OPINI
Rupiah Melemah, Rakyat Makin Sengsara
Oleh: Muezza Amanda
(Sahabat Tanah Ribath Media)
TanahRibathMedia.Com—Di tengah berbagai kemelut cobaan yang dihadapi masyarakat, yang paling berat adalah ketidakstabilan ekonomi yang tak kunjung usai. Saat ini rupiah mengalami kemerosotan yang demikian parah, sudah mencapai lebih dari Rp17.000,00 per 1 dolar Amerika. Situasi ini mereferensikan kelemahan nilai tukar rupiah yang saat ini menempati posisi ke-enam dalam rangkaian mata uang terlemah di dunia. Lemahnya rupiah saat ini merupakan cerminan secara langsung terhadap kondisi masyarakat. Depresiasi rupiah terhadap dolar ini membuat perekonomian di Indonesia semakin mengkhawatirkan. Hal ini berdampak pada naiknya harga-harga di setiap sektor terutama pangan dan energi.
Fakta yang paling miris adalah, seberapapun kenaikannya, tetap ada perut lapar yang harus diisi dan tagihan yang harus dibayar, sehingga semakin terpuruk masyarakat, semakin tinggi angka peminjam yang berada pada platform pinjaman online. Data terakhir dari OJK per Maret 2026, memperlihatkan pinjaman online telah tembus angka 101,03 Triliun, angka ini tumbuh 26,25% secara bertahap dari tahun ke tahun. Fakta lainnya lagi, selain pinjol, masyarakat sudah sangat terpojok mengadaikan barang-barang mereka untuk mendapatkan pendanaan, dalam data OJK transasksi ini tercatat mencapai 127,99 Triliyun atau setara 83,33% dari total industri pembiayaan yang ada di Indonesia (Bloombergtechoz, 5-5-2026).
Data-data ini adalah fakta bahwa saat ini, detik ini, masyarakat menanggung sendiri beban hidup yang begitu berat kerena ketiadaan peran pemerintah untuk menyelesaikan problematika ini secara keseluruhan, bukan tidakan reaktif seperti bansos dan subsidi, melainkan menyelesaikan akar permasalahnnya secara keseluruhan, yang ada justru kian hari semakin banyak kebijakan yang diambil yang salah dan justru menambah beban masyarakat karena akar permasalahan yang tidak mampu diidentifikasi oleh pemerintah atas sistem yang rusak saat ini.
Ketidakstabilan ekonomi yang ada dan juga kondisi kenyataan masyarakat yang ada saat ini adalah bentuk natural dari sistem ekonomi kapitalisme, dimana kepentingan segenap manusia adalah apa yang menyetir bagaiamana kebijakan ekonomi yang di praktekan secara massif dan umum tanpa pandang bulu, sehingga yang terbebani adalah masyarakat kecil, bukan mereka yang membuat kebijakan. sesungguhnya hubungan pemerintahan, dan masyarakat saat ini tidaklah baik, segalanya diukur dengan nilai untung dan rugi, sehingga hubungan masyarakat dengan sistem dan penguasa yang melindungi sistem tersebut sangat transaksional. Mereka bukanlah pengurus masyarakat, melainkan hanyalah regulator yang menjembatani transaksi kapitalis dengan masyarakat.
Padahal sesungguhnya, Allah menciptakan manusia sebagai pemimpin di muka bumi ini, untuk memakmurkan bumi dan seisinya, melalui seperangkat aturan yang di buat oleh Allah Sang Pencipta. Mulai dari pengaturan sumber daya alam, sampai kepada bagaimana kemudian sejatinya manusia bertansaksi satu sama lainnya. Khilafah sebagai bentuk negara akan mengaplikasikan sistem syariat baik domestik maupun internasional, dengan mekanisme tertentu seperti larangan riba, jaminan pemerataan distribusi, pengaturan kepemilikan dan lainnya.
Semua kebijakan yang diaplikasikan memiliki hanya satu tujuan yang itu menjamin kesejahteraan masyarkat yang sejatinya adalah tanggung jawab pemimpin, karena dia adalah ra’in (pengurus) dan junnah (perisai). Pemerintah adalah pelayan masyarakat, bukan regulator transaksi untung rugi antara swasta dan umat.
Wallahua'lam.
Via
OPINI
Posting Komentar