Telusuri
  • Pedoman Media
  • Disclaimer
  • Info Iklan
  • Form Pengaduan
Tanah Ribath Media
Pasang Iklan Murah
  • Home
  • Berita
    • Nasional
    • Lensa Daerah
    • Internasional
  • Afkar
    • Opini Tokoh
    • Opini Anda
    • Editorial
  • Remaja
    • Video
  • Sejarah
  • Analisa
    • Tsaqofah
    • Hukum
  • Featured
    • Keluarga
    • Pernikahan
    • Pendidikan Anak
    • Pendidikan Remaja
    • FiksiBaru
Tanah Ribath Media
Telusuri
Beranda OPINI Pengikisan Akar Zaitun di Palestina dan Urgensi Kepemimpinan Umat
OPINI

Pengikisan Akar Zaitun di Palestina dan Urgensi Kepemimpinan Umat

Tanah Ribath Media
Tanah Ribath Media
26 Okt, 2026 0 0
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp

Oleh: Prayudisti SP
(Sahabat Tanah Ribath Media)

TanahRibathMedia.Com—Pohon zaitun bukan sekadar komoditas pertanian di Tepi Barat, melainkan simbol identitas, kehormatan, dan keterikatan mendalam rakyat Palestina dengan tanah air mereka. Lebih dari 90.000 keluarga bergantung secara ekonomi pada hasil panen zaitun, yang menyumbang sekitar 8 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Palestina. Namun, setiap kali musim panen tiba di bulan Oktober dan November, kebun-kebun zaitun bertransformasi menjadi medan pembantaian dan perusakan masif.

Sejak awal musim panen zaitun tahun 2026 ini, eskalasi kejahatan pemukim ilegal Yahudi yang disokong tentara pendudukan (IDF) meningkat drastis. Tercatat lebih dari 200 serangan dilancarkan, mengakibatkan satu warga Palestina gugur, lebih dari 120 orang luka-luka, dan tak kurang dari 2.500 pohon zaitun dirusak serta dibuldoser (CNN Indonesia, 28-9-2026). Bahkan, seperti dilaporkan Al Jazeera (16/10/2026), para jurnalis, aktivis kemanusiaan, hingga diplomat internasional yang mendampingi petani tak luput dari intimidasi dan kekerasan fisik.

Merespons aksi brutal tersebut, Sekretaris Negara AS Marco Rubio dan Duta Besar AS untuk Israel Mike Huckabee menyuarakan kekhawatiran atas serangan terhadap jurnalis AS dan meminta penyelidikan (Economic Times, 17-10-2026). Begitu pula Uni Eropa (European Union) yang melayangkan kecaman keras usai diplomat mereka diserang (TRT Indonesia, 18-10-2026). Namun, sebagaimana tragedi sebelum-sebelumnya, kecaman Barat hanyalah retorika hampa tanpa tindakan konkret. Kepedulian AS dan Uni Eropa terbukti hanya sebatas karena korbannya melibatkan warga negara atau diplomat mereka sendiri, bukan atas dasar kepedulian tulus terhadap penindasan sistematis yang dialami bangsa Palestina.

Target utama dari aksi brutal pengikisan kebun zaitun ini sangat jelas: meruntuhkan fondasi ekonomi dan mencabut akar budaya rakyat Palestina agar mereka menyerah lalu angkat kaki dari tanah kelahirannya. Sementara penyerangan terhadap jurnalis dan aktivis sengaja dilakukan untuk menghentikan pendampingan lapangan serta menyumbat aliran informasi agar kejahatan perang tersebut tidak terekspos ke dunia internasional. Sayangnya, meski kebencian warga dunia terhadap kebrutalan entitas zionis terus membuncah, situasi di lapangan tak kunjung berubah. Para penguasa negeri-negeri Muslim, khususnya di wilayah Arab, justru memilih bungkam, bersikap apatis, bahkan bertindak sebagai perpanjangan tangan agenda politik AS dan Israel.

Dalam pandangan Islam, Palestina bukan sekadar wilayah geografis, melainkan Tanah Mubarak (Al-Ardhum Muqaddasah) yang menjadi bagian tak terpisahkan dari akidah umat Islam. Di sanalah letak Masjidil Aqsa, kiblat pertama kaum Muslimin dan tempat dilangsungkannya Isra Mi'raj Rasulullah saw. Allah Swt. berfirman:

Ù…ُبَٰرَÙƒًا Ø­َÙˆْÙ„َÙ‡ُÛ¥ Ù„ِÙ†ُرِÙŠَÙ‡ُÛ¥ Ù…ِÙ†ْ Ø¡َايَٰتِÙ†َآ ۚ Ø¥ِÙ†َّÙ‡ُÛ¥ Ù‡ُÙˆَ ٱلسَّÙ…ِيعُ ٱلْبَصِيرُ ...

“...yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Al-Isra [17]: 1)

Sejarah mencatat betapa Islam sangat menjaga dan mempertahankan setiap jengkal tanah Palestina. Ketika Khalifah Umar bin Khattab ra. menerima penyerahan Yerusalem dari Uskup Sophronius melalui Perjanjian Elia (Jatuhnya Aelia), kebebasan beragama, keselamatan jiwa, dan harta milik warga dijamin penuh di bawah naungan Khilafah Islamiyyah. Begitu pula ketika Perang Salib berkecamuk, Sultan Salahuddin Al-Ayyubi mengerahkan seluruh kekuatan tentara Muslim untuk membebaskan Baitul Maqdis dari pendudukan kaum Salib. Bahkan di era kemunduran Daulah Utsmaniyah, Sultan Abdul Hamid II secara tegas menolak mentah-mentah tawaran Theodor Herzl yang ingin membeli tanah Palestina dengan emas berlapis, seraya menegaskan bahwa tanah Palestina adalah milik seluruh umat Islam yang disirami oleh darah para syuhada.

Realitas kelam yang melanda Palestina hari ini menjadi bukti tak terbantahkan bahwa umat Islam tidak bisa lagi menggantungkan nasib dan harapannya pada lembaga internasional seperti PBB, kecaman simbolis Barat, maupun diplomasi palsu para penguasa pengkhianat. Satu-satunya cara untuk memutus kezaliman entitas penduduk Israel beserta sekutu utamanya adalah melalui persatuan hakiki umat dalam naungan kepemimpinan global (Khilafah) yang bertindak sebagai perisai (junnah).

Rasulullah saw. menegaskan fungsi seorang pemimpin dalam Islam:

Ø¥ِÙ†َّÙ…َا الْØ¥ِÙ…َامُ جُÙ†َّØ©ٌ ÙŠُÙ‚َاتَÙ„ُ Ù…ِÙ†ْ ÙˆَرَائِÙ‡ِ ÙˆَÙŠُتَّÙ‚َÙ‰ بِÙ‡ِ

“Sesungguhnya seorang Imam (pemimpin) itu adakalanya menjadi perisai, di mana orang-orang akan berperang di belakangnya dan berlindung dengannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sudah saatnya sekat-sekat nasionalisme dihancurkan dan tentara-tentara di negeri Muslim digerakkan di bawah komando kepemimpinan Islam untuk membebaskan Al-Aqsa dan melindungi rakyat Palestina. Hanya dengan ketegasan militer dan persatuan politik umat Islam secara utuh, akar zaitun dan kehormatan bumi Palestina akan kembali terjaga.
Via OPINI
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Postingan Lama
Postingan Lebih Baru

Anda mungkin menyukai postingan ini

Posting Komentar

- Advertisment -
Pasang Iklan Murah
- Advertisment -
Pasang Iklan Murah

Featured Post

Menjarah di Atas Derita: Mengapa Hukum Manusia Gagal Menghentikan Korupsi Bencana?

Tanah Ribath Media- Oktober 26, 2026 0
Menjarah di Atas Derita: Mengapa Hukum Manusia Gagal Menghentikan Korupsi Bencana?
Oleh: Putri Ramadhini, S.I.Kom (Sahabat Tanah Ribath Media) TanahRibathMedia.Com— Saat rakyat menghadapi bencana, mereka berharap negara hadir. Nam…

Most Popular

Maraknya Bullying: Cermin Sistem Pendidikan yang Gagal

Maraknya Bullying: Cermin Sistem Pendidikan yang Gagal

Oktober 19, 2026
Menakar Bekal di Kursi Makan

Menakar Bekal di Kursi Makan

Oktober 20, 2026
Mengklaim Tanah Palestina, Israel Melanggar Hukum Internasional

Mengklaim Tanah Palestina, Israel Melanggar Hukum Internasional

Oktober 22, 2026

Editor Post

Tak Habis Pikir

Tak Habis Pikir

Juni 11, 2023
Anak Terjerat Prostitusi Online, Dimana Perlindungan Negara?

Anak Terjerat Prostitusi Online, Dimana Perlindungan Negara?

Agustus 06, 2024
Lebih dari 70 Muslimah Hadiri Talk Show Kajian Risalah Akhir Tahun 2023

Lebih dari 70 Muslimah Hadiri Talk Show Kajian Risalah Akhir Tahun 2023

Januari 01, 2024

Popular Post

Maraknya Bullying: Cermin Sistem Pendidikan yang Gagal

Maraknya Bullying: Cermin Sistem Pendidikan yang Gagal

Oktober 19, 2026
Menakar Bekal di Kursi Makan

Menakar Bekal di Kursi Makan

Oktober 20, 2026
Mengklaim Tanah Palestina, Israel Melanggar Hukum Internasional

Mengklaim Tanah Palestina, Israel Melanggar Hukum Internasional

Oktober 22, 2026

Populart Categoris

Tanah Ribath Media

Tentang Kami

Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Contact us: contact@gmail.com

Follow Us

Copyright © 2023 Tanah Ribath Media All Right Reserved
  • Disclaimer
  • Privacy
  • Advertisement
  • Contact Us