Telusuri
  • Pedoman Media
  • Disclaimer
  • Info Iklan
  • Form Pengaduan
Tanah Ribath Media
Pasang Iklan Murah
  • Home
  • Berita
    • Nasional
    • Lensa Daerah
    • Internasional
  • Afkar
    • Opini Tokoh
    • Opini Anda
    • Editorial
  • Remaja
    • Video
  • Sejarah
  • Analisa
    • Tsaqofah
    • Hukum
  • Featured
    • Keluarga
    • Pernikahan
    • Pendidikan Anak
    • Pendidikan Remaja
    • FiksiBaru
Tanah Ribath Media
Telusuri
Beranda OPINI Dilema Pendidikan Asrama di Tengah Budaya Perundungan
OPINI

Dilema Pendidikan Asrama di Tengah Budaya Perundungan

Tanah Ribath Media
Tanah Ribath Media
22 Jun, 2026 0 0
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp


Oleh: Zahra Tenia 
(Aktivis Muslimah)

TanahRibathMedia.Com—Tindakan bullying pembakaran terjadi di pesantren. Seorang senior tega membakar 3 juniornya hingga menyebabkan luka bakar serius yang berakibat pada terganggunya kemampuan berjalan. Salah satu korban dikabarkan meninggal dunia. Peristiwa naas ini terjadi di Desa Mantang, Kecamatan Batukliang, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB) pada November 2025 yang lalu (kompas.com, 5-6-2026).

Kasus baru terungkap 6 bulan berikutnya pasca video salah satu korban viral di Facebook. Motif penganiyaan diduga karena aduan korban terkait tindakan bullying yang dilakukan sebelumnya terhadap korban kepada pihak pengurus pondok. Orang tua korban menyayangkan sikap pondok yang dirasa lemah pengawasan.

Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) mengungkapkan kasus kekerasan di satuan pendidikan mengalami  kenaikan yang tajam sepanjang Januari-Desember 2025. Bertepatan dengan hari HAM sedunia, tercatat ada 60 kasus kekerasan dengan 358 korban dan 126 pelaku. Berbeda dengan tahun 2023 yg hanya 15 kasus dan tahun 2024 dengan 36 kasus (Tirto.id, 10-12-2025).

Tingginya angka kekerasan yang terjadi tidak boleh dianggap remeh dan patut diwaspadai. Tindakan bullying di lingkungan pesantren menjadi dilema ditengah harapan orang tua yang sedang dan akan menitipkan putra putrinya untuk mendapatkan pendidikan terbaik di pesantren. Hadirnya fenomena bullying berdampak pada semakin beratnya tantangan dalam dunia pendidikan khususnya yang menggunakan sistem boarding. 
Santri di pesantren hidup bersama selama 24 jam yang memungkinkan terjadinya berbagai interaksi dan konflik diantara mereka. Para santri berada dalam kehidupan tertutup dan terputus dengan akses dunia luar. Pendidikan ini juga mengharuskan para santri lepas dari orang tua, untuk bisa hidup mandiri dan fokus dalam belajar. Hanya saja tingginya bullying dan lemahnya pengawasan pondok telah menorehkan noda hitam dalam diri masyarakat. Pesantren seolah telah berubah menjadi penjara besar yang sarat dengan bahaya. Lalu bagaimana mengatasi persoalan ini?

Kegagalan Pendidikan Berbasis Sekuler

Bullying yang terjadi di Pesantren tentu menyisakan tanda tanya besar ada apa dengan dunia pendidikan hari ini. Pesantren yang dikenal sebagai sebuah tempat untuk menghasilkan orang-orang yang taat agama, santun dan beradab ternyata menghasilkan output pendidikan yang berkebalikan. Muncul sosok-sosk yang berperilaku bejat, sadis dan suka menindas. Fakta ini merupakan gambaran dari buah penerapan sistem sekuler yang memisahkan agama dengan kehidupan. Orientasi dalam pendidikan sekuler berfokus pada pencapaian prestasi akademik dan materi, tanpa mengedepankan pembentukan kepribadian Islam. Wajar ketika senioritas dianggap sebagai  keunggulan yang dibanggakan dan terus tumbuh subur dilingkungan pendidikan. Padahal, lama menempuh pendidikan tidak menjamin kualitas keilmuan seseorang. 

Realita ini juga menunjukkan gagalnya negara dalam perannya sebagai institusi yang mengurus serta melindungi generasi dari segala bentuk kejahatan. Kejadian serupa selalu berulang, dan bahkan terjadi akumulasi jumlah. Solusi yang diambil tidak menyelesaikan problem utama. Hukum seringkali tidak tegas dengan membiarkan pelaku kejahatan bebas dengan alasan di bawah umur.

Islam Mengatasi Bullying

Jika sekularisme meniadakan peran agama, Islam justru sebaliknya. Akidah Islam mengharuskan setiap individu yang beriman mengikat perilakunya dengan syariat yang diajarkan dalam agama. Islam melarang keras tindakan bullying karena itu terkategori mendzolimi oranglain. Tindakan ini jelas mendatangkan dosa dan merugikan pelaku di akhirat kelak. Hal ini Allah pertegas dalam firmanNya dalam Quran Surat Al Ahzab ayat 58 yang berbunyi:

وَالَّذِيْنَ يُؤْذُوْنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنٰتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوْا فَقَدِ احْتَمَلُوْا بُهْتَانًا وَّاِثْمًا مُّبِيْنًا ࣖ

Artinya: 
“Orang-orang yang menyakiti mukminin dan mukminat, tanpa ada kesalahan yang mereka perbuat, sungguh, mereka telah menanggung kebohongan dan dosa yang nyata."

Dengan demikian hadirnya keimanan dan ketakwaan yang ada diri generasi menjadi benteng alami dalam berfikir dan beramal, semua perbuatan senantiasa dipertimbangkan tidak sekedar memperturutkan hawa nafsu. Negara Islam berperan sebagai rain wajib menerapkan pendidikan berbasis akidah Islam yang akan melahirkan generasi berkepribadian Islam tidak semata unggul dalam akademik akan tetapi juga santun dalam adab, penuh kasih dan penyayang, menghormati yang lebih tua, dan meninggalkan setiap tindakan yang dilarang agama. 

Negara Islam juga berperan sebagai junnah yang akan melindungi setiap warga negaranya ancaman bahaya. Setiap lembaga pendidikan yang ada dipastikan berada dalam kontrol dan pengawasan negara. Senioritas diarahkan pada hal yang positif, sebagai bentuk pertanggungjawaban ilmu dalam rangka membimbing adik kelas bukan dijadikan senjata untuk melegalkan tindakan kekerasan. Bidang penegakkan hukum Islam juga memberikan pengaturan yang tegas. Tidak ada area abu-abu yang meniscayakan seseorang terbebas dari  hukum hanya karena  faktor usia. Sistem sanksi dalam Islam bersifat zawajir dan jawabir telah terbukti memiliki efektivitas dalam memberikan efek jera bagi para pelakunya. Dengan penengakkan hukum yang benar dan adil sesuai syariat, rantai tindakan bullying dapat terputus total. 

Khatimah

Bullying yang kian merebak di tengah dunia pendidikan menjadi alarm bahwa sistem sekuler terbukti melahirkan manusia yang rusak dan merusak. Solusi hakiki atas fenomena ini adalah kembali kepada sistem Islam yang memastikan agama memiliki andil dalam mengatur individu, masyarakat, dan juga negara.  Wallahu' alam bishowab.
Via OPINI
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Postingan Lama
Postingan Lebih Baru

Anda mungkin menyukai postingan ini

Posting Komentar

- Advertisment -
Pasang Iklan Murah
- Advertisment -
Pasang Iklan Murah

Featured Post

Gelapnya Sumatra: Saat Nyawa Ditumbalkan Demi Cuan

Tanah Ribath Media- Juni 22, 2026 0
Gelapnya Sumatra: Saat Nyawa Ditumbalkan Demi Cuan
Oleh: Iky Damayanti, ST (Sahabat Tanah Ribath Media) TanahRibathMedia.Com— Tragedi padamnya listrik secara total atau blackout yang melumpuhkan wi…

Most Popular

AKI Tinggi: Cermin Gagalnya Layanan Kesehatan

AKI Tinggi: Cermin Gagalnya Layanan Kesehatan

Juni 17, 2026
Ketika Pesantren Tak Lagi Aman: Ancaman Perundungan bagi Generasi

Ketika Pesantren Tak Lagi Aman: Ancaman Perundungan bagi Generasi

Juni 17, 2026
Ambisi Israel Raya: Rampas Palestina

Ambisi Israel Raya: Rampas Palestina

Juni 19, 2026

Editor Post

Tak Habis Pikir

Tak Habis Pikir

Juni 11, 2023
Lebih dari 70 Muslimah Hadiri Talk Show Kajian Risalah Akhir Tahun 2023

Lebih dari 70 Muslimah Hadiri Talk Show Kajian Risalah Akhir Tahun 2023

Januari 01, 2024
Anak Terjerat Prostitusi Online, Dimana Perlindungan Negara?

Anak Terjerat Prostitusi Online, Dimana Perlindungan Negara?

Agustus 06, 2024

Popular Post

AKI Tinggi: Cermin Gagalnya Layanan Kesehatan

AKI Tinggi: Cermin Gagalnya Layanan Kesehatan

Juni 17, 2026
Ketika Pesantren Tak Lagi Aman: Ancaman Perundungan bagi Generasi

Ketika Pesantren Tak Lagi Aman: Ancaman Perundungan bagi Generasi

Juni 17, 2026
Ambisi Israel Raya: Rampas Palestina

Ambisi Israel Raya: Rampas Palestina

Juni 19, 2026

Populart Categoris

Tanah Ribath Media

Tentang Kami

Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Contact us: contact@gmail.com

Follow Us

Copyright © 2023 Tanah Ribath Media All Right Reserved
  • Disclaimer
  • Privacy
  • Advertisement
  • Contact Us