umar, mengapa tidak kau ratakan jalan sampai ada keledai yang terpeleset di Irak?"
Lihatlah, bagaimana Sang Khalifah begitu takut jika ada hewan yang terluka. Namun mirisnya kepemimpinan hari ini, banyak jalan yang ditemukan berlubang dan rusak parah hingga menelan banyak korban kecelakaan. Apakah pemimpinnya bisa tidur? Apakah mereka juga bisa makan enak dan jalan-jalan ke luar negeri?
Senada dengan cerita yang masyhur. Pada suatu waktu Khalifah Umar blusukan memastikan kondisi rakyatnya. Sampai pada kondisi ia bertemu dengan keluarga yang tengah kelaparan, tidak ditemukan apa lagi yang bisa dimasak. Akhirnya sang ibu merebus batu hingga anaknya pun tertidur. Khalifah Umar menyaksikan kejadian tersebut dengan hati yang teriris dan takut kepada Allah. Khalifah Umar kembali ke Baitul Mal seraya memikul gandum dan membawanya untuk keluarga yang kelaparan tersebut. Tidak banyak drama dan pencitraan. Khalifah Umar pun dengan sangat sigap membantu ibu tersebut memasak gandum tanpa memberi tahu identitas dirinya. Sedihnya hari ini kita masih banyak melihat rakyat yang tidak bisa makan. Sosok teladan seperti Khalifah Umar bin Khattab pun sangat langka ditemukan dalam sistem demokrasi - sekularisme.
Dari teladan Khalifah Umar, kita bisa memetik hikmah bawah kepemimpinan adalah amanah yang berat. Memastikan setiap individu mendapatkan ri'ayah atau pengurusan yang layak dari seorang pemimpin. Keteladanan yang baik akan lahir dari sistem yang baik pula. Yakni sebuah sistem yang diatur oleh syariat Islam yang mengantarkan kepada ketakwaan kepada Allah Swt. dan sistem Islam itu bernama "Khilafah".
Wallahualam.
Via
Editorial
Posting Komentar