OPINI
Sistem Kapitalis Tidak Memberi Tempat Aman bagi Anak
Oleh: Damawan Megawati, S.Pd.
(Sahabat Tanah Ribath Media)
TanahRibathMedia.Com—Viral beberapa waktu lalu, berita tentang sebuah daycare di Yogyakarta yang melakukan kekerasan terhadap anak anak balita. Sebanyak kurang lebih 53 anak balita diduga mengalami kekerasan (TribunMedan.com, 24-4-2026). Padahal Rasullullah saw. pernah berdoa sebagai berikut: “Ya Allah, siapa saja yang mengurusi suatu urusan umatku, lalu ia mempersulit atau menyusahkan mereka, maka persulitlah atau susahkanlah dia. Sebaliknya, siapa saja yang mengurusi suatu urusan umatku, lalu ia berlaku baik kepada mereka, maka perlakukanlah dia dengan baik”. (HR Muslim)
Pada saat ini, dunia anak-anak di Indonesia tidak dalam keadaan aman dan nyaman di manapun mereka berada, walaupun di rumah sendiri atau pun di luar rumah mereka. Semua tempat dalam keadaan darurat dan berbahaya bagi anak. Segala tempat bisa ada kemungkinan terjadi kekerasan terhadap anak-anak. Selama kurang lebih 4 bulan terakhir dari bulan Januari sampai bulan April 2026, semua jenis laporan yang masuk kepada KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia) mencapai 426 kasus kekerasan pada anak.
Tercatat ada kasus-kasus kekerasan, pelecehan seksual terhadap anak terjadi di rumah mereka sendiri, sedangkan kasus- kasus di dunia maya yaitu judi online (judol), game online, dan lain-lain. Sungguh miris dan sangat memprihatinkan keadaan di kehidupan umat hari ini sangat jauh dari kehidupan Islam yang sebenarnya. Anak-anak yang seharusnya sebagai pelipur lara, belahan jiwa, penyejuk hati, dan selalu membawa kebahagiaan yang hadir di tengah-tengah keluarga kecil kaum muslim terutama, justru menjadi beban bagi kebanyakan orang tua yang hidup pada saat ini. Mitos orang tua dulu tidak berlaku lagi pada saat sekarang ini yang mengungkapkan bahwa “banyak anak banyak rejeki”. Justru sebaliknya ungkapan tersebut menjadi banyak anak hanya menambah masalah saja.
Dikarenakan hal tersebut, kebanyakan orang tua takut memiliki banyak anak. Pemikiran masyarakat sekuler dan kapitalis telah berhasil meracuni hampir seluruh umat manusia di dunia sekarang ini.
Sekularisme yaitu memisahkan agama Islam dari kehidupan, sehingga keimanan dan ketakwaan umat muslim tergerus arus deras kapitalisme yang tujuan hidupnya hanya untuk berpikir dunia dan dunia serta pencapaiannya untuk materi dan materi saja. Buah hati, belahan jiwa, anak-anak tidak lagi dianggap sebagai sebuah anugrah terindah, amanah atau titipan yang sangat berharga dari Allah Swt. Pada umumnya para ibu sekarang ini, tidak hanya mengurus rumah tangganya sendiri di dalam rumahnya, akan tetapi hampir semuanya bekerja di luar rumah, atau bahkan ada yang sampai keluar negeri untuk membantu kehidupan keluarganya. Ada yang menjadi assisten rumah tangga, menjaga bayi, atau lansia, dan lain-lain.
Tugas para ibu hari ini bukan hanya menjadi ummun warobbatul bait tapi juga merangkap semuanya. Akibatnya anak-anak menjadi terlantar, kurang diperhatikan, tidak terdidik dengan baik, tidak terurus. Akibatnya kebutuhan anak tidak diprioritaskan oleh para orang tua. Karena kemiskinan dan kesenjangan sosial tersebutlah seorang ibu berperan ganda dan multitalenta di dunia ini, banyak ibu-ibu yang berjuang di luar negeri sana karena di dalam negeri sendiri tidak bisa mencukupi kebutuhan hidupnya. Pada akhirnya anak-anak banyak yang menjadi korban dari kekerasan seksual di dalam rumah sendiri kepada orang terdekatnya sendiri, antara lain ayahnya sendiri, saudara kandungnya sendiri atau pamannya, bahkan kakeknya.
Oleh karena itu, Negara jelas gagal belum mampu dan tidak bisa mensejahterakan kebutuhan dan kepentingan rakyatnya dalam segala aspek kehidupan terutama dalam perekonomian masyarakat menengah ke bawah dan sebagai pelindung (junnah) terutama untuk anak-anak pada kasus pelecehan seksual. Hal ini terus menerus terjadi berulang kali, baik di rumah sendiri, di sekolah-sekolah umum ataupun yayasan dan pondok pesantren. Anak-anak tidak punya tempat yang aman dan nyaman dimana pun mereka berada, selalu dalam keadaan yang berbahaya. Pelaku seksual tidak mempunyai efek rasa jera terhadap hukuman yang diberlakukan oleh negara saat sekarang ini.
Dalam sebuah hadis diriwayatkan bahwa seorang pemimpin (kepala negara) adalah pengurus rakyatnya dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya yang dia urus (HR al-Bukhari dan Muslim). Agar anak-anak kita aman dan nyaman hanya dengan solusi Islam. Anak dalam Islam merupakan sebuah amanah dari Allah Swt. yang harus dijaga, dididik dengan Islam, dirawat dengan penuh cinta dan kasih sayang, dipenuhi kebutuhan lahir dan batin, agar bisa dipertanggungjawabkan di dunia dan akhirat kelak. Sistem ekonomi Islam sebagai dasar pemenuhan kebutuhan pokok keluarga oleh negara, sehingga tekanan ekonomi tidak menjadi pemicu kekerasan dalam rumah tangga.
Negara Khilafah hadir sebagai raa’in dan junnah, negara akan menutup segala pintu kerusakan dari hukum yaitu dengan membangun pemahaman islam kaffah yang benar ditengah tengah kehidupan umat pada saat ini dengan penerapan sistem pendidikan islam, kemudian menjaga seluruh media agar tidak merusak aqidah, dan membahayakan seluruh umat manusia yang menonton atau melihatnya. Negara menerapkan sanksi atau uqubat yang bersifat zawabir bagi pelaku kekerasan seksual terhadap anak-anak, sehingga menjerahkan dan memutus rantai kejahatan seksual tersebut.
Oleh karena itu akar persoalan negeri ini sesungguhnya bukanlah rakyat atau umat manusianya yang salah, akan tetapi hukum yang diterapkan atau diberlakukan bukan hukum Allah Swt. yang Maha Pembuat Hukum. Jika hukum Allah diterapkan dalam kehidupan kita sehari-hari insyaa Alah negara akan aman dan nyaman. Seluruh alam semesta akan bahagia di dunia dan akhirat. Aamiin ya robbalalamin.
Via
OPINI
Posting Komentar