OPINI
Peran Santri dan Ulama dalam Menyongsong Peradaban Islam
Oleh: Pudji Arijanti
(Pegiat Literasi Untuk Peradaban)
TanahRibathMedia.Com—Jutaan santri di seluruh Indonesia, serentak memperingati Hari Santri Nasional 2026 pada 22 Oktober. Kali ini dari Kementerian Agama mengambil tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonoesia Emas”. Sedangkan Nahdlatul Ulama (NU) mengangkat tema “Menguatkan Akar Tradisi, Menjaga Keutuhan Negeri” (Antara, 18 Oktober 2026).
Momentum pada Hari Santri 2026 menjadi dasar untuk memperkuat peran santri dalam pembangunan Indonesia. Tidak hanya sebagai pewaris tradisi Islam, santri diharapkan tampil sebagai generasi berkarakter, produktif, kreatif, adaptif, dan mampu berkontribusi di berbagai bidang, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, memiliki kemandirian ekonomi, kepedulian sosial, serta mengamalkan nilai agama dan kebangsaan dalam kehidupan bermasyarakat.
Santri di negeri ini jumlahnya mencapai jutaan. Menurut Data Kementerian Agama (Kemenag) RI per Oktober 2026, jumlah santri terverifikasi (By Name By Address / BNBA) mencapai 4.634.406. Mereka tersebar di puluhan ribu pondok pesantren di Indonesia.
Jika dipahami, santri dan pesantren tidak dapat dihilangkan dari tonggak perjuangan dalam kemerdekaan Indonesia. Melalui gerakan resolusi jihad pada 22 Oktober 1945, di bawah komando para ulama, secara nyata mengusir penjajah yang ingin merampas kembali kemerdekaan Indonesia.
Santri Harapan Kebangkitan Umat
Jika menengok kembali perjuangan para santri bersama ulama pada masa perjuangan, kemudian setelah masa kemerdekaan, santri didorong untuk berperan aktif dalam pembangunan, berdaya secara ekonomi jelas akan membajak peran hakiki santri sebagai kader Ulama. Padahal santri memiliki peran strategis menjadi kader ulama, sekaligus pejuang penegak peradaban Islam.
Sangat disayangkan jika peringatan hari santri dari tahun ketahun masih menjadi ajang seremonial dan kompetisi seni, olahraga dan ketrampilana. Harusnya, peringatan Hari Santri menjadi momentum kebangkitan peran strategis santri dalam perjuangan Islam. Santri tidak hanya dituntut menguasai ilmu agama, tetapi juga mengemban dakwah Islam untuk membina umat, melakukan amar makruf nahi mungkar, serta membangun kesadaran politik Islam. Terlebih di tengah dominasi sistem kapitalisme sekuler, santri dan pesantren perlu kembali mengambil peran dalam memperjuangkan penerapan Islam secara kafah dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Kehidupan pesantren akan menjadikan para santri memiliki pengamalan dalam nilai-nilai agama dan perjuangan setelah terjun ditengah masyarakat. Santri tidak hanya menjadi sumber daya manusia yang produktif bagi pembangunan negara, melainkan menjadi rujukan umat dan berperan dalam memperbaiki kehidupan masyarakat. Santri tidak terjebak pada nilai-nilai nasionalisme yang dapat menghancurkan perjuangan kebangkitan umat. Sehingga, energi dan pemikirannya tidak hanya tercurah pada persoalan umat di dalam negeri, tetapi juga pada nasib saudara-saudara Muslim di berbagai belahan dunia yang saat ini mengalami kezaliman luar biasa.
Kembalikan Pesantren Pada Khitah Semula
Pesantren harusnya mampu melahirkan kader ulama faqih fiddin serta memiliki kesadaran politik Islam. Bukan untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja atau mendukung ekonomi negara, melainkan untuk membina kebangkitan umat dengan pemikiran dan hukum-hukum Islam. Meluruskan pemahaman yang menyimpang, serta menjalankan amar makruf nahi mungkar.
Hari ini mengembalikan pesantren dan santri pada fungsinya adalah kebutuhan mendesak yang tidak bisa ditawar lagi. Kerusakan di setiap lini kehidupan makin mengkawatirkan. Dengan demikian, pesantren menjadi tempat lahirnya generasi pejuang tegaknya syariat Islam yang dipersiapkan menjadi pemimpin dan berjuang untuk membangun kembali peradaban Islam di seluruh dunia. Karena sesungguhnya, hanya akidah serta keimanan yang mendasar mampu menyatukan seluruh kaum muslim dengan menyingkirkan sekat-sekat negara bangsa, sehingga menjadi satu kepemimpinan yakni Khalifah dan satu institusi, Khilafah Islamiyah serta satu institusi politik umat yang bersatu di seluruh dunia.
Wallahu'alam bissawab.
Via
OPINI
Posting Komentar