OPINI
Tepi Barat Diklaim Israel, Ilusi Solusi Dua Negara
Oleh: Mayda
(Muslimah Peduli Generasi)
TanahRibathMedia.Com—Itamar Ben-Gvir sebagai Menteri Keamanan Nasional Israel mengklaim bahwa seluruh tiga wilayah administratif di Tepi Barat adalah “milik Israel”. Pernyataan tersebut bertentangan dengan peraturan yang ditetapkan dalam kesepakatan antara Israel dan Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) (metrotvnews, 3-10-2026). Pada kesepakatan Oslo II 1995, Tepi Barat dibagi menjadi tiga area A, B, dan C. Area A berada di bawah kendali penuh Palestina, Area B berada di bawah kendali sipil Palestina dan kendali keamanan Israel. Sedangkan, Area C yang mencakup sekitar 60 persen wilayah Tepi Barat, berada di bawah kendali penuh Israel (metrotvnews, 3-10-2026).
Ben-Gvir mengatakan kepada stasiun televisi Channel 14 “Tidak ada perbedaan antara Area A, B, dan C. Seluruh tanah itu milik kami, ini adalah negara kami”. Ben-Gvir juga mengancam akan membubarkan Otoritas Palestina serta mendorong pemindahan penduduk Palestina dari Tepi Barat dan Jalur Gaza jika dirinya menjadi menteri pertahanan. Ia mengklaim 60 persen penduduk Palestina ingin “beremigrasi”, meski terdapat laporan berlawanan dengan klaim tersebut (metrotvnews, 3-10-2026).
Ambisi Israel Raya dan Kegagalan Solusi Dua Negara
Belum selesai penderitaan saudara kita di Gaza sejak perang Israel dimulai pada Oktober 2023. Saat ini genap tiga tahun dan Penduduk Gaza masih terus diserang secara brutal oleh militer Zionis Israel. Zionis akan terus melancarkan serangan sampai keinginan mereka berhasil untuk menguasai seluruh wilayah Palestina termasuk Tepi Barat dan Gaza demi mewujudkan Israel Raya atau Greater Israel. Konsep Israel Raya, menurut pendiri Zionisme Theodore Herzl, adalah Negara Yahudi yang membentang dari Sungai Mesir hingga Efrat. Jadi, cakupan wilayah ini meliputi:
1. Palestina yang bersejarah
2. Libanon Selatan hingga Sidon dan Sungai Litani
3. Dataran Tinggi Golan Suriah, dataran Hauran, dan Deraa
4. Jalur Kereta Api Hejaz dari Deraa hingga Amman, Yordania, serta Teluk Aqaba.
Laporan PBB pada 2017, Israel melanjutkan rencana untuk mengambil sebagian besar wilayah Palestina sembari membuat penduduk Palestina dalam kondisi kekurangan dan terisolasi yang parah. Ide Israel Raya telah memicu agresi di seluruh penjuru dunia, apa yang mereka lakukan terlihat berubah menjadi kekerasan dan pembataian. Saat pasukan Israel menyerbu Masjid Al-Aqsa, umat Islam di seluruh dunia mulai berunjuk rasa di jalan-jalan dan media sosial untuk menunjukkan aksi protes atas kekejaman Israel pada Palestina. Agresi Israel dinilai sebagai tindakan genosida di Jalur Gaza, Palestina. Genosida, penghancuran Gaza, perampasan pemukiman Palestina di Tepi Barat, pembakaran puluhan masjid di Tepi Barat, pendudukan komplek Al Aqsha adalah kejahatan besar Zionis Israel kepada Islam dan umat Islam diseluruh dunia.
Keputusan Amerika terkait perdamaian perang Palestina dan Israel, yaitu Two-State Solution, atau solusi dua negara, Dimana tanah Palestina diputuskan akan dibagi dan diberikan kepada Israel yang notabene adalah penjajah. Solusi dua negara sering dilontarkan dan pernah juga diterapkan, tapi pada kenyataannya Israel terus mengambil wilayah Palestina hingga detik ini. Tidak hanya tanah yang dirampas, penduduk Palestina juga digenosida, dilaparkan, disiksa, dihina, dan diisolasi wilayahnya. Solusi dua negara yang selalu digaungkan AS, negara sekutu dan para penguasa negeri muslim hanyalah kebohongan dan ilusi.
Khilafah sebagai Pelindung Palestina
Ilusi penyelesaian dengan Two-State atau pengakuan akan kedaulatan Palestina yang dilakukan banyak negara juga akan terasa sia-sia karena tidak menyentuh akar masalah, karena Two-State tetap dibawah kontrol Israel atas Palestina. Zionis Israel akan merampas seluruh wilayah Palestina dan menyempurnakan genosida dan pengusiran penduduk Palestina hingga seluruh wilayah Palestina mereka ambil. Pengkhianatan semakin terlihat jelas terhadap perjuangan Palestina, ketika baru-baru ini pemimpin negara Arab bertemu dengan Netanyahu dengan agenda penguatan hubungan bilateral dan tantangan regional.
Maka solusinya bukan lagi melalui jalur diplomasi, kejahatan zionis Israel sudah tidak dapat ditolerir, bahkan wajib diperangi dengan menerapkan syariat jihad fii sabilillah. Kondisi ini akan tuntas jika ada persatuan umat Islam dalam naungan Daulah Khilafah sebagai pelindung umat. Khalifah akan memimpin umat untuk melawan zionis Israel, sebagaimana Rasulullah ï·º mengusir kaum Yahudi dari Madinah. Dalam Daulah Khilafah tidak hanya penduduk Palestina yang merdeka, tetapi seluruh umat muslim dan juga nonmuslim akan merasakan kemerdekaan dari penjajah zionis. Maka, bersegeralah merapatkan barisan, umat Islam harus terus berjuang untuk menegakkan Khilafah, karena solusi hakiki hanya bisa terselesaikan dalam naungan Daulah Khilafah.
Wallahu a‘lam bish-shawwab.
Via
OPINI
Posting Komentar