OPINI
Bullying Mengancam Generasi, Bagaimana Negara Mengatasi?
Oleh: Dini Cindy Andzani
(Sahabat Tanah Ribath Media)
TanahRibathMedia.Com—Kabar duka kembali datang dari dunia pendidikan. Dilansir dari detik.com (2 Oktober 2026), Aqib (7), seorang anak kelas 2 SD di Pemalang meninggal dunia diduga kuat menjadi korban perundungan oleh kakak kelasnya di sekolah. Miris sekali. Sekolah yang seharusnya jadi rumah kedua yang aman untuk belajar dan bermain, justru menjadi tempat nyawanya direnggut.
Ternyata ini bukan kejadian sekali dua kali. Kasus serupa juga terjadi di berbagai daerah. Di antaranya kasus dugaan perundungan yang melibatkan sejumlah anak perempuan di Grobogan sebagaimana diberitakan Tribun Jateng (23 September 2026), dan juga pengeroyokan terhadap siswi MTs di Garut. Kalau sudah begini, kita pantas khawatir. Kekerasan di sekolah kita sudah berada pada titik darurat.
Laporan data yg dirilis Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) tahun 2025 angkanya bikin mengelus dada. Kenaikannya tidak main-main. Tahun 2020 ada 91 kasus. Setahun kemudian jadi 142 kasus. Tahun 2022 naik lagi jadi 194 kasus. Tahun 2023 tembus 285 kasus. Puncaknya di tahun 2024 ada 573 kasus dan tahun 2025 masih naik di angka 614 kasus. Angka-angka tersebut bukan sekadar statistic, melainkan cermin kondisi pendidikan saat ini yang tidak baik-baik saja.
Lalu, Apa Akar Masalahnya?
Kalau kita lihat lebih jeli, ini bukan sekadar masalah anak nakal. Ada yang salah dari sistem yg kita pakai saat ini. Pertama, sistem pendidikan kita yang sekuler dan kapitalistik itu gagal membentuk generasi yang berkepribadian baik. Pendidikan saat ini lebih fokus pada nilai angka, ranking, dan ijazah untuk kerja. Pendidikan akhlak dan empati hampir tidak ada tempatnya. Hasilnya ya seperti ini, generasi yg cerdas secara akademik tapi miskin rasa kemanusiaan.
Anak-anak tumbuh dengan tontonan kekerasan, game berkelahi, dan konten media sosial yang menormalisasi bahwa yang kuat boleh menindas yang lemah. Inilah buah dari paham sekulerisme, yang menjauhkan agama dari kehidupan.
Kedua, negara belum hadir secara serius untuk menghentikan kekerasan ini. Aturan yang ada hanya formalitas. Banyak kasus bullying berakhir damai dengan mediasi atau dianggap selesai karena pelakunya masih di bawah umur. Tidak ada efek jera yang nyata. Akibatnya, Korban terus bertambah, sementara pelaku tidak mendapatkan pembinaan yang benar-benar mengubah perilakunya.
Lantas, Apa Solusi Islam?
Islam bukan segera agama ritual, melainkan sistem hidup yang lengkap, termasuk dalam mengatur pendidikan. Untuk menghentikan rantai perundungan, Islam menawarkan solusi yang menyeluruh, yaitu:
1. Pendidikan Harus Dibangun di Atas Akidah Islam.
Tujuan utama pendidikan Islam itu jelas, membentuk manusia yang memiliki kepribadian Islam atau Syakhsiyah Islamiyah, yaitu anak besar. Rasulullah saw. bersabda, "Seorang muslim itu adalah orang yang membuat muslim lain selamat dari lisan dan tangannya." (HR. Bukhari No.10 dan Muslim No.40). Kalau akidah ini tertanam, anak punya rem sendiri dari dalam dirinya untuk tidak menyakiti temannya.
2. Negara Harus Turun Tangan Penuh.
Dalam Islam, negara adalah pengurus utama pendidikan. Negara wajib menyediakan sekolah yang aman, guru yang tidak hanya kompeten mengajar tetapi juga menjadi teladan akhlak, serta kurikulum yang menanamkan keimanan dan kasih sayang sejak dini.
3. Peran Bersama Keluarga, Masyarakat, dan Sanksi yang Tegas.
Islam membangun tiga lapis perlindungan. Keluarga sebagai tempat pertama anak belajar empati dan kasih sayang. Masyarakat ikut mengawasi dengan melakukan amar makruf nahi mungkar. Dan negara hadir memberikan sanksi yang tegas dan mendidik bagi pelaku, supaya pelaku jera. Karena sanksi dalam Islam bertujuan sebagai pencegah dan pelajaran, bukan sekedar menghukum
Kalau tiga pilar ini berjalan bersama, maka sekolah akan kembali menjadi tempat yang aman, nyaman dan penuh rahmat. Sudah saatnya kita berhenti menambal kasus per kasus. Yang kita butuhkan saat ini adalah perubahan mendasar untuk kembali pada sistem Islam yang sudah terbukti melahirkan generasi terbaik.
Via
OPINI
Posting Komentar