OPINI
Bullying Mengancam Generasi, Islam Menjadi Solusi
Oleh: Sri Yana, S.Pd.I
(Pegiat Literasi)
TanahRibathMedia.Com—Masyarakat digemparkan dengan kasus perundungan yang terjadi di salah satu sekolah dasar di Pemalang, Jawa Tengah. Muhammad Hasbi Al Aqib atau biasa disapa Aqib, siswa Kelas II SDN 01 Kebondalem, Pemalang diduga tewas karena dirundung oleh kakak kelasnya. Akibat perundungan tersebut, Aqib mengalami luka parah dan sempat dirawat di RSUD M. Azhari, Pemalang sebelum akhirnya meninggal dunia. Saat mendapatkan perawatan, Aqib bercerita kepada dokter bahwa ia pernah mendapatkan perundungan padahal sebelumnya ia tidak mau bercerita kepada siapa pun. Selain itu, ibunya melihat korban yang tadinya ceria menjadi pendiam, bahkan murung (detik.com, 2 Oktober 2026).
Kasus perundungan yang menimpa Aqib menambah bukti bahwa bullying atau perundungan menjadi persoalan generasi bangsa yang belum juga tuntas. Data yang dilaporkan oleh JPPI menunjukkan adanya peningkatan jumlah kasus kekerasan di satuan pendidikan selama periode 2020–2025. Jumlah kasus terus meningkat, dari 91 kasus pada 2020 menjadi 142 kasus pada 2021, 194 kasus pada 2022, hingga mencapai 285 kasus pada 2023. Peningkatan tajam terjadi pada 2024 dengan jumlah 573 kasus, yang kembali naik menjadi 614 kasus pada 2025. Secara keseluruhan, data memperlihatkan tren kenaikan jumlah kasus dari tahun ke tahun dalam periode pemantauan tersebut (indonesia.org, 1 Februari 2026).
Data dari JPPI tersebut membuktikan kasus kekerasan yang terjadi di tengah generasi muda bangsa setiap tahun terus bertambah. Tingkat tertinggi terjadi pada sekolah formal (SD–SMA) dengan proporsi sekitar 57% dari total kasus, menandakan bahwa jalur pendidikan utama masih menjadi ruang dengan intensitas kekerasan tertinggi. Pesantren menyumbang sekitar 14% kasus, diikuti madrasah sebesar 13%, yang menunjukkan bahwa kekerasan juga terjadi secara signifikan pada lembaga pendidikan berbasis keagamaan.
Generasi Umat Terbaik
Generasi muda adalah ujung tombak bangsa peradaban umat manusia yang mengemban amanah besar demi kemajuan generasi masa depan sebagaimana firman Allah Swt., "Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah..." (TQS. Ali Imran [3]: 110)
Allah Swt. menyebutkan bahwa sejatinya umat Islam merupakan generasi terbaik, generasi yang diperintahkan untuk berbuat makruf dan mencegah kemungkaran. Namun, fakta justru berbicara bahwa saat ini generasi umat Islam justru mengalami penurunan akhlak karena jauh dari tuntunan agama. Bahkan lebih jauh lagi, umat Islam saat ini tidak lagi menerapkan Islam secara totalitas sehingga aturan yang dipakai adalah hukum buatan manusia. Alhasil, hendaknya umat ini kembali kepada syariat-Nya.
Kapitalisme Biang Masalah
Kapitalisme sekularisme yang mengakar dalam pemikiran-pemikiran umat terutama dalam pemikiran generasi mudanya. Umat pun dibuat sibuk dengan dunia yang fana ini. Umat disibukkan dengan kehidupan yang serba sulit. Belum lagi perekonomian negara yang juga memburuk maka akan berpengaruh pula pada pendidikan generasi bangsa. Sehingga orang tua tidak fokus dengan generasi, tetapi sibuk memperbaiki kehidupan yang makin hari makin sulit.
Kesibukan orang tua mengejar ekonomi membuat anak-anaknya tak terkontrol dalam segi akhlak dan ilmu agama. Dampaknya, cara instan pun ditempuh dalam menyelesaikan persoalan, termasuk perundungan. Tidak heran jika kasus perundungan kian hari kian bertambah. Inilah bukti kegagalan sistem sekuler. Gagal mewujudkan pendidikan yang mampu melahirkan generasi berkualitas, generasi yang paham aturan agama dan menjadikanya sebagai solusi problematika kehidupan.
Islam Solusi Masalah Bullying
Maraknya bullying kian hari makin tak terkendali merupakan buah getir penerapan sistem sekuler kapitalisme yang masih mencengkeram umat hingga saat ini. Generasi muda Islam yang masih labil mudah mengikuti arus, tanpa berpikir secara mendalam, apakah yang ia lakukan benar atau salah. Mereka melakukan perbuatan yang tercela hanya karena tak ingin ketinggalan zaman. Sebab, belum memiliki pandangan hidup yang jelas, bahkan hanya sekedar mengikuti tren ala Barat. Padahal yang diikutinya belum tentu benar.
Inilah generasi yang lahir dari rahim sekularisme. Generasi yang mudah ikut-ikutan dan enggan mengkaji Islam. Generasi yang lebih suka senang-senang daripada berjuang. Maka perlu upaya untuk menyadarkan generasi muda Islam ini bahwa sejatinya dirinya diciptakan bukan untuk bersenang-senang saja di muka bumi. Namun, ada tugas berat sebagai seorang khalifah fii al-ardh, yaitu pemimpin di bumi ini.
Termaktub dalam Al-Qur'an bahwa manusia menerima amanah besar sebagai pemimpin di bumi, setelah hewan, tumbuhan, gunung, langit, dan ciptaan Allah Swt. lainnya menolak diberikan amanah sebagai pemimpin di bumi. Ini berarti manusia mampu dan siap mengemban amanah di muka bumi ini agar meraih kehidupan yang mulia. Hal ini sebagaimana diabadikan dalam firman Allah Swt., "Dan Dialah yang menjadikan kamu sebagai khalifah-khalifah di bumi dan Dia meninggikan sebagian kamu di atas yang lain beberapa derajat, untuk menguji kamu tentang apa yang telah diberikan-Nya kepadamu...” (TQS. Al-An'am [6]: 165)
Sebagai pemimpin di muka bumi, sejatinya manusia merupakan pelaksana hukum syariat. Maka menjadi kewajiban umat Islam untuk menerapkan seluruh aturan Islam secara komprehensif dalam institusi negara. Negara inilah yang akan menjaga dan mengurus umat agar umat berada di koridor-koridor Islam yang ditetapkan, termasuk dalam menuntaskan masalah perundungan yang menimpa generasi saat ini.
Kasus perundungan yang tak kunjungan berakhir adalah buah penerapan sistem sekuler kapitalistik. Maka menjadi kesadaran bersama untuk segera mencampakkan sistem ini dan kembali pada sistem Islam yang paripurna. Dengan penerapan Islam secara totalitas niscaya umat ini hidup dengan landasan akidah yang benar yang memancarkan seperangkat aturan yang sahih untuk menyelesaikan segala persoalan uant.
Sejarah telah mencatat dengan tinta emas bahwa generasi terdahulu seperti Muhammad Al-Fatih dan Shalahuddin Al-Ayubi mampu mengharumkan Islam. Mereka menjadi suri teladan bagi generasi Islam pada masa kini. Oleh karena itu, umat butuh solusi yang tuntas, yakni penerapan sistem Islam secara komprehensif yang tak bisa ditawar-tawar lagi. Saatnya umat membuka mata bahwa hanya Islam yang mampu mencetak generasi terbaik di tengah umat manusia.
Wallahua'lam bissawab.
Via
OPINI
Posting Komentar