OPINI
Kecanggihan AI, Antara Kekhawatiran dan Harapan
Oleh: Riska Adeliana, S.Hum.
(Sahabat Tanah Ribath Media)
TanahRibathMedia.Com—AI (Artificial Intelligence) adalah sebuah sistem kecerdasan buatan manusia yang mampu melakukan tugas pemecahan masalah seperti manusia dengan bantuan teknologi. Di sisi lain banyak manfaat yang dihasilkan dari kecerdasan AI dan di sisi lain juga kita harus pandai-pandai menggunakan kecerdasan AI karena dampaknya begitu besar jika tidak pandai menggunakannya dengan baik. Menurut CEO OpenAI Sam Altman mengatakan bahwa dunia harus siap menerima risiko timbulnya dampak buruk dari kecerdasan buatan (AI) untuk mendapat manfaat dari teknologi tersebut. Hal ini disampaikan oleh CEO Altman dalam sebuah wawancara di podcast Decoded.
CEO Altman percaya bahwa dunia harus menerima beberapa dampak negatif demi mendapat manfaat dari teknologi AI serta memberi kebebasan bagi masyarakat untuk menggunakannya secara luas (cnnindonesia.com, 5-10-2026).
Perkembangan teknologi AI dapat memberikan kemudahan dan sekaligus juga dapat menimbulkan bahaya bagi manusia. Kalau kita melihat dari kemudahan yang didapatkan dari AI yaitu bisa untuk menyelesaikan tugas dengan cepat, baik dalam bidang otomatisasi tugas-tugas rutin, berulang dan bisa menghemat waktu dan sumber daya manusia. Di bidang peningkatan produktivitas AI bisa digunakan untuk mengotomatisasi tugas-tugas, organisasi bisa meningkatkan produktivitas dan efisiensi contohnya peningkatan dalam analisa data, dan pengambilan analisa cerdas. Banyak lagi kemudahan yang didapatkan seperti menyelesaikan tugas kuliah, sekolah dan pertanyaan- pertanyaan di benak ibu-ibu.
Kalau tidak bijak menggunakannya maka dampaknya sangat besar terhadap generasi hari ini. Ketika AI dijadikan rujukan utama dalam proses akademi. Maka itu sangat bahaya karena akan menurunkan fungsi berfikir kritis, analisa mendalam, dan kemampuan bernalar secara mandiri perlahan tergeser. Generasi muda terbiasa dengan jawaban instan, bukan proses berfikir. Inilah yang menimbulkan kedangkalan berfikir dan menciptakan praktik plagiarisme.
Dalam sistem Kapitalisme, AI dikembangkan dalam rangka menjadi efisien, kecepatan dan profit sebagai tujuan utamanya. Tanpa mereka melihat dampak jangka panjang yg akan diakibatkan bagi kualitas akal dan peradaban manusia. Yang penting dalam sistem Kapitalisme adalah keuntungan yang didapatkan. Sungguh miris, dalam Sistem Kapitalisme kerusakan berfikir generasi bukan hal yang utama. Selama teknologi itu menghasilkan produktivitas dan keuntungan ekonomi. Akibatnya pendidikan pun hari ini terjebak dalam logika yang serba instan, pragmatis dan dangkal jauh dari tradisi berfikir ilmiah yang sesungguhnya pendidikan.
Dalam Pandangan Islam
Dalam Islam, manusia diberikan kemuliaan akal agar manusia bisa memahami kekuasaan Allah dan menjadi Khalifah fiil Ardhi. Kemajuan teknologi bukan menjadi tujuan dalam kehidupan, tetapi sarana untuk menghadirkan kemaslahatan bagi manusia. Teknologi dalam Islam dipandang sebagai Alat yang harus diarahkan oleh akidah dan nilai-nilai syariat. Ketika kita menggunakannya bukan atas kepentingan materi dan duniawi saja. Melainkan untuk mendukung ketaatan kepada Allah Swt. dan untuk menjaga kemuliaan manusia. Islam menetapkan hukum yang tegas. Segala bentuk hasil buatan manusia menjadi hadharoh (pandangan hidup) yang dipengaruhi oleh ideologi dan Madaniyah (benda) yang bersifat netral.
AI adalah buah dari perkembangan teknologi buatan manusia, namun AI dipengaruhi oleh berbagai informasi, pemikiran dan ideologi yang diproses menjadi satu kesatuan. Dalam Islam tidak dibiarkan pemanfaatan teknologi bisa bebas diperoleh dengan bebas tanpa ada aturan. Negara dalam sistem Islam memiliki kewajiban untuk memastikan betul bahwa setiap kemajuan teknologi sesuai dengan syari'at, menjaga akal, melindungi jiwa dan tidak merusak tatanan pemikiran masyarakat. Dalam sistem Islam yang meletakkan akal sebagai amanah dan teknologi hanya sebagai sarana untuk beribadah, kemajuan sains dan teknologi dapat benar-benar menjadi Rahmat bagi manusia dan bukan menjadi ancaman bagi masa depan peradaban.
Wallahu 'alam bishshawwab.
Via
OPINI
Posting Komentar