OPINI
HIV Remaja: Krisis yang Tak Disentuh Akarnya
Oleh: Tety Kurniawati
(Aktivis Dakwah dan Penggiat Literasi)
TanahRibathMedia.Com—Kemenkes RI dan Dinkes Jawa Timur menyatakan bahwa peningkatan kasus HIV pada remaja hingga pertengahan 2026 bukan akibat adanya gelombang penularan baru. Peningkatan tersebut didorong oleh pengembangan akses skrining dan deteksi dini di berbagai fasilitas kesehatan. Kemenkes juga membantah informasi viral di media sosial yang menyebut ratusan pelajar di Sidoarjo, Jawa Timur, terjangkit HIV.
Data kumulatif Dinkes Sidoarjo per Juni 2026 mencatat 7.230 orang yang hidup dengan HIV sejak 2001. Proporsi anak dan remaja usia 0-24 tahun menyumbang 1.183 kasus. Kelompok usia 18–24 tahun mendominasi dengan 1.006 kasus, disusul usia 0–10 tahun sebanyak 117 kasus, dan usia 11–17 tahun sebanyak 60 kasus.
Pemprov Jawa Timur melalui Wagub Emil Dardak menegaskan bahwa strategi menanggulangi lonjakan HIV/AIDS pada remaja tidak bisa parsial. Diperlukan pendekatan komprehensif, sinergi antar lembaga, dan mitigasi terhadap faktor penyebab utama. Hal ini menjadi jawaban atas maraknya isu ratusan pelajar di Sidoarjo terinfeksi HIV/AIDS. Emil juga menyoroti pentingnya intervensi edukatif dan pendampingan bagi populasi rentan guna memutus mata rantai penularan (detik.com, 27-07-2026).
Generasi Terancam, Negara Sibuk Tambal Sulam
Angka HIV pada remaja tidak lagi bisa dianggap "tren". Kondisi ini lebih tepat disebut sebagai kedaruratan. Data terus naik, korbannya makin muda, dan penularannya makin masif lewat relasi berisiko yang dianggap biasa. Pada saat yang sama negara masih memperlakukan HIV sebagai masalah klinis yang selesai dengan tes, obat, dan pembagian kondom. Padahal yang ambrol bukan hanya sistem kesehatan, tapi ketahanan keluarga, sistem nilai dan pendidikan. Tatanan sosial rusak karena penerapan sistem sekuler-kapitalistik yang meminggirkan peran Tuhan dalam kehidupan. Hingga perilaku hidup bebas marak dan memproduksi banyak kerusakan. Selama akar masalahnya dibiarkan busuk, penyakitnya akan terus menjalar.
Solusi yang ditawarkan hari ini naif dan tak menyentuh akar persoalan. Kampanye seremonial, edukasi parsial, dan normalisasi "kurangi risiko" jadi pilihan politik aman, bukan paling efektif secara moral. Negara enggan menyentuh sumbernya yakni pornografi yang bebas diakses, budaya pacaran permisif, kemiskinan, putus sekolah, dan rapuhnya benteng keluarga. Pemerintah lalai membimbing remaja dari arus informasi bebas, lalu menyalahkan mereka saat tersesat. Selama negara masih tambal sulam. Ancaman HIV tak akan tertuntaskan.
Kapitalisme Menyuburkan HIV
Kapitalisme memproduksi kondisi yang memfasilitasi penyebaran HIV melalui komodifikasi tubuh dan seksualitas. Dalam logika akumulasi modal, seks direduksi dari institusi sosial menjadi komoditas pasar. Media digital, industri hiburan dan ekonomi malam tumbuh di atas eksploitasi tubuh, sementara kemiskinan struktural mendorong remaja dan perempuan masuk ke komersialisasi seks sebagai strategi bertahan hidup. Dengan demikian kapitalisme sekaligus menciptakan permintaan dan pasokan.
Di sisi kebijakan, negara dalam rezim kapitalis hanya mampu menempuh pendekatan teknokratis berupa distribusi kondom, tes massal, dan ARV. Intervensi ini dipilih karena murah, terukur, dan tidak mengganggu tatanan ekonomi. Sementara determinan struktural seperti ketimpangan, komersialisasi pornografi, liberalisasi nilai, dan keruntuhan institusi keluarga sengaja diabaikan. Menyentuh akar berarti berhadapan dengan kepentingan industri dan doktrin kebebasan individu. Alhasil, negara terjebak dalam siklus penanggulangan yang reaktif.
Secara substantif, lonjakan HIV bukanlah anomali, melainkan konsekuensi logis dari kontradiksi kapitalisme. Maka menarasikan banyaknya temuan HIV bukan sebagai peningkatan penularan tapi justru peningkatan efektifitas deteksi dini adalah bentuk gagal faham terhadap persoalan. Sistem ini mempromosikan kebebasan hedonistik, tetapi gagal menyediakan jaring pengaman sosial dan pendidikan moral. Ketika kontrol kolektif melemah, individu dilempar ke pasar bebas, termasuk pasar seks. Tanpa pembongkaran terhadap struktur kapitalistik yang melahirkannya, segala upaya penanggulangan HIV akan tetap bersifat paliatif dan tak solutif.
Islam Menjaga Generasi
Islam menolak pendekatan tambal sulam dalam menjaga generasi muda dan pelajar dari ancaman HIV. Melalui penerapan sistem pergaulan Islam, negara membangun upaya preventif dengan mengatur interaksi laki-laki dan perempuan berdasarkan adab, memisahkan ruang yang memicu fitnah, mengatur pernikahan, menutup pintu maksiat seperti pornografi, khalwat, menutup aurat sesuai aturan syara' , dan larangan mendekati zina. Negara juga wajib memberikan sanksi tegas untuk setiap pelanggaran syariat. Tujuannya untuk menjaga fitrah, kehormatan, dan masa depan generasi agar tidak menjadi korban dari industri yang mengkomodifikasi tubuh dan seksualitas.
Penerapan sistem pendidikan Islam mengoreksi kegagalan paradigma sekuler yang memisahkan kesehatan reproduksi dari nilai dan akhlak. Integrasi materi kesehatan reproduksi ke dalam ilmu fiqih pergaulan dan pembinaan akhlak, mencetak pelajar yang tidak hanya sekedar faham penyakit dan anatomi. Namun juga memahami hakekat menjaga organ reproduksi sebagai bentuk ibadah dan amanah Ilahi. Tumbuh kesadaran bahwa setiap perbuatan akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Illahi. Sekaligus memutus logika hedonisme dan "coba-coba" yang selama ini subur oleh pendidikan berbasis kebebasan tanpa batas. Dengan demikian, pendidikan berfungsi lebih dari sekadar transfer ilmu. Ia membentuk karakter yang imun terhadap eksploitasi tubuh, sehingga penanggulangan HIV dan masalah sosial lainnya bersifat substantif, bukan lip service.
Sinergi tiga pilar yakni keluarga, masyarakat dan sekolah, serta negara menjadi fondasi preventif Islam dalam membentengi generasi dari ancaman HIV. Keluarga menanamkan akidah dan akhlak sejak dini, masyarakat menegakkan amar ma’ruf nahi munkar serta mengontrol ruang publik dari pornografi dan pergaulan bebas, sementara sekolah dan negara merumuskan kebijakan, kurikulum, dan sanksi yang menutup pintu maksiat. Berbeda dengan sistem sekuler yang hanya bereaksi setelah kerusakan terjadi, Islam memutus mata rantai sejak di hulu melalui pembinaan nilai dan kontrol sistemik. Dengan demikian, kesempurnaan Islam terbukti, ia tidak hanya mengobati gejala, tetapi menjaga generasi secara menyeluruh, jasmani maupun rohani, agar tumbuh dalam lingkungan yang aman, bermartabat, dan terlindungi.
Wallahu'alam bisshawwab.
Via
OPINI
Posting Komentar