OPINI
Saat Sistem Gagal, Gen Z Mulai Bangkit
Oleh: Devi Novianti
(Sahabat Gen Z Tanah Ribath Media)
TanahRibathMedia.Com—Fenomena krisis mental yang melanda generasi Z hari ini bukan sekadar persoalan individu, melainkan cermin nyata dari rusaknya sistem kehidupan yang menaungi mereka. Berbagai survei menunjukkan fakta yang mengkhawatirkan. Salah satunya menyebutkan bahwa “60% gen Z di Indonesia cemas akan masa depan” (data.goodstats. 8-4-2026).
Fakta ini tidak berdiri sendiri. Tekanan sosial akibat media sosial, ketidakpastian ekonomi, sulitnya lapangan pekerjaan, serta tuntutan gaya hidup menjadi faktor yang memperparah kondisi tersebut. Bahkan, Gen Z seringkali distigma sebagai generasi “lemah”, “baperan”, dan “tidak tahan banting” (mojok.com 30-4-2026). Padahal, stigma ini justru menutupi akar masalah yang sesungguhnya: kegagalan sistem dalam membina dan melindungi generasi.
Lebih jauh, fenomena ini bersifat global. Ketidakpastian masa depan telah melahirkan generasi yang skeptis terhadap sistem yang ada. Namun menariknya, dari titik nadir ini justru muncul gelombang baru: resistensi gen Z terhadap kondisi yang menindas mereka (kompas.id 18-06-2026). Ini bukan sekadar reaksi emosional, tetapi berpotensi menjadi embrio kesadaran ideologis.
Krisis Sistemik: Akar Persoalan yang Diabaikan
Jika ditelaah secara mendalam, krisis mental gen Z bukan disebabkan oleh kelemahan individu, melainkan akibat langsung dari sistem sekuler-kapitalistik yang mendominasi dunia hari ini. Sistem ini memisahkan agama dari kehidupan (sekularisme) dan menjadikan materi sebagai tujuan utama (kapitalisme). Dalam sistem ini, manusia dipaksa bersaing tanpa henti, diukur berdasarkan produktivitas dan materi, bukan nilai kemanusiaan atau ketakwaan. Negara pun abai dalam menjalankan fungsi ri’ayah (pengurusan umat). Pendidikan tidak lagi membentuk kepribadian, tetapi hanya mencetak tenaga kerja. Media menjadi alat pembentuk opini yang seringkali merusak jati diri generasi.
Allah ï·» telah mengingatkan dampak dari berpalingnya manusia dari aturan-Nya:
"Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit..." (TQS. Thaha: 124)
Ayat ini menjelaskan bahwa kesempitan hidup—termasuk kecemasan, kegelisahan, dan depresi—merupakan konsekuensi dari menjauhkan wahyu dari kehidupan.
Dari Depresi Menuju Perlawanan Ideologis
Namun, dalam gelapnya krisis, muncul titik terang. Gen Z yang mengalami tekanan justru mulai mempertanyakan sistem yang ada. Mereka tidak lagi menerima keadaan secara pasif. Skeptisisme berubah menjadi kritik. Kritik berkembang menjadi resistensi. Inilah momentum penting. Jika diarahkan dengan benar, resistensi ini dapat bertransformasi menjadi kesadaran ideologis: kesadaran bahwa kerusakan hari ini bukan kebetulan, tetapi hasil dari sistem yang salah.
Rasulullah ï·º bersabda:
"Sebaik-baik jihad adalah menyampaikan kebenaran di hadapan penguasa yang zalim." (HR. Abu Dawud)
Hadits ini menunjukkan bahwa sikap kritis terhadap kezaliman bukan hanya diperbolehkan, tetapi merupakan bagian dari perjuangan mulia dalam Islam.
Islam sebagai Solusi Ideologis
Islam bukan sekadar agama spiritual, tetapi sebuah mabda’ (ideologi) yang mengatur seluruh aspek kehidupan. Islam menawarkan solusi komprehensif yang mampu mengatasi krisis multidimensi yang dihadapi gen Z.
Pertama, Islam membangun kepribadian yang kokoh melalui aqidah yang benar. Generasi tidak lagi bergantung pada validasi sosial, tetapi pada ridha Allah. Ini melahirkan ketenangan sejati.
"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang." (QS. Ar-Ra’d: 28)
Kedua, dalam sejarah Islam, generasi muda tampil sebagai pelopor peradaban. Mereka bukan generasi lemah, tetapi generasi pemimpin. Sosok seperti Ali bin Abi Thalib, Usamah bin Zaid, dan Muhammad Al-Fatih menunjukkan bahwa pemuda dalam Islam adalah agen perubahan.
Ketiga, Islam mewajibkan negara untuk mengurus rakyat dengan adil. Negara bukan sekadar regulator, tetapi pelayan umat. Kebutuhan dasar seperti pendidikan, kesehatan, dan keamanan dijamin tanpa komersialisasi.
Rasulullah ï·º bersabda:
"Imam (pemimpin) adalah pengurus rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya." (HR. Bukhari dan Muslim)
Ini adalah konsep kepemimpinan yang kontras dengan sistem hari ini, di mana kebijakan seringkali berpihak pada kepentingan elite.
Seruan untuk Aktivis: Mengemban Perubahan Hakiki
Bagi para aktivis dakwah, fenomena gen Z ini bukan sekadar isu sosial, tetapi ladang perjuangan. Kecemasan yang mereka rasakan adalah pintu masuk untuk membangun kesadaran. Aktivis tidak cukup hanya memberikan motivasi atau solusi parsial. Yang dibutuhkan adalah perubahan mendasar: mengembalikan Islam sebagai sistem kehidupan.
Gen Z harus diajak memahami bahwa:
- Masalah mereka bukan semata personal, tetapi sistemik
- Solusinya bukan sekadar healing, tetapi perubahan ideologi
- Perlawanan mereka harus diarahkan, bukan dibiarkan liar
Allah ï·» berfirman:
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri." (TQS. Ar-Ra’d: 11)
Perubahan itu harus dimulai dari kesadaran, dilanjutkan dengan perjuangan, dan diarahkan pada tegaknya sistem Islam yang kaffah.
Penutup
Gen Z hari ini berada di persimpangan sejarah. Mereka bisa tenggelam dalam depresi yang diciptakan sistem, atau bangkit menjadi generasi pembebas yang menghancurkan akar kerusakan.
Depresi bukan akhir. Ia bisa menjadi awal dari kebangkitan. Namun kebangkitan itu tidak akan terjadi tanpa arah. Dan arah itu hanya bisa ditemukan dalam Islam sebagai ideologi yang sempurna. Saatnya Gen Z tidak hanya bertahan, tetapi melawan. Saatnya tidak hanya sadar, tetapi bergerak. Inillah saatnya aktivis dakwah mengambil peran: membimbing, menyadarkan, dan menggerakkan menuju perubahan hakiki.
Via
OPINI
Posting Komentar