OPINI
Santri, Kader Ulama, dan Pembangunan Peradaban Islam
Oleh: Saly
(Sahabat Tanah Ribath Media)
TanahRibathMedia.Com—Peringatan Hari Santri Nasional 2026 terasa di berbagai daerah di Indonesia. Kementerian Agama mengangkat tema resmi “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas.” Tema ini menyoroti peran santri dalam membangun sumber daya manusia, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, serta mewujudkan kemandirian ekonomi. Santri diharapkan tidak berhenti pada pewarisan tradisi keilmuan Islam, tetapi juga turut berperan di beragam sektor kehidupan (kemenag.go.id, 12-10-2026).
Santri sebagai calon ulama mengemban tugas membimbing umat sekaligus ikut membangun peradaban dunia. Untuk itu, santri perlu mendapat bekal ilmu agama yang mendalam, disertai pemahaman tentang cara Islam menata kehidupan manusia, baik urusan pribadi, keluarga, masyarakat, ekonomi, pendidikan, maupun pemerintahan dan hubungan antarnegara. Dengan bekal itu, ilmu yang diperoleh di pesantren tidak terbatas pada ibadah individual, melainkan menjadi pegangan untuk memahami dan menyelesaikan masalah kehidupan berdasarkan syariat Islam.
Setiap muslim juga memikul tanggung jawab terhadap saudara seiman di belahan dunia lain yang hidup di bawah penindasan, kemiskinan, konflik, dan krisis kemanusiaan. Ikatan akidah menyatukan kaum muslimin melampaui sekat bangsa dan negara. Oleh sebab itu, cakrawala santri semestinya tidak hanya tertuju pada kemajuan satu negeri, tetapi juga mencakup pemahaman atas keadaan umat Islam di seluruh dunia serta upaya mencari solusi bagi masalah mereka.
Islam menempatkan ilmu pada kedudukan yang amat mulia. Dalam QS Al-Mujadilah ayat 11, Allah ta’ala menjanjikan peningkatan derajat bagi orang-orang beriman dan berilmu. Ilmu bukan sekadar sarana meraih posisi, melainkan amanah yang harus dipakai untuk menuntun manusia kepada kebenaran. Rasulullah saw. bersabda:
“Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sesungguhnya mereka hanya mewariskan ilmu. Barang siapa yang mengambil warisan tersebut, maka ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. Abu Dawud dan At Tirmidzi)
Hadis ini menegaskan pentingnya peran ulama dalam menjaga keberlanjutan dakwah dan memelihara pemahaman umat terhadap agamanya.
Karena itulah santri perlu dibina agar berkepribadian Islam, menguasai tsaqafah Islam, memahami kenyataan hidup, dan mampu mengaitkan berbagai persoalan dengan hukum-hukum Allah ta’ala. Mereka juga perlu dibekali kesadaran politik Islam, yakni pemahaman tentang bagaimana urusan umat diurus, bukan sekadar kegiatan partai atau perebutan kekuasaan.
Melalui pemahaman tersebut, santri dapat menelaah mengapa kemiskinan terus berulang, mengapa kekayaan alam belum tentu membawa kesejahteraan bagi rakyat, mengapa ketidakadilan terus terjadi, dan mengapa banyak masalah umat tidak bisa dituntaskan hanya dengan membenahi perilaku individu. Pasalnya, masalah di tengah masyarakat tidak selalu bersumber dari kerusakan moral pribadi. Sebagian di antaranya berakar pada kebijakan dan sistem yang mengatur kehidupan.
Maka dakwah dan pendidikan Islam perlu melahirkan generasi yang mampu memperbaiki diri sekaligus menyadari pentingnya mengubah tatanan masyarakat dan sistem kehidupan agar sesuai dengan Islam. Santri tidak cukup hanya diajari cara berhasil di dalam sistem yang berlaku saat ini. Mereka juga harus memahami tolok ukur benar dan salah menurut Islam, supaya tidak kehilangan arah saat menghadapi tuntutan zaman yang bertentangan dengan syariat.
Wallahu a’lam.
Via
OPINI
Posting Komentar