Nafsiah - Opini
Menempatkan Sabar pada Tempatnya
Oleh: Pudji Arijanti
(𝘗𝘦𝘨𝘪𝘢𝘵 𝘓𝘪𝘵𝘦𝘳𝘢𝘴𝘪 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘗𝘦𝘳𝘢𝘥𝘢𝘣𝘢𝘯)
TanahRibathMedia.Com—Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menimbulkan dampak berantai bagi perekonomian nasional, terutama pada sektor yang masih bergantung pada bahan baku dan barang impor. Kenaikan biaya impor menyebabkan biaya produksi ikut meningkat sehingga harga berbagai barang dan jasa di dalam negeri turut mengalami kenaikan. Dampak kondisi tersebut dirasakan langsung oleh masyarakat melalui naiknya harga kebutuhan sehari-hari, mulai dari pangan, energi, hingga berbagai produk konsumsi lainnya.
Pada saat yang sama, kenaikan harga berbagai kebutuhan tidak diikuti perbaikan tingkat kesejahteraan masyarakat, sehingga beban ekonomi rakyat kian berat dan kemampuan konsumsi mereka terus melemah. Akibatnya, kemampuan memenuhi kebutuhan hidup semakin tergerus, terutama bagi kelompok menengah dan bawah yang paling rentan terhadap gejolak ekonomi (kompasiana, 21-5-2026).
Antara Sabar, Tawakal, dan Ikhtiar
Di tengah kondisi yang merebak, tidak jarang muncul seruan agar masyarakat bersabar menghadapi keadaan. Tentu saja, sabar adalah ajaran mulia dalam Islam. Allah Swt. memerintahkan kaum Muslim untuk bersabar dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan. Namun, jika persoalan sabar ditujukan pada kesalahan kebijakan sistem, tentu saja perlu dikritisi.
Persoalannya bukan pada ajaran sabar itu sendiri, melainkan ketika seruan tersebut digunakan untuk mengalihkan perhatian dari kegagalan penguasa dalam menunaikan amanahnya mengurus urusan rakyat. Islam tidak pernah mempertentangkan antara tawakal dan ikhtiar. Keduanya kewajiban yang harus sama-sama ditunaikan. Rakyat diperintahkan bersabar dan bertawakal kepada Allah Swt, tetapi penguasa juga wajib melakukan ikhtiar terbaik untuk menyelesaikan masalah yang menimpa rakyat. Islam mengajarkan ikhtiar dahulu (berusaha maksimal), lalu bertawakal kepada Allah atas hasilnya, tentu saja keduanya tidak boleh dipisahkan.
Karena itu, ketika kesulitan ekonomi terjadi, tidak cukup hanya menyerukan kesabaran kepada rakyat. Harus ada evaluasi terhadap berbagai kebijakan yang berpotensi menjadi penyebab munculnya masalah tersebut. Sebab, tidak semua kesulitan ekonomi murni merupakan takdir yang turun dari langit tanpa sebab. Kesulitan ekonomi yang dialami rakyat terlihat dari berbagai lini. Mulai dari mahalnya harga kebutuhan pokok, sempitnya lapangan kerja, meningkatnya angka PHK, melemahnya daya beli, hingga semakin sulitnya masyarakat mengakses pendidikan, kesehatan, dan hunian yang layak.
Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan ekonomi tidak cukup dijawab dengan seruan untuk bersabar semata, tetapi memerlukan solusi nyata dan kebijakan yang berpihak kepada rakyat. Bahkan di negeri yang kaya sumber daya alam sekalipun, rakyat hidup dalam kesulitan karena pengelolaannya diserahkan kepada sistem yang keliru.
Islam Teladan Terbaik
Sejarah Islam memberikan teladan berbeda. Pada masa Khalifah Umar bin Khattab, ketika terjadi paceklik besar yang dikenal sebagai '𝘈𝘮𝘶𝘳 𝘙𝘢𝘮𝘢𝘥𝘢𝘩 atau Tahun Abu, beliau tidak sekadar meminta rakyat untuk bersabar. Sebagai pemimpin, beliau mengerahkan seluruh kemampuan negara untuk mengatasi krisis. Bantuan pangan didatangkan dari berbagai wilayah. Surat-surat dikirim kepada para wali dan amil di berbagai daerah untuk mengirimkan bantuan. Negara hadir secara nyata untuk memastikan kebutuhan rakyat tetap terpenuhi. Rasulullah saw. bersabda,
"Imam (pemimpin) adalah pengurus rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang diurusnya." (HR. Bukhari dan Muslim). (Disarikan dari artikel "Kisah Umar bin Khattab Ketika Madinah Mengalami Paceklik", SindoNews, 9 Mei 2023).
Kesabaran tetap dijalankan tetapi dibarengi dengan tindakan konkret dan tanggung jawab kepemimpinan. Inilah pelajaran penting yang sering terlupakan. Sabar adalah bagian dari syariat itu sendiri. Sedangkan bagi penguasa, kewajiban utama adalah mengurus urusan rakyat dan menghilangkan kesulitan yang menimpa mereka. Karena itu, menyerukan sabar kepada rakyat tanpa disertai upaya serius memperbaiki akar masalah bukanlah solusi Islam.
Pemimpin adalah 𝘳𝘢𝘢'𝘪𝘯 yang akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang dipimpinnya. Oleh karena itu, saat kesulitan ekonomi terjadi, yang dibutuhkan bukan hanya nasihat agar rakyat bersabar, melainkan juga keberanian untuk membenahi sistem pengelolaan negara agar kemakmuran benar-benar dapat dirasakan oleh seluruh rakyat. Dengan demikian, sabar tetap terjaga sebagai ibadah yang agung, sekaligus tidak dijadikan alasan untuk membiarkan kegagalan pengurusan urusan umat.
Penutup
Menempatkan sabar pada tempatnya berarti menjadikannya sebagai sikap seorang Mukmin dalam menghadapi ujian, bukan sebagai alat untuk membungkam kritik terhadap penguasa. Rakyat memang diperintahkan untuk bersabar dan bertawakal kepada Allah Swt, tetapi penguasa wajib menjalankan amanahnya sebagai 𝘳𝘢𝘢'𝘪𝘯 yang mengurus urusan umat. Karena sesungguhnya keberkahan sebuah negeri terletak pada penerapan syariat Allah secara kaffah, yang menghadirkan keadilan, kesejahteraan, dan perlindungan bagi seluruh rakyat.
𝘞𝘢𝘭𝘭𝘢𝘩𝘶'𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘣𝘪𝘴𝘴𝘢𝘸𝘢𝘣
Via
Nafsiah - Opini
Posting Komentar