OPINI
Derita Sunyi Anak Gaza Tercabik Luka
Oleh: Rina Ummu Syahid
(Sahabat Tanah Ribath Media)
TanahRibathMedia.Com—Sejumlah anak di Gaza dilaporkan mengalami kehilangan kemampuan berbicara setelah menghadapi trauma berat akibat agresi yang terus berlangsung. Kondisi yang dikenal sebagai mutisme traumatis ini menjadi salah satu bukti nyata dampak perang terhadap kesehatan mental anak-anak Palestina. Di tengah dentuman bom, kehilangan orang-orang tercinta, serta ancaman kematian yang terus menghantui, sebagian anak tidak lagi mampu mengekspresikan rasa takut dan kesedihan mereka melalui ucapan.
Kenyataan ini menunjukkan bahwa penderitaan rakyat Gaza tidak hanya tampak dalam bentuk korban jiwa, luka fisik, maupun kehancuran infrastruktur. Dampak yang tidak kalah besar adalah kerusakan psikologis yang membekas dalam kehidupan mereka. Anak-anak yang semestinya tumbuh dalam suasana aman dan penuh kasih sayang justru harus menjalani masa kecil yang dipenuhi ketakutan, kehilangan, dan trauma berkepanjangan.
Enam bulan telah berlalu sejak diumumkannya gencatan senjata di Gaza. Namun demikian, berbagai bentuk kekerasan masih terus terjadi. Komisaris Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Hak Asasi Manusia, Volker Türk, mengungkapkan bahwa serangan Israel tetap berlangsung secara berulang. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Gaza, sedikitnya 846 orang, termasuk perempuan dan anak-anak, meninggal dunia akibat rentetan serangan setelah gencatan senjata diberlakukan.
Sejak Oktober 2023, lebih dari 20.000 anak di Gaza dilaporkan kehilangan nyawa akibat serangan Israel, sementara lebih dari 41.000 lainnya mengalami luka-luka. Secara keseluruhan, korban meninggal telah melampaui 72.000 jiwa dengan mayoritas berasal dari kalangan sipil, sedangkan jumlah korban luka mencapai lebih dari 172.000 orang (detikNews.com, 30-6-2026).
Berbagai fakta tersebut menunjukkan bahwa penghancuran yang menimpa rakyat Gaza tidak hanya menyasar aspek fisik, tetapi juga kondisi mental serta masa depan generasi mereka. Anak-anak yang seharusnya menatap masa depan dengan harapan kini dipaksa menghadapi kehilangan keluarga, tempat tinggal, akses pendidikan, bahkan kemampuan untuk berbicara.
Di dalam Al Quran surat An-Nisa ayat 75 menunjukkan kewajiban kaum muslim untuk memiliki kepedulian dan berupaya membela mereka yang tertindas, termasuk saudara-saudara muslim di Palestina. Akan tetapi, hingga saat ini masyarakat internasional tampak belum mampu menghentikan berbagai pelanggaran yang terus berlangsung. Bantuan kemanusiaan yang disalurkan memang meringankan sebagian beban, tetapi belum mampu mengakhiri penderitaan yang dialami rakyat Gaza. Di sisi lain, banyak negeri muslim belum memperlihatkan langkah yang efektif untuk menghentikan penjajahan dan kekerasan yang terus terjadi.
Genosida yang menimpa rakyat Gaza tampak tidak hanya bertujuan menghancurkan kehidupan fisik mereka, tetapi juga merusak kondisi kejiwaan dan masa depan generasi penerusnya. Trauma yang menyebabkan sebagian anak kehilangan kemampuan berbicara menjadi salah satu bukti nyata besarnya penderitaan yang mereka alami.
Rasulullah saw. bersabda:
"Perumpamaan orang-orang mukmin dalam saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi adalah seperti satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh turut merasakan sakit dengan tidak bisa tidur dan demam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menggambarkan bahwa penderitaan yang dialami kaum muslim di Palestina semestinya dirasakan pula oleh umat Islam di berbagai penjuru dunia.
Rasulullah saw. juga bersabda:
"Sesungguhnya imam (pemimpin) itu adalah perisai, yang orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya." (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis tersebut menegaskan pentingnya keberadaan kepemimpinan yang mampu menjaga, melindungi, serta membela umat dari berbagai bentuk ancaman dan kezaliman.
Penderitaan anak-anak Palestina tidak cukup diselesaikan hanya melalui terapi ataupun bantuan kemanusiaan. Sumber utama persoalan berupa penjajahan dan agresi harus dihentikan agar mereka dapat kembali hidup aman, tenteram, dan merdeka di tanah kelahiran mereka.
Allah Swt. berfirman:
"Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka." (TQS. Hud: 113)
Allah Swt. juga berfirman:
"Dan perangilah mereka itu sampai tidak ada lagi fitnah dan agama itu hanya bagi Allah semata." (TQS. Al-Anfal: 39)
Karena itu, segala bentuk kezaliman dan penjajahan wajib ditolak serta dilawan. Umat Islam dituntut memiliki kepedulian yang tinggi terhadap kondisi saudara-saudara mereka di Palestina. Persatuan umat serta kesungguhan dalam memperjuangkan kemuliaan Islam menjadi bagian penting dalam upaya membebaskan Palestina dan melindungi kaum muslimin dari berbagai bentuk penindasan.
Dalam pandangan sebagian kaum muslimin, tidak adanya institusi yang mempersatukan umat menyebabkan kaum muslim kehilangan perisai yang dapat menjaga dan melindungi kepentingan mereka secara menyeluruh. Oleh sebab itu, muncul seruan agar umat meningkatkan kesadaran politik Islam, memperkuat ukhuwah, serta berupaya menghadirkan kepemimpinan yang mampu mengurus urusan kaum muslimin dan membebaskan negeri-negeri Islam dari berbagai bentuk penjajahan maupun penindasan.
Semoga Allah Swt. segera menghilangkan penderitaan rakyat Palestina, menjaga anak-anak Gaza, dan memberikan pertolongan kepada kaum muslimin yang tertindas di mana pun mereka berada.
"Dan Allah pasti akan menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sungguh, Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa." (TQS. Al-Hajj: 40)
Wallāhu a'lam bi ash-shawāb.
Via
OPINI
Posting Komentar