OPINI
Healing Sesaat, Hidup Makin Berat
Oleh: Umi Alfi
Muslimah Pemerhati Generasi
TanahRibathMedia.Com—Gaji baru masuk, keranjang belanja sudah penuh. Di tengah lebih dari 48 persen Gen Z yang merasa tidak aman secara finansial, mengapa self-reward dan healing justru kian dianggap penting? Benarkah ini sekadar konsumtif, atau pelarian dari tekanan hidup yang kian menghimpit?
Fenomena ini disoroti Kompas.com pada 12 Agustus 2026. Sebagian Gen Z menggunakan gaji untuk self-reward. Kisah Bella (28), pekerja di Jakarta, menunjukkan dilema tersebut. Setelah membayar sewa, ia menabung dan menyiapkan dana darurat karena merasa penghasilannya belum cukup untuk berinvestasi.
Fenomena self-reward karenanya tidak cukup dilihat sebagai persoalan boros atau buruknya pengelolaan keuangan. Ada persoalan yang lebih mendasar, yakni tekanan ekonomi dan sistem kehidupan yang membentuk pola pikir generasi muda untuk mencari kebahagiaan melalui perilaku konsumtif.
Terhimpit Sistem Ekonomi
Sistem kapitalisme turut memperberat tekanan ekonomi yang dihadapi Gen Z. Kenaikan biaya hidup yang terus terjadi tidak selalu diimbangi dengan peningkatan pendapatan, sehingga semakin menyulitkan mereka memenuhi kebutuhan hidup. Kebutuhan dasar seperti tempat tinggal, pangan, pendidikan, dan kesehatan harus diperjuangkan secara individual. Negara lebih banyak berperan sebagai regulator, sedangkan pemenuhan kebutuhan rakyat diserahkan pada mekanisme pasar.
Akibatnya, generasi muda dipaksa bekerja keras untuk sekadar bertahan hidup. Ketika gaji akhirnya diterima, sebagian memilih menggunakan uang untuk kesenangan sesaat sebagai kompensasi atas tekanan yang mereka rasakan. Self-reward pun menjadi semacam “hadiah” setelah sebulan menjalani rutinitas yang melelahkan.
Tekanan ekonomi tersebut diperparah oleh gaya hidup sekuler-liberal yang menjadikan kesenangan pribadi sebagai ukuran kebahagiaan. Self-reward, healing, dan konsumsi kemudian dipopulerkan sebagai cara untuk mengatasi stres dan menghargai diri sendiri.
Media sosial semakin memperkuat budaya tersebut. Berbagai tren terus bermunculan mulai dan viral, hingga dianggap wajib dimiliki. Dorongan Fear of Missing Out (FOMO) membuat seseorang mudah membandingkan kehidupannya dengan orang lain dan terdorong mengikuti tren. Akhirnya, konsumsi bukan lagi sekadar untuk memenuhi kebutuhan, tetapi menjadi sarana memperoleh kepuasan emosional dan pengakuan sosial.
Di balik persoalan ekonomi dan budaya konsumtif terdapat krisis yang lebih mendasar, yaitu krisis tujuan hidup. Ketika kehidupan dipisahkan dari agama, manusia kehilangan standar yang benar dalam menentukan untuk apa harta, waktu, dan kehidupannya digunakan. Kebahagiaan akhirnya direduksi menjadi seberapa banyak kenikmatan yang dapat dirasakan dan seberapa banyak keinginan yang mampu dipenuhi.
Tidak mengherankan jika self-reward kemudian dianggap sebagai kebutuhan emosional, meskipun kondisi finansial belum benar-benar aman. Generasi muda mencari kebahagiaan dari apa yang bisa dibeli, ditampilkan, dan dinikmati sesaat. Padahal, manusia membutuhkan tujuan hidup yang lebih tinggi daripada sekadar mengejar materi.
Islam Menjamin Kebutuhan Rakyat
Islam tidak sekadar menyuruh individu mengurangi belanja atau memperbaiki pengelolaan keuangan. Islam memiliki sistem kehidupan yang menyelesaikan persoalan dari akarnya.
Dalam sistem Khilafah, negara berkewajiban menjamin terpenuhinya kebutuhan pokok masyarakat serta membangun tatanan ekonomi yang mendukung setiap individu untuk menjalani kehidupan yang layak. Pengelolaan sumber daya alam dilakukan untuk kemaslahatan rakyat, bukan menjadi sumber keuntungan bagi segelintir pemilik modal. Negara juga bertanggung jawab menyediakan kesempatan kerja yang layak bagi setiap laki-laki yang memiliki kemampuan dan memenuhi syarat untuk bekerja.
Dengan begitu, negara hadir memberikan perlindungan dan jaminan kesejahteraan sehingga masyarakat tidak harus menanggung sendiri beban tingginya biaya hidup. Negara hadir untuk memastikan kebutuhan dasar seperti pangan, kesehatan, pendidikan, dan keamanan dapat terpenuhi. Ketika kebutuhan pokok terjamin, tekanan ekonomi yang mendorong seseorang mencari pelarian melalui konsumsi berlebihan dapat diminimalkan.
Islam Melindungi Generasi dari Budaya Hedonis
Islam turut membentuk tatanan kehidupan yang menjaga generasi dari pengaruh gaya hidup hedonis dan perilaku konsumtif yang berlebihan. Negara tidak membiarkan media menjadi sarana penyebaran gaya hidup yang merusak pola pikir dan perilaku generasi muda.
Dalam sistem Khilafah, media berperan sebagai sarana edukasi, penyebarluasan informasi yang membawa kemaslahatan, serta penguatan ketakwaan di tengah masyarakat. Generasi tidak terus-menerus dicekoki dengan standar kebahagiaan berupa barang bermerek, makanan viral, liburan mewah, atau gaya hidup populer.
Islam juga mengajarkan umatnya untuk menggunakan harta secara bertanggung jawab. Harta tidak dilarang untuk dinikmati, tetapi penggunaannya harus berada dalam koridor syariat. Dengan demikian, self-reward tetap menjadi bentuk penghargaan diri yang wajar, bukan alasan untuk berperilaku konsumtif secara berlebihan atau terus mengikuti tren gaya hidup.
Mengembalikan Tujuan Hidup Generasi
Lebih dari itu, Islam menyelesaikan persoalan paling mendasar: krisis tujuan hidup. Islam memberikan paradigma bahwa manusia diciptakan bukan sekadar untuk mengejar kekayaan, popularitas, kenyamanan, atau kesenangan duniawi, tetapi untuk beribadah kepada Allah Swt.
Allah Swt. berfirman:
ÙˆَÙ…َا Ø®َÙ„َÙ‚ْتُ الْجِÙ†َّ ÙˆَالْØ¥ِنسَ Ø¥ِÙ„َّا Ù„ِÙŠَعْبُدُونِ
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)
Dengan akidah yang kokoh, generasi muda memiliki standar kebahagiaan yang tidak bergantung pada tren, jumlah barang yang dimiliki, ataupun pengakuan manusia. Mereka memahami bahwa kehidupan dunia hanyalah bagian dari perjalanan menuju kehidupan akhirat. Karena itu, Gen Z tidak seharusnya diarahkan menjadi generasi yang hanya bekerja, memperoleh gaji, lalu membelanjakannya untuk mencari kebahagiaan sesaat. Mereka harus dibentuk menjadi generasi yang memiliki visi besar: menuntut ilmu, beramal, bertakwa, dan berkontribusi membangun peradaban Islam.
Pada akhirnya, persoalan self-reward bukan sekadar tentang membeli kopi setelah gajian atau menonton konser setelah sebulan bekerja. Ia merupakan cermin dari persoalan yang lebih besar: ketika sistem gagal memberikan rasa aman dan kehidupan kehilangan orientasi, manusia akan mencari kebahagiaan dari apa pun yang tersedia di hadapannya.
Islam menawarkan jalan yang berbeda. Negara bertanggung jawab memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, sistem Islam membentengi generasi dari pengaruh budaya yang merusak, sementara akidah Islam menuntun manusia untuk memahami makna dan tujuan hidup yang sesungguhnya. Dengan demikian, kebahagiaan tidak lagi diukur dari seberapa banyak yang dapat dibeli, tetapi dari keberkahan hidup, ketenangan jiwa, dan sejauh mana kehidupan digunakan untuk meraih rida Allah Swt.
Via
OPINI
Posting Komentar