OPINI
Krisis Mental Generasi dan Urgensi Sistem Islam
Oleh: Widia Fitriani Sitopu, S.Pd.
(Sahabat Tanah Ribath Media)
TanahRibathMedia.Com—Kabar duka datang dari civitas akademika Universitas Sumatera Utara (USU). Seorang mahasiswi Fakultas Ilmu Budaya (FIB) ditemukan meninggal dunia di kamar kosnya di kawasan Padang Bulan pada Minggu (27-9-2026), sebagaimana dikutip dari Kompas.com (28-9-2026). Kepergian ini tentu meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, teman, dan seluruh sivitas kampus. Di tengah duka tersebut, warganet dan masyarakat berspekulasi mengenai penyebab kepergiannya, termasuk dugaan adanya perundungan. Terlepas dari apa pun hasil penyelidikan resmi dari pihak berwenang yang masih kita tunggu bersama, peristiwa ini tidak sepatutnya dipandang semata-mata sebagai persoalan pribadi korban. Peristiwa ini adalah alarm keras bagi kita semua mengenai kondisi kesehatan mental dan sistem dukungan sosial di lingkungan pendidikan tinggi.
Kasus seperti ini sayangnya bukan lagi hal yang asing di dunia pendidikan kita. Tekanan akademik yang tinggi, tuntutan sosial, rasa kesepian karena jauh dari keluarga, hingga minimnya ruang aman untuk bercerita membuat banyak mahasiswa memendam beban seorang diri. Ketika layanan konseling kampus belum optimal, tidak ramah, atau masih dianggap tabu untuk diakses, kampus yang seharusnya menjadi tempat paling aman untuk bertumbuh justru dapat terasa mengasingkan. Oleh karena itu, duka ini harus menjadi momentum introspeksi.
Pendidikan tinggi tidak boleh hanya berorientasi pada angka, prestasi, dan gengsi. Lebih dari itu, kampus harus menjadi ekosistem yang peduli pada kemanusiaan. USU dan seluruh perguruan tinggi di Indonesia perlu memperkuat peran pusat konseling psikologi yang mudah diakses, anonim, dan tanpa stigma. Selain itu, perlu dibangun budaya saling peduli antarmanusia melalui sistem teman sebaya dan pelatihan bagi dosen agar lebih peka terhadap perubahan kondisi mahasiswanya. Kehilangan satu nyawa adalah kehilangan yang terlalu besar. Semoga dari duka ini kita belajar untuk lebih berani mendengarkan dan lebih peduli pada sesama. Lebih dari itu, kasus ini juga menyisakan pertanyaan mendasar: mengapa anak muda dari kalangan intelektual bisa berada pada kondisi seberat itu? Apakah lingkungan kita sudah benar-benar menjadi tempat yang aman? Di sinilah peran keluarga, masyarakat, kampus, dan negara diuji untuk hadir secara nyata.
Sekulerisme Gagal Membentuk Karakter Manusia
Sekulerisme merupakan sistem yang memisahkan kehidupan dari agama. Sejatinya, agama adalah jalan menuju kebenaran, tetapi tidak diterapkan dalam kehidupan. Maka, yang terjadi jelaslah sebuah kesesatan dan kesengsaraan. Inilah yang harus disadari oleh manusia saat ini, terutama umat muslim. Manusia yang serba kurang, terbatas, dan lemah tidak akan mungkin bisa menyelesaikan permasalahan hidupnya tanpa petunjuk dari Sang Pencipta. Aturan yang berasal dari hawa nafsu dan kepentingan sendiri melumpuhkan pikiran manusia dalam berbuat serta bertindak yang benar.
Maka, wajar saja jika bunuh diri dianggap sebagai solusi yang tepat dalam sistem saat ini—menyelesaikan permasalahan dengan mengakhiri kehidupan. Justru hal ini membuktikan kepada kita bahwa umat saat ini sangat jauh dari solusi yang hakiki. Kemunduran berpikir membuat mereka menjadi pengecut dalam menjalani kehidupan dunia. Sistem ini telah gagal membentuk karakter manusia. Lantas, adakah sistem yang dapat membentuk karakter sesuai dengan fitrah manusia?
Saatnya Kembali Kepada Sistem Islam
Bunuh diri bukan solusi dalam Islam. Islam sangat tegas dalam menjaga kehidupan manusia. Manusia diciptakan dengan tujuan untuk beribadah, dan salah satu prinsip utama dalam Islam adalah menjaga jiwa (hifzh al-nafs). Hal ini ditegaskan dalam firman Allah Swt.: "Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepadamu." (TQS. An-Nisa: 29)
Ayat ini menegaskan bahwa kehidupan adalah sesuatu yang berharga dan tidak boleh diakhiri dengan cara yang dilarang oleh syariat. Ketika seseorang mengalami masalah yang berat, Islam tidak membenarkan bunuh diri sebagai solusi. Seberat apa pun ujian hidup, Islam mengajarkan untuk bersabar, berdoa, dan mencari pertolongan.
Perlu kita pahami bersama bahwa tubuh ini bukan sepenuhnya milik kita, melainkan amanah dari Sang Pencipta yang harus dijaga, dirawat, dan dihargai. Allah telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya dan melebihkannya dengan akal dibandingkan makhluk lainnya agar mampu mencari jalan keluar yang baik dari setiap kesulitan.
Sebagai sesama manusia, kita juga memiliki kewajiban untuk saling membantu ketika ada yang mengalami kesulitan, tanpa harus menjustifikasi orang tersebut lemah secara mental maupun kurang iman. Justru di sinilah peran kita untuk saling memberikan nasihat dan dukungan moral.
Ketika mengalami suatu masalah, kita bisa mencari bantuan kepada psikolog, konselor, dokter, guru, atau orang yang dapat kita percaya. Mencari bantuan profesional bukan berarti seseorang tidak bertawakal kepada Allah, melainkan inilah bentuk ikhtiar kita dalam menghadapi cobaan hidup.
Sebagai sesama manusia, kita tidak dibenarkan untuk melakukan tindakan perundungan, sebagaimana firman Allah Swt..: "... Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain ..." (QS. Al-Hujurat: 11)
Dalam Islam, tidak hanya dilarang melakukan tindakan bunuh diri, tetapi juga tidak dibenarkan melakukan tindakan merendahkan, mengejek, mempermalukan, menyakiti, atau menzalimi orang lain. Jikalau ada keluarga ataupun teman kita yang sedang dalam kondisi mental yang perlu pertolongan, kita sebagai sesama manusia sudah seharusnya menolong dan menyelamatkannya.
Namun ironisnya, akibat sistem kapitalisme yang diterapkan di negeri ini, banyak generasi semakin terpuruk, invidualis, hedonis, tersibukkan dengan sesuatu yang fana. Bahkan lebih parah, mereka malah ikut dalam mengolok-olok sesama manusia. Sungguh, kondisi seperti ini tidak boleh dibiarkan terus terjadi. Biang kerok dari permasalahan ini tidak lain adalah diterapkannya sistem kapitalisme. Maka untuk memutus rantai permasalahan hari ini, sistemnya juga harus segera disingkirkan dan menggantinya dengan sistem aturan Allah Swt. yakni sesuai dengan syariat Islam.
Via
OPINI
Posting Komentar