OPINI
Dengan Dukungan Amerika, Israel Merajalela
Oleh: Irohima
(Sahabat Tanah Ribath Media)
TanahRibathMedia.Com—Sudah hampir tiga tahun sejak agresi zionis tahun 2023, konflik yang pecah antara Palestina – Israel tak kunjung menemukan benang merah penyelesaiannya. Bahkan kini Israel kian merajalela, dengan dukungan Amerika, Israel terang-terangan menunjukkan kepada dunia bahwa mereka memang bangsa berkarakter penjajah.
Sejak terjadi Genosida, lebih dari 9.500 warga Palestina dilaporkan hilang di Jalur Gaza, mereka diyakini terjebak di bawah reruntuhan bangunan yang hancur. Dan lebih dari 7 bulan setelah apa yang mereka sebut “Gencatan senjata”. Ribuan warga Gaza masih belum dapat mengevakuasi jenazah orang yang mereka cinta. Israel bahkan membabi buta, dengan memperluas wilayah pemukiman di Tepi Barat demi merampas 70% wilayah Palestina. Dan kini, mereka semakin serakah, Israel dan Amerika Serikat tengah berusaha merebut Al-Aqsa, dengan “secara aktif melakukan upaya” mencabut status Yordania sebagai wali penjaga historis kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerussalem, Palestina. Skema baru pengelolaan situs suci umat Islam didorong oleh mereka agar selaras dengan kepentingan Israel (CNN Indonesia, 5-6-2026).
Demi mewujudkan ambisi membangun Israel Raya, entitas zionis melakukan agresi penghancuran Gaza, memperluas pemukiman di Tepi Barat dan melakukan hal keji dan biadab yakni genosida. Israel semakin tak tahu diri dengan menyerukan pembatalan Perjanjian Oslo (Oslo Accords) dan menolak keras prospek kehadiran negara Palestina di masa depan. Perjanjian Oslo merupakan perjanjian perdamaian interim antara Israel dan Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) yang menandai pengakuan awal antara Palestina dan Israel yang ditanda tangani tahun 1995. Perjanjian Oslo dimaksudkan sebagai peta jalan yang mengarah ke solusi dua negara namun faktanya, perjanjian ini dirancang bukan untuk damai, melainkan untuk menunda: dalih ‘dua negara’ yang tak pernah tiba.
Apa yang telah dilakukan zionis adalah kebiadaban, kekejaman, kejahatan kemanusiaan dan kerusakan terbesar di muka bumi. Mereka layak dicap sebagai bangsa pengkhianat dan tak tahu diri, saat pertama kali datang ke tanah Palestina, mereka adalah pengungsi yang ditolak sana-sini dan meminta belas kasihan warga Palestina dengan air mata. Kini, ijin tinggal yang dulu mereka dapat berbalik menjadi keserakahan: kemarin menjadi pengungsi, hari ini menjadi penjajah, mereka tak lagi minta tempat tinggal tapi merampas seluruh Palestina.
Amerika Serikat turut menyokong terwujudnya ambisi Israel Raya, bahkan mengajak penguasa-penguasa negeri muslim bersekongkol mendukung solusi dua negara, dan ironisnya lagi, penguasa negeri-negeri muslim menyambut ajakan tersebut. Sungguh nyata pengkhianatan mereka terhadap muslim Palestina, padahal jelas Palestina adalah saudara seakidah, tapi kita malah ikut mendorong Palestina ke dalam cengkeraman penjajah. Solusi dua negara yang ditawarkan Amerika tak lebih dari sekedar basa-basi belaka, karena sejatinya tujuan Israel dan Amerika adalah menguasai Palestina sepenuhnya. Narasi “dua negara adalah solusi” sengaja digulirkan untuk meredam penghakiman dan kemarahan umat Islam, dan pada praktiknya memang tak pernah diterapkan.
Persoalan Palestina dengan segenap penderitaannya tak akan pernah usai selama kita masih setia menggenggam nasionalisme yang lahir dari sistem demokrasi. Umat Islam yang seharusnya menjadi umat yang satu dan berada di bawah payung persatuan sengaja dipisahkan, dibatasi oleh garis wilayah dan disandera dengan berbagai aturan yang membatasi setiap gerak umat, dan jika keluar dari batas yang mereka tentukan, maka akan dianggap sebagai sebuah pelanggaran. Sekat nasionalisme ini lama kelamaan akan mereduksi empati dan rasa peduli, akibatnya banyak dari kita yang menganggap persoalan Palestina adalah persoalan internal mereka dan bukan kewajiban kita untuk ikut campur di dalamnya. Padahal, penderitaan mereka yang tak kunjung mereda adalah karena pengkhianatan yang dilakukan penguasa negeri-negeri muslim dan ketiadaan pemimpin serta ketiadaan persatuan umat Islam.
Ambisi Israel Raya harus dilawan, dan ini membutuhkan kekuatan dan persatuan umat Islam dalam wujud nyata yakni Khilafah. Khilafah adalah sebuah sistem pemerintahan yang berlandaskan syariat Islam dan akan menaungi seluruh umat Islam di dunia. Khilafah tak sekedar memiliki peran sebagai periayah (pengurus umat) tapi juga berperan sebagai junnah (pelindung) umat muslim dari segala bentuk kezaliman dan penjajahan.
Saat ini, tegaknya Khilafah adalah sebuah urgensi, dan harus menjadi prioritas perjuangan umat Islam seluruh dunia, karena Khilafah adalah wujud persatuan umat Islam yang hakiki dan satu-satunya solusi bagi persoalan yang mendera Palestina juga wilayah muslim lainnya. Ikatan akidah dalam Khilafah akan menempatkan kesamaan iman di atas batasan geografis, etnis atau nasionalisme. Dengan Khilafah, sekat buruk nasionalisme akan hilang dan tidak akan lagi menjadi penghalang dalam memberi bantuan atau mengirim pasukan. Khilafah akan menyatukan seluruh umat Islam dan menghentikan pengkhianatan para penguasa.
Saat ini hanya kekuatan militer yang bisa membebaskan Palestina, sudah puluhan tahun mereka terjajah, dan itu sudah menjadi bukti yang lebih dari cukup bahwa perundingan dan solusi-solusi yang kerap diajukan pihak-pihak terkait, sama sekali bukan solusi. Israel juga tak pernah menginginkan perdamaian, mereka selalu menabuh genderang perang. Yang mereka inginkan hanya kekuasaan, dan itu harus kita lawan habis-habisan
Wallahualam bis shawab
Via
OPINI
Posting Komentar