OPINI
Ambisi Keji Israel Raya: Rampas Palestina dan Rebut Aqsa
Oleh: Pudji Arijanti
(Pegiat Literasi untuk Peradaban)
TanahRibathMedia.Com—Di tengah seruan dunia untuk menghentikan perang, entitas zionis justru terus memperluas agresinya di Gaza. Rencana penguasaan hingga 70 persen wilayah Jalur Gaza memicu kecemasan warga Palestina karena semakin menyusutnya kawasan yang dapat dihuni. Pengibaran bendera Israel di Masjid Al Aqsa, simbol penguasaan entitas zionis mengalahkan umat Islam (Metrotv, 5-6-2026).
Ambisi Culas Israel
Demi mewujudkan ambisi membangun Israel Raya, entitas zionis menghancurkan Gaza, melakukan genosida serta mengalokasikan dana signifikan guna memperluas wilayah pemukiman di Tepi Barat. Padahal, menurut hukum internasional dinilai ilegal. Lebih mengejutkan lagi entitas zionis telah mendaftarkan tanah di Tepi Barat sebagai properti negara yang sah. Bagi warga Palestina hal ini mempersulit membuktikan kepemilikan lahan mereka. Dengan begitu, apa yang dilakukan entitas zionis adalah kebiadaban, kekejaman, kejahatan kemanusiaan, dan kerusakan terbesar di muka bumi.
Fakta ini menunjukkan bahwa proyek Israel Raya adalah agenda yang dijalankan secara bertahap melalui penguasaan wilayah, pengusiran penduduk asli, dan perubahan demografi. Karena itu, setiap perluasan pemukiman ilegal, perampasan tanah, maupun penghancuran permukiman warga Palestina harus dipahami sebagai bagian dari upaya memperkuat eksistensi entitas zionis di atas tanah yang didudukinya.
Di sisi lain, berbagai lembaga internasional dan negara-negara besar yang mengaku menjunjung tinggi demokrasi dan hak asasi manusia terbukti gagal menghentikan berbagai kejahatan yang dilakukan entitas zionis. Standar ganda terus dipertontonkan. Ketika pelanggaran HAM terjadi di berbagai belahan dunia, sanksi dan tekanan internasional segera dijatuhkan. Namun ketika rakyat Palestina menjadi korban, kecaman yang muncul sering kali tidak disertai tindakan nyata untuk menghentikan penjajahan dan agresi militer. Amerika Serikat terus menunjukkan dukungannya kepada entitas zionis melalui bantuan politik, diplomatik, ekonomi, maupun militer. Bersamaan dengan itu, AS juga mendorong sejumlah penguasa negeri Muslim untuk menerima solusi dua negara sebagai jalan penyelesaian konflik.
Harusnya dipahami bahwa, solusi tersebut tidak menyentuh akar persoalan karena dianggap melegitimasi pendudukan yang telah berlangsung puluhan tahun. Akibatnya, berbagai pendekatan politik yang ditawarkan lebih dipandang sebagai upaya mengelola konflik daripada menghentikan penjajahan dan mewujudkan hak-hak rakyat Palestina secara menyeluruh. Penderitaan Palestina terus berlanjut, karena pengkhianatan penguasa negeri Muslim. Di sisi lain, ketiadaan persatuan politik umat Islam membuat upaya pembelaan terhadap Palestina berjalan lemah dan tidak mampu menghentikan penjajahan yang terus berlangsung.
Perjuangan Tegaknya Sistem Khilafah
Ambisi Israel Raya hanya dapat dilawan dengan kekuatan nyata dan persatuan umat Islam. Karena itu, umat memerlukan kepemimpinan politik yang mampu menyatukan potensi dalam satu institusi, yaitu Khilafah. Tegaknya Khilafah harus menjadi prioritas perjuangan umat Islam seluruh dunia. Sebab, Khilafah merupakan wujud persatuan umat yang hakiki dan sarana untuk menyatukan kekuatan kaum Muslim dalam menjaga kepentingan Islam dan umatnya.
Khilafah akan menghapus sekat-sekat nasionalisme yang memecah belah umat Islam ke dalam berbagai negara. Dengan persatuan kepemimpinan Islam, kebijakan yang merugikan umat dan berbagai bentuk pengkhianatan terhadap kepentingan kaum Muslim dapat diakhiri. Khalifah bertanggung jawab melindungi kaum Muslim dan menjaga negeri-negeri Islam dari penjajahan. Karena itu, penjajahan atas Palestina negara Khilafah akan mengerahkan kekuatannya mengirim tentara membebaskan Palestina dan menghentikan agresi entitas zionis terhadap rakyat Palestina.
Penutup
Sejarah membuktikan bahwa penjajahan atas Palestina tidak akan berakhir hanya dengan kecaman dan perundingan. Diperlukan persatuan, kekuatan, dan kepemimpinan yang berpihak kepada umat untuk menghentikannya. Oleh karena itu, perjuangan membela Palestina harus menjadi bagian dari perjuangan umat Islam untuk mewujudkan persatuan dan kekuatan yang mampu mengakhiri penjajahan secara nyata.
Wallahu'alam bissawab.
Via
OPINI
Posting Komentar