OPINI
Muharam, Saatnya Umat Bangkit Memperjuangkan Islam Kaffah
Oleh: Pudji Arijanti
(Pegiat Literasi untuk Peradaban)
TanahRibathMedia.Com—Memasuki 1 Muharam 1448 H, umat Islam masih dihadapkan pada berbagai persoalan. Di dalam negeri, rakyat dibelit kemiskinan, judi online, prostitusi anak, bullying, eksploitasi seksual, dan berbagai bentuk kekerasan. Di tingkat global, genosida di Palestina terus berlangsung, sementara kaum Muslim di Gaza menghadapi kelaparan dan pembantaian tanpa adanya langkah nyata dari para penguasa negeri-negeri Muslim. Kondisi ini menunjukkan bahwa umat masih jauh dari predikat khairu ummah yang Allah tetapkan bagi mereka.
Akibat Penerapan Sistem Kapitalisme Sekuler
Seluruh kenestapaan dalam negeri adalah buah dari penerapan sistem kapitalisme sekuler. Dalam sistem ini, standar halal-haram disingkirkan dan digantikan oleh asas manfaat serta keuntungan materi. Akibatnya, kebijakan negara, arah pendidikan, media, ekonomi hingga aktivitas politik tidak lagi diarahkan untuk membentuk ketakwaan. Kerusakan pun menyebar di berbagai lini kehidupan dan terus berulang tanpa mencabut akar persoalannya. Pada saat yang sama, lemahnya posisi umat Islam di kancah internasional, termasuk ketidakmampuan menghentikan genosida yang menimpa rakyat Palestina. Hal ini menunjukkan hilangnya institusi politik Islam yang menyatukan dan melindungi umat.
Kaum Muslim yang jumlahnya mencapai miliaran jiwa justru tercerai-berai dalam sekat nasionalisme dan batas-batas negara bangsa, sehingga kehilangan kekuatan politik dan militer yang mampu menjaga darah, kehormatan, serta wilayah kaum Muslim. Akibatnya, musuh-musuh Islam leluasa melakukan agresi, sementara negeri-negeri Muslim lebih memilih tunduk pada tatanan politik global yang didominasi kekuatan kafir daripada menjalankan kewajiban melindungi saudara seiman mereka.
Hijrah Hakiki: Penerapan Islam Kaffah
Momentum 1 Muharram semestinya menjadi sarana muhasabah bagi umat Islam untuk menyadari bahwa berbagai kenestapaan yang menimpa mereka bukanlah takdir yang harus diterima tanpa ikhtiar, melainkan akibat dari dijauhkannya aturan Allah Swt. dari kehidupan. Karena itu, hijrah yang dibutuhkan umat hari ini tidak cukup dimaknai sebagai perubahan individu semata, tetapi harus diwujudkan dalam bentuk hijrah yang hakiki, yaitu berpindah dari sistem sekularisme kapitalisme yang rusak menuju penerapan Islam secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan.
Rasulullah saw. telah memberikan teladan bahwa perubahan mendasar tidak lahir dari jalan pintas, melainkan melalui perjuangan dakwah yang panjang, terarah, dan terorganisir sebagaimana yang beliau dan para sahabat lakukan.
Oleh karena itu, umat Islam wajib mengambil bagian dalam perjuangan tersebut dengan bergabung bersama jamaah dakwah ideologis yang konsisten menjadikan akidah Islam sebagai dasar perjuangan serta menempuh metode dakwah Rasulullah saw. untuk melanjutkan kehidupan Islam dan menegakkan kembali Khilafah. Hanya dengan penerapan Islam secara menyeluruh di bawah naungan Khilafah, umat akan kembali memiliki kepemimpinan yang mengurus urusan rakyat dengan syariat, menjaga kehormatan kaum Muslim, mempersatukan kekuatan umat, serta mengembalikan predikat khairu ummah yang hari ini kian memudar.
Penutup
Maka, memasuki tahun baru Hijriah 1448 H, sudah saatnya umat tidak sekadar memperingati momentum hijrah, tetapi menjadikannya sebagai titik tolak perjuangan menuju tegaknya aturan Allah di muka bumi. Umat Islam harus menyadari bahwa kemuliaan tidak akan kembali diraih selama kehidupan masih diatur dengan sistem demokrasi yang bertentangan dengan syariat-Nya. Sebagaimana Rasulullah saw. dan para sahabat berhijrah demi menegakkan Islam sebagai aturan kehidupan, demikian pula umat hari ini dituntut untuk melanjutkan perjuangan tersebut hingga Islam kembali diterapkan secara kaffah dan menjadi rahmat bagi seluruh alam.
Saatnya hijrah dari sikap pasif menuju perjuangan, dari sekadar mengeluhkan kerusakan menuju upaya mengubahnya, serta dari ketundukan pada sistem kufur menuju ketaatan total kepada Allah Swt. Inilah makna hijrah yang sesungguhnya, hijrah yang mengantarkan umat menuju kebangkitan, kemuliaan, dan rida Allah Swt.
Wallahu'alam bissawab.
Via
OPINI
Posting Komentar