OPINI
Freestyle Berujung Nyawa, Alarm Keras bagi Pendidikan Anak
Oleh: Nasti Sakinah, S. Kom
(Sahabat Tanah Ribath Media)
TanahRibathMedia.Com—Seorang siswa SD berumur 8 tahun dan siswa TK berumur 5 tahun meninggal dunia karena cedera patah tulang leher setelah melakukan atraksi freestyle. Keduanya sempat dirawat di rumah sakit, namun nyawanya tidak tertolong karena cedera yang cukup fatal. Setelah ditelusuri, aksi freestyle tersebut terinspirasi dari game online populer seperti Garena Free Fire yang menampilkan gerakan ekstrem. Yang awalnya hanya konten hiburan di layar, berubah menjadi tindakan nyata yang merenggut nyawa anak-anak yang belum bisa membedakan batas antara dunia digital dan dunia nyata.
Kepolisian, sekolah, Dinas Pendidikan, psikolog anak, hingga KPAI memberi himbauan kepada orang tua untuk lebih mengawasi penggunaan HP, media sosial, serta tontonan anak-anak. Himbauan ini benar, tapi berhenti di sini saja tidak cukup. Kita perlu mengurai akar masalah agar tren berbahaya ini tidak terus memakan korban. Anak lebih rentan terhadap paparan digital. Daya nalar anak belum sempurna. Mereka cenderung mengikuti begitu saja apa yang dianggap menarik di game online dan media sosial tanpa memperhitungkan risiko. Konten yang viral dan tampak keren di layar langsung ingin dipraktikkan.
Ditambah kurangnya pendampingan orang tua. Banyak anak dibiarkan memegang HP berjam-jam tanpa pengawasan. Kurangnya pendampingan membuat mereka mudah mengakses informasi yang berpotensi merusak dan berbahaya. HP yang seharusnya jadi alat bantu belajar justru menjadi pintu masuk konten berbahaya. Pengaruh masyarakat dan lingkungan minim bahkan nihil. Sehingga kontrol sosial melemah, anak-anak dibiarkan bermain sendiri tanpa pengawasan. Lingkungan yang seharusnya menjadi pagar kedua untuk melindungi anak justru absen.
Perisai terakhir yaitu pembatasan akses oleh pemerintah juga belum efektif. Di mana pembatasan akses terhadap konten online oleh negara belum memberikan dampak signifikan. Blokir situs mudah diakali dengan VPN, sementara algoritma platform terus mendorong konten sensasional demi engagement. Anak lebih cepat terpapar aksi ekstrem dibanding konten edukasi. Inilah kompleknya problem jejaring sosial yang menjarah semua kalangan hingga sekarang negara masih meraba solusi tanpa hasil pasti.
Konstruksi Islam: Membangun Ekosistem Perlindungan Anak
Islam memandang anak sebagai amanah. Anak yang belum baligh tidak dikenai taklif hukum karena akalnya belum sempurna. Karena itu mereka butuh pendampingan orang dewasa untuk diarahkan kepada kebaikan dan dijauhkan dari bahaya. Anak adalah tanggung jawab orang tua dan wali orang tua dan wali wajib mendidik, mengasuh, dan melindungi anak dari segala bentuk bahaya. Mengabaikan pengawasan terhadap apa yang ditonton dan dimainkan anak adalah bentuk pengabaian amanah. Rasulullah ï·º bersabda:
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”
Pendidikan dalam Islam bertumpu pada 3 pilar utama yakni peran orang tua, lingkungan, serta negara. Jadi pendidikan tidak berhenti di rumah. Lingkungan masyarakat dan sekolah harus menjadi pagar kedua. Ketika lingkungan aktif mengawasi dan mengedukasi, anak tidak akan mencari validasi dari konten berbahaya di media sosial. Sehingga terwujud ekosistem yang kondusif untuk tumbuh kembang anak secara optimal.
Peran Negara
Konsep Islam yaitu negara tidak boleh bersikap netral terhadap kerusakan. Negara wajib membatasi ketat informasi yang tidak bermanfaat dan berpotensi membahayakan generasi. Sekaligus memperbanyak konten edukasi yang membangun akhlak, akal, dan keterampilan hidup. Tujuannya jelas: mewujudkan generasi yang berperadaban cemerlang. Ketiga pilar ini—orang tua, lingkungan, dan negara—harus berjalan selaras. Jika salah satu lemah, ekosistem perlindungan anak akan runtuh. Ketika orang tua mengawasi tapi negara membiarkan konten berbahaya bebas beredar, usaha orang tua akan kalah. Ketika negara membatasi tapi orang tua abai, anak akan mencari jalan pintas.
Kematian dua anak akibat tren freestyle adalah alarm keras bagi pendidikan anak di era digital. Ketika orang tua abai, lingkungan lepas tangan, dan negara lambat bergerak, maka layar ponsel menjadi guru yang mematikan. Tren ini tidak akan berhenti hanya dengan himbauan. Dibutuhkan ekosistem pendidikan yang utuh: orang tua yang hadir, lingkungan yang peduli, dan negara yang tegas melindungi generasi, ketegasan bermuara kepada aturan yang berlaku yaitu hukum yang shahih lagi qath'i yang berasal dari Sang Pencipta seluruh alam dan isinya, sudah seharusnya mengembalikan kemuliaan peradapan manusia dengan diterapkannya syariat Islam secara menyeluruh. Jika tidak, berita duka berikutnya hanya tinggal menunggu waktu.
Wallahua'lam.
Via
OPINI
Posting Komentar