OPINI
Fenomena Downgrade Lifestyle: Antara Kesederhanaan dan Tekanan Ekonomi
Oleh: Rusna Ummu Nahla
(Aktivis Muslimah)
TanahRibathMedia.Com—Saat ini, dunia maya ramai memperbincangkan tren downgrade lifestyle, yaitu keputusan untuk menurunkan standar atau gaya hidup demi menekan pengeluaran. Mereka yang terbiasa makan di restoran mewah mulai beralih ke rumah makan sederhana, bahkan memilih membawa bekal dari rumah. Kebiasaan berlibur, berbelanja, hingga menikmati berbagai hiburan pun mulai dikurangi demi menghemat pengeluaran.
Sebagaimana diberitakan CNBC Indonesia (12 Oktober 2026), perbincangan mengenai tren downgrade lifestyle mencuat setelah sejumlah pengguna Threads mengajak warganet menceritakan perubahan gaya hidup yang mereka alami. Salah satunya adalah pengguna akun @aliashariakbar, yang mengungkapkan bahwa dirinya dahulu memiliki mobil Wuling Cortez dan rumah di kompleks perumahan. Namun, kini ia tinggal bersama mertua dan menggunakan sepeda motor Suzuki Shogun lama untuk bekerja.
Pengalaman serupa disampaikan oleh pengguna akun @wulan_as17, yang mengaku menjual mobil Honda HR-V miliknya dan menggantinya dengan kendaraan jenis lowcost green car (LCGC) yang lebih terjangkau. Sementara itu, akun @fun_funny28 menceritakan peralihan ke beras yang lebih murah, dari sebelumnya Rp470.000 menjadi Rp370.000 untuk kemasan 20 kilogram (CNBC Indonesia, 12 Oktober 2026).
Sekilas, fenomena ini tampak sebagai bentuk kesadaran untuk menjalani hidup sederhana dan mengelola keuangan secara bijak. Namun, benarkah downgrade lifestyle semata-mata lahir dari keinginan untuk berhemat, atau justru ada persoalan lain di baliknya?
Hidup sederhana tentu bukan sesuatu yang keliru. Mengurangi perilaku konsumtif, menghindari pemborosan, dan mendahulukan kebutuhan daripada keinginan merupakan sikap yang patut diapresiasi. Akan tetapi, persoalannya menjadi berbeda ketika seseorang menurunkan gaya hidup bukan karena kesadaran, melainkan karena kemampuan ekonominya tidak lagi mencukupi untuk mempertahankan taraf hidup sebelumnya.
Fenomena ini perlu dilihat lebih jauh daripada sekadar tren di media sosial. Di balik keputusan mengurangi pengeluaran, bisa saja terdapat persoalan yang lebih mendasar, seperti pendapatan yang tidak bertambah, ketidakpastian pekerjaan, meningkatnya biaya kebutuhan hidup, atau kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi pada masa mendatang.
Data ekonomi turut memberikan gambaran mengenai tantangan tersebut. Berdasarkan pemberitaan Republika pada 9 Oktober 2026, jumlah penduduk kelas menengah di Indonesia menurun dari 60,8 juta orang atau 23% pada 2018 menjadi 46,7 juta orang atau 16,6% pada 2025. Sementara itu, kelompok ekonomi rentan meningkat dari 68,5% menjadi 74,5%. Data tersebut menunjukkan pentingnya mencermati perubahan struktur ekonomi masyarakat, terutama terkait kemampuan mempertahankan taraf hidup.
Fakta-fakta tersebut tidak membuktikan bahwa setiap orang yang melakukan downgrade lifestyle sedang mengalami kesulitan ekonomi. Sebagian orang mungkin melakukannya karena ingin hidup lebih minimalis, mengurangi konsumsi berlebihan, atau mengalokasikan uang untuk tujuan lain.
Sebab, kesejahteraan bukan sekadar kemampuan membeli barang mewah. Lebih penting daripada itu adalah apakah masyarakat memiliki pekerjaan yang layak, pendapatan yang memadai, serta kemampuan memenuhi kebutuhan pangan, sandang, papan, pendidikan, dan kesehatan tanpa terus-menerus dibayangi kecemasan finansial.
Ulah Kapitalisme
Jika melihat tren downgrade lifestyle yang ramai diperbincangkan, fenomena ini tidak bisa semata-mata dipahami sebagai bentuk kesederhanaan dan kesadaran untuk berhemat. Dalam sebagian kasus, perubahan gaya hidup tersebut juga dapat mencerminkan tekanan ekonomi yang berkaitan dengan sistem kapitalisme.
Dalam sistem kapitalisme, sumber daya ekonomi dan kekayaan cenderung terkonsentrasi pada pihak yang memiliki modal. Kondisi ini dapat memperlebar kesenjangan antara kelompok kaya dan masyarakat berpenghasilan rendah. Sementara kelompok kaya memiliki kemampuan lebih besar untuk memenuhi kebutuhannya, sebagian masyarakat harus mengatur pengeluaran sehemat mungkin. Namun, upaya berhemat saja tidak selalu cukup ketika harga kebutuhan hidup terus meningkat, sedangkan pendapatan sulit bertambah.
Selain itu, fenomena downgrade lifestyle juga menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara gaya hidup yang berkembang di masyarakat dan kemampuan ekonomi sebagian orang. Di satu sisi, masyarakat didorong untuk hidup mewah, menjadikan barang yang dimiliki sebagai ukuran status sosial, serta mengikuti standar konsumsi yang berkembang di lingkungan sosial. Di sisi lain, kemampuan ekonomi sebagian masyarakat tidak cukup untuk memenuhi tuntutan gaya hidup tersebut.
Akibatnya, masyarakat menghadapi tekanan ganda, yakni tuntutan sosial untuk mempertahankan gaya hidup dan kenyataan ekonomi yang membatasi kemampuan mereka. Sebagian orang mungkin terjebak dalam upaya mempertahankan citra sosial, sementara sebagian lainnya terpaksa mengurangi pengeluaran demi memenuhi kebutuhan yang lebih mendasar.
Persoalannya bukan sekadar bagaimana seseorang mengatur pengeluaran, melainkan juga bagaimana sistem ekonomi memengaruhi distribusi kekayaan, kesempatan kerja, dan keterjangkauan kebutuhan dasar. Oleh karena itu, penyelesaian persoalan kesejahteraan tidak cukup dengan mendorong masyarakat menyesuaikan gaya hidup atau menyalahkan individu yang dianggap kurang pandai mengatur keuangan. Negara juga perlu memastikan tersedianya lapangan kerja, mengawasi praktik ekonomi yang merugikan masyarakat, serta menjamin akses terhadap kebutuhan dasar.
Islam sebagai Solusi dalam Mengatur Kehidupan
Dalam Islam, persoalan kesejahteraan perlu diselesaikan melalui pembenahan perilaku individu sekaligus pengaturan kehidupan ekonomi oleh negara. Sebagai agama yang kaffah atau menyeluruh, Islam memiliki pandangan tersendiri mengenai konsumsi, pengelolaan harta, distribusi kekayaan, dan tanggung jawab negara terhadap rakyat. Islam mengajarkan bahwa pemenuhan kebutuhan harus didasarkan pada skala prioritas, bukan semata-mata mengikuti keinginan, mengejar gengsi, atau meniru standar konsumsi yang berkembang di masyarakat. Seorang muslim dituntut memiliki pola pikir dan pola sikap yang berlandaskan syariat sehingga mampu membedakan kebutuhan dari keinginan serta membelanjakan hartanya secara bijaksana.
Meski demikian, kesederhanaan tidak seharusnya dijadikan pembenaran untuk mengabaikan tanggung jawab dalam mewujudkan kesejahteraan rakyat. Hidup hemat merupakan pilihan yang baik, tetapi masyarakat juga berhak memperoleh kesempatan untuk hidup layak melalui pekerjaan dan pendapatan yang memadai. Tanggung jawab mewujudkan kehidupan yang layak tidak cukup dibebankan kepada individu dan masyarakat. Negara juga berkewajiban mengurus rakyat serta menciptakan kondisi yang memungkinkan setiap keluarga memenuhi kebutuhan hidupnya.
Dalam konsep ekonomi Islam, negara berkewajiban menjamin pemenuhan kebutuhan pokok setiap individu melalui mekanisme yang sesuai dengan syariat. Salah satunya adalah menyediakan kesempatan kerja yang layak agar setiap orang yang bertanggung jawab menafkahi keluarganya dapat menjalankan kewajiban tersebut secara makruf. Adapun kebutuhan dasar publik, seperti pendidikan, kesehatan, dan keamanan, merupakan bagian dari tanggung jawab negara untuk disediakan dan dijamin aksesnya bagi masyarakat. Dengan pengelolaan yang tepat, layanan tersebut diharapkan dapat dijangkau secara luas tanpa membebani keluarga dengan biaya yang menghalangi pemenuhan kebutuhan lainnya.
Selain itu, sumber daya alam yang termasuk dalam kepemilikan umum harus dikelola sesuai dengan ketentuan syariat dan dimanfaatkan untuk kemaslahatan rakyat. Dalam kerangka ini, sumber daya strategis tidak semestinya dikuasai secara privat apabila bertentangan dengan ketentuan kepemilikan dalam Islam. Hasil pengelolaannya dapat dimanfaatkan untuk membiayai berbagai kebutuhan publik sehingga masyarakat tidak terus-menerus dibebani biaya untuk memperoleh layanan dasar.
Jangan Normalisasi Keterpaksaan
Pada akhirnya, fenomena downgrade lifestyle tidak seharusnya hanya dipandang sebagai tren hidup sederhana yang patut dinormalisasi. Sebab, di balik keputusan menurunkan standar hidup, bisa jadi ada masyarakat yang sedang berjuang mempertahankan kesejahteraannya di tengah tekanan ekonomi. Kesederhanaan memang merupakan sikap yang baik, tetapi keterpaksaan akibat ketidakmampuan memenuhi kebutuhan hidup bukanlah kondisi yang seharusnya dianggap wajar.
Oleh karena itu, penyelesaian persoalan ekonomi tidak cukup hanya dengan mengajak masyarakat berhemat atau menyesuaikan gaya hidup dengan kemampuan ekonomi yang semakin terbatas. Dibutuhkan perubahan mendasar dalam pengaturan ekonomi, termasuk peran negara sebagai ra'in (pengurus rakyat) yang bertanggung jawab terhadap pemenuhan kebutuhan masyarakat, serta penerapan sistem ekonomi Islam yang mengatur kepemilikan, distribusi kekayaan, dan pengelolaan sumber daya alam sesuai syariat.
Dengan demikian, kesejahteraan bukan sekadar tentang kemampuan membeli barang mewah, melainkan tentang terjaminnya kebutuhan pokok setiap individu dan terciptanya kehidupan yang layak. Islam menawarkan solusi yang tidak hanya membentuk individu agar hidup sederhana dan bijaksana dalam membelanjakan harta, tetapi juga menempatkan negara sebagai pihak yang bertanggung jawab dalam mengurus urusan rakyat. Dengan penerapan Islam secara menyeluruh, diharapkan kesejahteraan dapat terwujud secara adil dan masyarakat tidak terus-menerus dipaksa menurunkan standar hidupnya akibat tekanan ekonomi.
Wallahu a'lam bish-shawab.
Via
OPINI
Posting Komentar