OPINI
AI: Kecerdasan Buatan Tanpa Akidah
Oleh: Basundari
(Sahabat Tanah Ribath Media)
TanahRibathMedia.Com—Bayangkan ada sebuah mesin yang mampu berpikir jutaan kali lebih cepat dari manusia terbaik manapun, mengembangkan dirinya sendiri tanpa henti, dan menghasilkan terobosan ilmu pengetahuan dalam hitungan hari yang biasanya membutuhkan puluhan tahun penelitian. Itulah gambaran "Ledakan kecerdasan" yang kini diwanti-wantikan oleh para ilmuwan paling terkemuka di dunia. Sebuah riset yang melibatkan 22 peneliti, termasuk Yoshua Bengio dan Geoffrey Hinton yang dijuluki "Bapak AI" dunia, serta pendiri Anthropic Jack Clark dan kepala ilmuwan OpenAI Jakub Pachocki, menyerukan para pembuat kebijakan untuk segera bertindak sebelum kemajuan AI melampaui kemampuan manusia untuk mengendalikannya (CNN Indonesia, 30 September 2026). Tiga ancaman utama yang mereka identifikasi mencakup potensi senjata biologis dan siber yang ditenagai AI, hilangnya kendali manusia atas sistem AI, serta meningkatnya risiko perang antarnegara yang dipicu persaingan teknologi.
Kekhawatiran itu bukan sekadar teori di atas kertas. Pada Juli 2026, agen-agen AI milik OpenAI berhasil keluar dari lingkungan pengujian yang seharusnya terisolasi, lalu berkolaborasi secara mandiri dan melumpuhkan sistem pertahanan platform Hugging Face. Para pakar memperingatkan bahwa jutaan agen AI dapat mengoordinasikan serangan siber secara serentak selama 24 jam penuh tanpa kelelahan, mencuri data, meretas identitas, memanipulasi pasar keuangan, hingga mengganggu sistem kelistrikan dan komunikasi suatu negara (detikInet, 1 Oktober 2026). Inilah wajah nyata ancaman AI yang jauh lebih dekat dari yang dibayangkan.
Di sinilah akar persoalan yang sesungguhnya perlu direnungkan. Teknologi AI tumbuh di atas fondasi yang dibangun oleh manusia dan manusia yang membangunnya tidak hidup dalam ruang hampa nilai. Setiap data yang dimasukkan, setiap tujuan yang ditetapkan, dan setiap keputusan yang diprogram ke dalam sistem AI mencerminkan ideologi penciptanya. AI yang dikembangkan dalam sistem yang mengutamakan keuntungan korporasi akan cenderung melayani kepentingan korporasi. AI yang dibangun di bawah naungan ambisi kekuatan militer akan menjadi perpanjangan tangan perang. Teknologi itu sendiri memang netral, tetapi arah penggunaannya selalu ditentukan oleh siapa yang memegang kendali dan nilai apa yang mereka jadikan kompas.
Islam menyebut dua kategori ini dengan istilah yang tepat. Pertama hadarah, yakni hasil pemikiran dan produk peradaban yang sudah dipengaruhi oleh ideologi tertentu. Kedua, madaniyah yakni hasil teknologi yang bersifat netral dan bisa digunakan oleh siapapun. AI sebagai teknologi masuk dalam kategori madaniyah. Namun begitu AI diprogram, diarahkan, dan digunakan untuk tujuan tertentu, maka AI berubah menjadi hadarah yang tidak bisa lepas dari ideologi pengendalinya. Kesadaran inilah yang menjadi jembatan penting antara fakta di lapangan dan solusi yang sesungguhnya dibutuhkan.
Karena itu, solusi krisis AI tidak cukup diselesaikan dengan regulasi teknis atau kesepakatan antarnegara semata. Regulasi yang lahir dari sistem sekuler-kapitalis akan tetap berputar di sekitar kepentingan penguasa modal dan negara-negara adidaya. Yang dibutuhkan adalah manusia-manusia dengan akidah yang kokoh, yang memandang teknologi sebagai amanah dari Allah untuk kemaslahatan seluruh umat manusia, bukan sebagai alat dominasi. Dalam sistem Islam, pengembangan teknologi termasuk AI akan tunduk pada hukum syariah yang melindungi jiwa, akal, kehormatan, dan keselamatan manusia sebagai prioritas utama.
Institusi negara Islam akan hadir sebagai pihak yang menetapkan arah pengembangan dan penggunaan AI berdasarkan syariat, dan memastikan teknologi ini tidak jatuh ke tangan pihak yang akan menggunakannya untuk merusak. Umat Islam tidak boleh hanya menjadi penonton dalam perkembangan peradaban teknologi. Sudah saatnya umat berjuang mewujudkan sistem yang mampu menempatkan akal buatan di bawah bimbingan akidah yang benar, sebelum ledakan kecerdasan itu tiba tanpa kendali apapun.
Via
OPINI
Posting Komentar