OPINI
Menakar Bekal di Kursi Makan
Oleh: Kartika Soetarjo
(Sahabat Tanah Ribath Media)
TanahRibathMedia.Com—Aku perempuan biasa, yang kerap bercerita tentang lelahnya keseharianku pada orang terdekat, dan suara yang kuterima hanyalah: "ah, baru aktivitas segitu saja sudah bilang lelah". Akhirnya, aku diam dan berpikir, "mungkin iya, aku yang terlalu lemah dan berisik".
Aku merangkul hari-hari dengan aktivitas yang sama. Dari mulai membuat sarapan, beberes rumah, pergi kajian di hari-hari yang ada jadwalnya, mengajar ngaji anak-anak tetangga, share dakwah di medsos, meluangkan waktu untuk menulis naskah-naskah ringan, serta aktivitas keseharian lainnya yang mungkin hampir semua emak-emak kerjakan.
Dan semua itu, kuanggap sebagai "aktivitas remehan".
Hingga satu hari, aku dilanda jenuh. Punggungku membuang lelah sejenak di sandaran kursi makan. Netra dan relungku menerawang jauh menembus langit-langit rumah yang bertahun-tahun setia menemani duka dan tawaku. Seperti tak mau berpisah, hati ini pun melesat mengikuti ke mana arah terbang sang pikiran.
Ternyata pikiran ini bertengger pada barisan orang-orang saleh yang namanya harum di langit, yang ilmunya tinggi, yang dakwahnya berkelas, yang sedekahnya jor-jorran tanpa cemas akan hari esok, yang jiwanya tangguh diterpa badai kehidupan, dan orang-orang yang hatinya ikhlas tanpa ada sedikit pun ruang untuk kecewa.
Sedangkan aku? Aku hanya seorang hamba yang ringkih. Saat menakar diri sendiri, hatiku serasa menyempit. Di mana letak ikhlas dalam amalku yang masih compang-camping? Salatku pun yang kadang masih sebatas gerak raga yang kehilangan jiwa. Masih kosong, masih rapuh. Hati yang masih baperan, yang masih belum siap menerima suara-suara rancu dari atap sebelah mengenai dakwahku.
"Ya Allah, apa yang akan aku bawa kelak saat aku menghadap-Mu?"
Di atas kursi makan itu, pertahananku runtuh, air mata jatuh mengalir bersama kesedihan yang menghujam relung jiwa. Aku menangis sejadi-jadinya. Hati ini mengakui, belum punya bekal untuk menghadap-Nya.
"Ting"
Suara notifikasi terdengar memecah dapur yang sepi.
Dengan jemari yang masih basah oleh sisa air mata, aku meraih ponsel, ternyata sebuah pesan WhatsApp dari seorang teman. Pesannya singkat, namun sanggup menghentikan degup jantungku sejenak.
"Maaf, saya kopas ulang status WA Anda, karena status WA Anda selalu membangkitkan semangat hati saya yang sedang lemah."
Membaca pesan itu, air mataku kembali mengalir, namun kali ini bukan tangisan putus asa, tapi karena terharu yang menembus langit.
Coretan ringanku di layar ponsel, aktivitas keseharian yang kuanggap remehan, ternyata bisa menjadi sekoci penyelamat yang ampuh bagi jiwa yang hampir tenggelam di lautan rapuh.
Aku tersenyum di dalam sisa air mata. Allah Maha Baik, Dia tidak menuntutku untuk menjadi orang hebat yang sedekahnya jor-jorran. Allah hanya ingin aku ikhlas melangkah di jalan yang sudah Ia gariskan untukku.
Pesan WhatsApp itu seolah jawaban tunai dari langit, bagi jiwa yang ketakutan dan putus asa karena merasa tidak punya amal untuk bekal hidup di negeri kekal.
"Teruskan khidmatmu dan dakwahmu di dalam rumah, sungguh di mata-Ku tidak ada amal yang sia-sia."
Mata dan relungku kembali menerawang menembus langit-langit rumah. Kini kursi makan itu tidak lagi menjadi tempatku mengeluh, tapi menjadi mimbar kekuatan dalam mengumpulkan amal terbaik untuk bekal menuju-Nya.
Dapur Sunyi, 11 Oktober 2026
Via
OPINI
Posting Komentar