Telusuri
  • Pedoman Media
  • Disclaimer
  • Info Iklan
  • Form Pengaduan
Tanah Ribath Media
Pasang Iklan Murah
  • Home
  • Berita
    • Nasional
    • Lensa Daerah
    • Internasional
  • Afkar
    • Opini Tokoh
    • Opini Anda
    • Editorial
  • Remaja
    • Video
  • Sejarah
  • Analisa
    • Tsaqofah
    • Hukum
  • Featured
    • Keluarga
    • Pernikahan
    • Pendidikan Anak
    • Pendidikan Remaja
    • FiksiBaru
Tanah Ribath Media
Telusuri
Beranda OPINI Nyawa Melayang di Pengungsian, Potret Lemahnya Kapasitas Negara
OPINI

Nyawa Melayang di Pengungsian, Potret Lemahnya Kapasitas Negara

Tanah Ribath Media
Tanah Ribath Media
13 Okt, 2026 0 0
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp

Oleh: Pudji Arijanti
(Pegiat Literasi untuk Peradaban)

TanahRibathMedia.Com-Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan, korban tewas akibat gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT) sebanyak 48 jiwa. Akan tetapi, terdapat 94 jiwa meninggal di tenda pengungsian. DPR RI sebagai lembaga wakil rakyat mendorong melakukan audit 
terhadap kondisi pengungsi pascagempa besar di NTT (Republika, 17 September 2026).

Gagap Bencana

Kapasitas penanganan pemerintah terhadap korban gempa di pengungsian terbukti sangat lemah. 
Pada umumnya pemerintah hanya memiliki terpal standar darurat atau tenda biasa. Sebab, tenda khusus tahan cuaca ekstrem butuh biaya sangat besar. Apalagi, bencana meluas dan jumlah pengungsi melonjak. Birokrasi yang lambat dan akses jalan yang rusak menuju lokasi memperparah kondisi pengungsi semakin memburuk.

Hal seperti ini menunjukkan pergeseran peran negara dalam sistem kapitalisme sekuler, yang seharusnya rakyat menjadi urusan negara justru dalam kondisi terjepit peran negara nihil. Bahkan pada kondisi tertimpa bencana, negara begitu gagap dalam memberikan bantuan pada rakyat. 

Sebenarnya negara telah berupaya mengurusi bencana tersebut, akan tetapi masih setengah hati. Jika dipahami, dalam sistem kapitalisme sekuler ketika negara mengurusi rakyat yang andil terlebih dahulu adalah perkiraan biaya, untung dan rugi. Sehingga, ketika mengurus pengungsi dianggap beban biaya, bukan kewajiban mutlak yang harus dipenuhi berapa pun nilainya.
Pantas saja, hingga hari ini negara tidak berfungsi optimal dalam kepengurusan terhadap rakyat.

Penjagaan Jiwa dalam Islam

Kapitalisme berbeda dengan Islam dalam memandang jiwa. Dalam Syariat Islam, jiwa adalah suatu hal yang wajib dijaga, negara pelindungnya. Sehingga, apapun yang terkait dengan jiwa merupakan hak dasar setiap individu yang harus dijamin oleh negara. 

Oleh sebab itu, Islam dalam sistem Khilafah mewajibkan penguasa menggerakkan fungsi riayah dengan memastikan bahwa, seluruh rakyat menikmati kesejahteraan. Rakyat terpenuhi sandang, pangan, papan, kesehatan, pendidikan dan keamanan.

Dalam sistem pemerintahan Islam, Khilafah menjalankan roda pemerintahan ditopang oleh APBN baitulmal. Sistem ekonomi Islam dan sistem keuangan Islam, merupakan motor penggerak ekonomi dalam menjalankan fungsinya memberikan pelayanan kesehatan masyarakat. Anggaran didapatkan dari pemasukan pos-pos yang telah ditentukan. Salah satunya adalah: pengelolaan sumber daya alam merupakan milkiyah 'ammah. Hasilnya dikelola negara dan didistribusikan untuk kemaslahatan seluruh rakyat tanpa kecuali.

Kebijakan Khilafah

Karena kesehatan merupakan kebutuhan publik maka, Khilafah memiliki kebijakan konkret dalam memberikan fasilitas kesehatan secara gratis dan berkwalitas. Salah satu contoh yang wajib diketahui, Khilafah pernah membangun jaringan Bimaristan rumah sakit bebas biaya di pusat-pusat kota di Kairo dan Damaskus. Bimaristan menjadi bukti jika pada sistem Khilafah kesehatan menjadi perhatian negara. Tidak hanya itu, seluruh  pengobatan dan sakit apapun negara yang menanggung biayanya, yang diambilkan dari pasokan baitulmal. Bahkan, setelah dinyatakan sembuh diberi sejumlah uang saku pemulihan dan baju baru. Karena, dinilai belum mampu bekerja kembali setelah sakit.

Secara Historis, negara Khilafah juga pernah membangun "mobil hospital". Tujuannya, untuk melayani desa-desa terpencil dengan menggunakan unta/kereta. Waktu itu menggunakan unta sebagai tumpangan dokter ataupun untuk membawa obat-obatan. Langkah ini, untuk mengantisipasi daerah-daerah yang terisolasi. Bahkan terdapat dokter keliling memeriksa kesehatan para tahanan.

Sertifikasi dokter, riset dan laboratorium negara untuk Standarisasi merupakan kebijakan negara dalam menguji keamanan obat sebelum dibagikan kepada masyarakat. Tidak kalah penting sanitasi lingkungan (air bersih, makanan dan fasilitas umum) untuk pencegahan wabah penyakit, karantina wilayah juga diperhatikan kholifah (Referensi: Buku Politik Pemeliharaan Kesehatan Negara Khilafah, Kitab Al Amwal).

Dengan demikian, tidak diragukan lagi bahwa Khilafah mampu meriayah rakyat secara optimal dan maksimal. Saat ini, yang dibutuhkan rakyat adalah sebuah sistem yang dapat memenuhi seluruh hajat hidup. Oleh sebab itu, merupakan kewajiban bagi seluruh manusia untuk menghadirkan sistem Khilafah, agar kehidupan tidak sulit seperti saat ini. Butuh perjuangan politik hakiki agar cita-cita segera terwujud. 
Wallahu'alam bissawab.
Via OPINI
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Postingan Lama
Postingan Lebih Baru

Anda mungkin menyukai postingan ini

Posting Komentar

- Advertisment -
Pasang Iklan Murah
- Advertisment -
Pasang Iklan Murah

Featured Post

Ketika Pengungsian Tak Lagi Menjadi Tempat Aman: Potret Lemahnya Perlindungan Negara terhadap Rakyat

Tanah Ribath Media- Oktober 12, 2026 0
Ketika Pengungsian Tak Lagi Menjadi Tempat Aman: Potret Lemahnya Perlindungan Negara terhadap Rakyat
Oleh: Syifa Rafida   (Sahabat Tanah Ribath Media) TanahRibathMedia.Com— Bayangkan, setelah berhasil selamat dari guncangan gempa, seseorang justru …

Most Popular

Dampak Asap Karhutla, Ancaman Kesehatan, dan Tanggung Jawab Siapa

Dampak Asap Karhutla, Ancaman Kesehatan, dan Tanggung Jawab Siapa

Oktober 04, 2026
Industrialisasi Menjamur, Warga Terpinggirkan

Industrialisasi Menjamur, Warga Terpinggirkan

Oktober 09, 2026
Perjuangan yang Besar

Perjuangan yang Besar

Oktober 04, 2026

Editor Post

Tak Habis Pikir

Tak Habis Pikir

Juni 11, 2023
Anak Terjerat Prostitusi Online, Dimana Perlindungan Negara?

Anak Terjerat Prostitusi Online, Dimana Perlindungan Negara?

Agustus 06, 2024
Lebih dari 70 Muslimah Hadiri Talk Show Kajian Risalah Akhir Tahun 2023

Lebih dari 70 Muslimah Hadiri Talk Show Kajian Risalah Akhir Tahun 2023

Januari 01, 2024

Popular Post

Dampak Asap Karhutla, Ancaman Kesehatan, dan Tanggung Jawab Siapa

Dampak Asap Karhutla, Ancaman Kesehatan, dan Tanggung Jawab Siapa

Oktober 04, 2026
Industrialisasi Menjamur, Warga Terpinggirkan

Industrialisasi Menjamur, Warga Terpinggirkan

Oktober 09, 2026
Perjuangan yang Besar

Perjuangan yang Besar

Oktober 04, 2026

Populart Categoris

Tanah Ribath Media

Tentang Kami

Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Contact us: contact@gmail.com

Follow Us

Copyright © 2023 Tanah Ribath Media All Right Reserved
  • Disclaimer
  • Privacy
  • Advertisement
  • Contact Us