Telusuri
  • Pedoman Media
  • Disclaimer
  • Info Iklan
  • Form Pengaduan
Tanah Ribath Media
Pasang Iklan Murah
  • Home
  • Berita
    • Nasional
    • Lensa Daerah
    • Internasional
  • Afkar
    • Opini Tokoh
    • Opini Anda
    • Editorial
  • Remaja
    • Video
  • Sejarah
  • Analisa
    • Tsaqofah
    • Hukum
  • Featured
    • Keluarga
    • Pernikahan
    • Pendidikan Anak
    • Pendidikan Remaja
    • FiksiBaru
Tanah Ribath Media
Telusuri
Beranda OPINI Buruknya Pendidikan Saat Ini, Buah dari Sistem Kapitalisme
OPINI

Buruknya Pendidikan Saat Ini, Buah dari Sistem Kapitalisme

Tanah Ribath Media
Tanah Ribath Media
20 Mei, 2026 0 0
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp


Oleh: Marlina Wati, S.E.
(Muslimah Peduli Umat)

TanahRibathMedia.Com—Akhir-akhir ini banyak berita yang menyesak dada. Belum sembuh luka dari kasus pelecehan oleh 16 mahasiswa, kini pelaku justru datang dari mereka semestinya menjadi teladan, para pengajar bahkan guru besar. Kampus yang selama ini dicitrakan sebagai ruang intelektual, ruang pencerahan, ternyata menyimpan kegelapan yang dalam. Ditambah lagi kasus pelecehan lewat chat WhatsApp messenger bahkan lewat lagu.

Kasus dugaan pelecehan seksual yang melibatkan 16 mahasiswa Fakultas Hukum di Universitas Indonesia bukan sekadar pelanggaran aturan kampus, tapi cerminan krisis moral yang makin nyata di kalangan generasi muda. Ketika ruang diskusi akademik justru dijadikan tempat untuk merendahkan martabat orang lain, ini menunjukkan bahwa pendidikan tinggi belum tentu menjamin tingginya akhlak. Pelecehan seksual, baik secara verbal maupun digital, sering dianggap “candaan” atau hal sepele. Padahal, dampaknya sangat besar bagi korba mulai dari trauma psikologis hingga hilangnya rasa aman. Yang lebih mengkhawatirkan, jika perilaku seperti ini dilakukan secara berkelompok, itu menandakan adanya budaya yang salah dan dibiarkan tumbuh tanpa kontrol. 

Langkah tegas kampus menonaktifkan para terduga patut diapresiasi, tetapi ini seharusnya menjadi momentum evaluasi lebih dalam. Tidak cukup hanya menghukum pelaku, perlu ada pembinaan serius tentang etika, batasan pergaulan, serta penghormatan terhadap sesama. Kampus bukan hanya tempat mencari ilmu, tapi juga membentuk karakter. Lebih jauh, kasus ini mengingatkan kita bahwa kebebasan berekspresi tanpa batas justru bisa melahirkan penyimpangan. Dibutuhkan nilai-nilai yang kuat sebagai landasan, agar kebebasan tidak berubah menjadi kebablasan. Jika tidak, kasus serupa akan terus berulang dengan wajah yang berbeda.

Akhirnya, semua pihak kampus, mahasiswa, dan masyarakat harus berperan aktif menciptakan lingkungan yang aman dan bermartabat. Pelecehan seksual bukan hal yang bisa ditoleransi dalam bentuk apa pun. Ini bukan sekadar masalah individu, tapi persoalan serius yang menyangkut masa depan generasi (Seputarcibubur.com, 18-4-2026).

Generasi yang Rusak karena Sistem yang Diterapkan Bukan Sistem Islam

Pangkal dari kerusakan perilaku manusia adalah pemisahan agama dari kehidupan. Sebuah prinsip yang menjadi pondasi peradaban modern yang kini menguasai dunia, termasuk sistem pendidikan tinggi saat ini. Ketika kampus di bangun di atas paradigma Sekularisme agama hanya urusan pribadi. Moralitas menjadi relative, tidak ada standar baku tentang apa yang halal dan haram, apa yang mulia dan hina. 

Maka inilah yang menyuburkan perilaku menyimpang dengan dalih kepuasan. Maka jangan heran, mahasiswa yang cerdas, guru besar yang gelarnya berjenjang panjang, atau siapapun dari kalangan manapun bisa menjadi pelaku pelecehan seksual. Karena kecerdasan tak akan bisa jadi rem atau perilaku menyimpang, jika tidak dilandasi akidah Islam.

Melihat berbagai kasus moral yang terjadi di kalangan anak muda, banyak orang mulai mempertanyakan arah sistem yang saat ini diterapkan. Generasi yang seharusnya menjadi harapan masa depan justru sering terjerumus dalam perilaku menyimpang. Ini bukan semata kesalahan individu, tapi juga dipengaruhi oleh sistem yang membentuk cara berpikir dan bertindak mereka.

Dalam sistem yang ada sekarang, kebebasan sering dijunjung tinggi tanpa batas yang jelas. Akibatnya, standar benar dan salah menjadi kabur. Hal-hal yang dulu dianggap tidak pantas, kini dianggap biasa, bahkan dijadikan candaan. Dari sinilah muncul berbagai penyimpangan, termasuk pelecehan seksual, yang seolah tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang serius.

Berbeda dengan sistem Islam, yang menempatkan aturan hidup berdasarkan nilai moral dan tanggung jawab. Dalam Islam, pergaulan diatur, kehormatan dijaga, dan setiap individu diajarkan untuk menghormati orang lain. Batasan-batasan ini bukan untuk mengekang, tapi untuk melindungi manusia dari kerusakan.

Islam Akan Menjaga Generasi dari Perbuatan Pelecehan Seksual

Pelecehan seksual terjadi bukan hanya karena lemahnya kontrol diri individu, tapi juga karena lingkungan dan sistem yang tidak memberi batasan jelas. Ketika pergaulan dibiarkan bebas tanpa arah, maka peluang terjadinya pelanggaran seperti ini semakin besar. Dalam Islam, menjaga generasi dari pelecehan seksual dilakukan dengan cara pencegahan sejak awal.

Islam mengatur bagaimana laki-laki dan perempuan berinteraksi, menjaga pandangan, serta menutup aurat. Semua ini bukan untuk membatasi, tapi untuk menjaga kehormatan dan mencegah hal-hal yang bisa mengarah pada pelecehan. Selain itu, Islam juga menanamkan rasa tanggung jawab dan takut kepada Allah, sehingga seseorang tidak hanya patuh karena aturan, tapi juga karena kesadaran diri.

Oleh karena itu kontrol diri menjadi lebih kuat, meski tidak diawasi. Jika aturan ini dijalankan dengan baik, maka lingkungan akan menjadi lebih aman dan terjaga. Generasi pun bisa tumbuh dengan akhlak yang baik, saling menghormati, dan jauh dari perilaku yang merendahkan orang lain seperti pelecehan seksual. Selain itu, Islam juga melarang segala bentuk pendekatan terhadap zina, yang menjadi akar dari berbagai penyimpangan, termasuk pelecehan seksual. 

Allah berfirman:
“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah perbuatan keji dan jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra’: 32)

Dalam hadits, Rasulullah ï·º juga menegaskan pentingnya menjaga kehormatan dan tidak menyakiti orang lain:

“Seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menegaskan bahwa ucapan dan perbuatan yang menyakiti, termasuk pelecehan verbal maupun fisik, tidak dibenarkan dalam Islam.

Dengan aturan yang menyentuh aspek individu, masyarakat, hingga sistem, Islam berupaya menjaga generasi dari kerusakan moral. Ketika nilai-nilai ini diterapkan secara menyeluruh, maka lingkungan yang aman, terhormat, dan bebas dari pelecehan bukan hanya harapan, tetapi bisa menjadi kenyataan.
Via OPINI
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Postingan Lama Tak ada hasil yang ditemukan
Postingan Lebih Baru

Anda mungkin menyukai postingan ini

Posting Komentar

- Advertisment -
Pasang Iklan Murah
- Advertisment -
Pasang Iklan Murah

Featured Post

Buruknya Pendidikan Saat Ini, Buah dari Sistem Kapitalisme

Tanah Ribath Media- Mei 20, 2026 0
Buruknya Pendidikan Saat Ini, Buah dari Sistem Kapitalisme
Oleh: Marlina Wati, S.E. (Muslimah Peduli Umat) TanahRibathMedia.Com— Akhir-akhir ini banyak berita yang menyesak dada. Belum sembuh luka dari kasu…

Most Popular

Dehumanisasi yang Dinormalisasi: Krisis Nurani terhadap Palestina dan Moralitas yang Terdegradasi

Dehumanisasi yang Dinormalisasi: Krisis Nurani terhadap Palestina dan Moralitas yang Terdegradasi

Mei 18, 2026
UU PPRT: Harapan Baru atau Bukti Kegagalan Negara Menyejahterakan Perempuan?

UU PPRT: Harapan Baru atau Bukti Kegagalan Negara Menyejahterakan Perempuan?

Mei 18, 2026
Pelecehan Seksual di Pesantren: Buah dari Sistem yang Gagal Melindungi

Pelecehan Seksual di Pesantren: Buah dari Sistem yang Gagal Melindungi

Mei 15, 2026

Editor Post

Tak Habis Pikir

Tak Habis Pikir

Juni 11, 2023
Lebih dari 70 Muslimah Hadiri Talk Show Kajian Risalah Akhir Tahun 2023

Lebih dari 70 Muslimah Hadiri Talk Show Kajian Risalah Akhir Tahun 2023

Januari 01, 2024
Untuk Engkau yang Merindu Bahagia

Untuk Engkau yang Merindu Bahagia

Juni 09, 2023

Popular Post

Dehumanisasi yang Dinormalisasi: Krisis Nurani terhadap Palestina dan Moralitas yang Terdegradasi

Dehumanisasi yang Dinormalisasi: Krisis Nurani terhadap Palestina dan Moralitas yang Terdegradasi

Mei 18, 2026
UU PPRT: Harapan Baru atau Bukti Kegagalan Negara Menyejahterakan Perempuan?

UU PPRT: Harapan Baru atau Bukti Kegagalan Negara Menyejahterakan Perempuan?

Mei 18, 2026
Pelecehan Seksual di Pesantren: Buah dari Sistem yang Gagal Melindungi

Pelecehan Seksual di Pesantren: Buah dari Sistem yang Gagal Melindungi

Mei 15, 2026

Populart Categoris

Tanah Ribath Media

Tentang Kami

Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Contact us: contact@gmail.com

Follow Us

Copyright © 2023 Tanah Ribath Media All Right Reserved
  • Disclaimer
  • Privacy
  • Advertisement
  • Contact Us