OPINI
Melindungi Mental Anak, Bukan Sekadar Aplikasi
Oleh: Lisa Herlina
(Aktivis Muslimah Medan)
TanahRibathMedia.Com—Di penghujung September Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) Cabang Sumut menyelenggarakan Seminar Awam Kesehatan Jiwa di Aula RS Prof. dr CPL USU, Medan, Selasa, 22 September 2026 (Waspada.id, 22-09-2026).
Adapun Seminar tersebut merupakan bagian dari rangkaian Road to World Mental Health Day 2026 dengan tema "Parenting for Mental Wellbeing". Kegiatan ini mengajak masyarakat faham akan pentingnya kesehatan mental dalam pengasuhan, khususnya dalam menghadapi tekanan, kecemasan, dunia digital juga berbagai tantangan dalam hubungan orang tua dan anak.
Dalam seminar tersebut juga peserta diperkenalkan dengan aplikasi TrackerMood sebagai sebuah sarana pemantauan suasana perasaan secara mandiri. Aplikasi tersebut diharapkan mampu membantu masyarakat mengenali perubahan kondisi emosional waktu ke waktu sekaligus meningkatkan kesadaran untuk mencari bantuan profesional ketika keluhan datang dan mengganggu kehidupan sehari-hari. Menjadi pertanyaan, apakah anak-anak butuh aplikasi yang menjawab sakit mental mereka dan seberapa berpengaruh terhadap mental anak?
Sekularisme Biang Kerok Sakit Mental
Laporan KPAI (2024-2025) dan Data Healinh119.id (2025) menunjukkan beberapa penyebab krisis kesehatan mental pada anak yaitu konflik keluarga dan pola asuh yang tidak sehat (24-46%), bullying (14-18%), masalah psikologis individu (8-26%) dan tekanan akademik (7-16%).
Dunia digital juga berpengaruh dalam mempercepat faktor tersebut. Media sosial menjadi sarana cyber bullying, fomo (fear or missing out), terpengaruh algoritma dan dorongan konten terus menerus, kecemasan sosial sampai pada gangguan pola tidur akibat screen time pada malam hari menjadi support system yang melemahkan kondisi psikologis anak. Belum lagi terpapar tayangan pornografi dan kecanduan game online menjadi fenomena meningkatbya kasus gangguan jiwa pada anak.
Seolah merasa sudah melakukan perbaikan di sana sini, pemerintah justru berpacu pada perbaikan lewat administratif maupun pendayagunaan platform media termasuk pengadaan aplikasi untuk memantau suasana hati. Padahal regulasi itu saja tidak cukup. Karena problem yang di hadapi anak adalah bersifat sistemis.
Anak hidup dalam suasana kehidupan liberalisme sekularisme yaitu kebebasan. Bebas bertingkah laku, bebas berekspresi, beragama. Sehingga ia hidup dalam zona tidak aman bagi pertumbuhan mentalnya. Masyarakat hari ini didominasi persaingan untuk menjadi "si paling" secara materi (kaya, pintar, eksis, dll). Maka ketika kalah dalam persaingan atau gagal meraih kesuksesan materi, psikologis anak down berujung depresi.
Dalam dunia pendidikan, sistem sekuler menjadikan anak jauh dari fitrahnya. Pendidikan agama yang minimalis dan cara pandang sekuler kapitalis tolak ukurnya untung dan rugi apa ya jika aku melakukan itu. Akibatnya, anak mudah melakukan bullying terhadap temannya yang lemah, baik secara psikis maupun materi. Bullying menjadikan mental korban bermasalah, bahkan bisa berujung depresi dan bunuh diri.
Dalam keluarga juga memegang peranan sangat penting untuk kesehatan mereka. Bagaimana tidak, seharusnya rumah sebagai tempat pulang namun keluarga dibawah sistem sekularisme fungsi keluarga menjadi rapuh bahkan runtuh. Maraknya fenomena fatherless dan berjamurnya perceraian, konflik dalam keluarga dan pola asuh menjadi salah satu indikasi sebab masalah kejiwaan anak. Belum lagi kepungan tayangan media sosial. Gaya hidup yang liberal disana-sini bertebaran di medsos. Pornografi, game online, predator seksual juga tak lepas mengintai anak kita.
Namun alih-alih pembatasan usia, upaya mengakses medsos hanya mengatur sistem elektroniknya saja (PSE), tapi anak tetap bisa mengakses dengan akun yang lain semisal akun yang bukan miliknya atau akun palsu. Regulasi dalam game online hanya sistem rating. Sedangkan tidak ada jaminan bahwa anak akan mematuhi sistem rating tersebut.
Dalam hal ini, pemerintah harusnya diharapkan hadir manjadi benteng pelindung anak. Namun makin kesini malah menambah 'beban kewarasan'. Anak-anak justru dibiarkan bergentayangan di dunia nyata maupun dunia maya dalam menyikapi konten-konten negatif. Massifnya promosi l687 dan pornografi baik di internet, game online, grup WA maupun telegram. Begitu juga adanya tontonan kekerasan yang menjadi inspirasi terjadinya kekerasan hingga pembunuhan.
Publik figur yang harusnya menjadi teladan juga tak lepas mempengaruhi. Gaya hidup liberal yang hedonis, flexing, foya-foya, berkata kasar, mabuk-mabukan yang dilakukan secara live. Belum lagi influencer yang terang-terangan melakukan living together, berbangga diri hamil diluar nikah, ada yang childfree bahkan sampai murtad. Na'uzubillah.
Semua tayangan tersebut sangat mudah diakses anak-anak dan akhirnya menjauhkan mereka dari agama. Akibatnya mental mereka rapuh. Di dunia hiburan sendiri, mereka berdalih kebebasan. Dan parahnya negara justru membiarkan beredarnya konten-konten yang merusak tersebut. Kalaupun ada sanksi nya tidak memberikan efek jera.
Kesehatan Mental dalam Islam
Mental yang sehat merupakan kebutuhan yang tak bisa dilepaskan dengan adanya keyakinan mendasar. Keyakinan mendasar ini harus dimiliki oleh setiap individu yang mengaku Islam. Dalam Islam, akidah merupakan asas tempat masyarakat berpijak (Syekh Taqiyuddin An Nangani, Nizam al-Islam, hlm.52). Inilah yang menjadikan segala penyelesaian masalah manusia asasnya pada akidah.
Akidah menjadi kaidah berfikir dan kepemimpinan berfikir. Akidah Islam itu sesuai dengan fitrahnya manusia yang berupa pengakuan akan lemah dan butuhnya diri manusia pada sang Khaliq. Ini dibangun dengan proses berfikir melalui akal. Dengan memiliki aqidah Islam, maka setiap individu akan merasakan jiwanya yang tentram dan tenang. Yakin bahwa Allah itu adalah Maha Pengatur, Maha Kuasa, Maha Pemberi Rezeki serta Maha Kaya akan membuat manusia bersandar dan meminta pertolongan hanya kepada Allah Ta'ala. Allah berfirman dalam surah Al Ikhlas ayat 2 yang artinya : " Allah tempat meminta segala sesuatu".
Dengan keyakinan atau akidah Islam, maka lahirlah individu (anak) yang bertakwa. Imannya teguh pendirian, tidak mudah cemas ataupun depresi. Ini menjadikan salah satu support internal dalam masalah mental anak. Di dalam negara yang menerapkan sistem Islam (khilafah) jaminan kesehatan mental masyarakat itu ditangan negara. Negara sebagai raa'in (pengurus urusan rakyat) dengan serius. Negara akan menanamkan aqidah jam melalui proses berfikir dengan akalnya. Aqidah ini nantinya yang mendasari pemikiran, perasaan, ucapan dan tingkah laku anak sehingga terikat pada hukum syariatNya walaupun diterpa masalah apapun.
Dalam sistem pendidikan tak kalah pentingnya. Negara mensinergikan pendidikan Islam disekolah dengan pendidikan Islam di rumah. Negara dalam hal ini mengedukasi para orang tua dan anak dengan pendidikan Islam. Negara melarang pengabaian anak bagi orang tua dan apabila mereka tidak memberikan kasih sayangnya.
Sistem Islam juga melindungi jiwa anak dengan menjauhkan anak dari konten negatif yang bertentangan dengan Islam. Negara juga akan mengeluarkan undang-undang yang menjelaskan batasan umum politik dalam mengatur informasi sesuai dengan ketentuan syariat. Tidak ada celah bagi pemikiran yang sesat dan menyesatkan, yang rusak dan merusak. Masyarakat islami akan membersihkan keburukan berbagai pemikiran atau pengetahuan itu dengan memurnikan dan menjelaskan kebaikannya hingga muncullah perasaan senantiasa memuji Allah Ta'ala.
Akhirnya, kesehatan mental sangat penting untuk dicarikan solusinya sampai kepada akar. Apalagi kalau bukan dengan cara penerapan aturan Islam secara kaffah yang sesuai akal dan fitrah kita sebagai manusia, menentramkan hati menenangkan jiwa sebagaimana dirasakan umat terdahulu saat Islam memimpin selama kurang lebih 14 abad di cakupan wilayah 2/3 dunia. Sudah saatnya umat islam memperjuangkan tegaknya kembali aturan Allah kembali menyinari dunia.
Wallahu a'lam bishshawab.
Via
OPINI
Posting Komentar