OPINI
Meneladani Rasulullah Bukan Hanya Sebatas Ritual Tahunan
Oleh: Yuliana, S.E.
(Muslimah Peduli Umat)
TanahRibathMedia.Com—Kemenag mengajak seluruh rakyat Indonesia bersolawat. Hal ini digalakkan untuk memeriahkan maulid nabi Muhammad saw. Menurut Muchlis M Hanafi, gebyar solawat kebangsaan ini merupakan tradisi untuk menghidupkan solawat sekaligus meneladani akhlak nabi Muhammad saw. Ia juga memaparkan bahwa Rabiul Awal merupakan momentum untuk mempererat kasih sayang, peduli sesama, kebersamaan, persaudaraan dan kecintaan terhadap tanah air.
Masih menurut Muchlis, dengan solawat kebangsaan inilah cara meneladani akhlak rosulullah sehingga kesejahtraan dalam masyarakat dan dalam negara akan terwujud (SindoNews, 23 Agustus 2026).
Keteladanan dari Rasulullah dalam sekuler hanya sebatas ritual. Setiap tahun, maulud nabi dirayakan oleh seluruh umat di dunia. Ada yang memeperingati dengan mengadakan pawai, karnaval, perlombaan-perlombaan yang sangat meriah.
Keteladanan yang diambil oleh masyarakat hanya sebatas seremonial ritual tahunan belaka. Akhirnya kembali lagi seperti semula. Tanpa paham makna yang sesungguhnya yaitu makna yang sarat akan ajaran syariat dalam menjalankan kehidupan. Keteladanan yang diambil oleh masyarakat hanya seputar pada ibadah mahdah. Tidak mengambil contoh Rasulullah sebagai pemimpin negara, pemimpin perang, ahli politik, ahli ekonomi, keuangan dll.
Seharusnya momen maulid ini yang diambil keteladanannya bukan hanya beberapa persen saja tapi harus seratus persen dari kehidupan rasulullah. Moment maulid ini, sebaiknya pemerintah mengambil keteladanan dari rasulullah cara meriayah rakyat. Cara memimpin yang baik, menjadi hakim yang adil, dan menjadi junnah bagi rakyat.
Cara yang Benar Meneladani Rasulullah
Islam mengajarkan bahwa Maulid bukan sekadar seremonial semata. Memperingati kelahiran beliau sejatinya bukti rasa syukur kita atas kedatangan cahaya sebagai petunjuk yang mengandung kemenangan. Islam memerintahkan kita untuk mencintai Allah dan rosul. Sempurnanya iman seseorang ketika mencintai rasul. Mencintai rosul dengan menaati sunnah beliau, membela kehormatan baginda, serta dengan menjadikan ajaran beliau sebagai pedoman hidup.
Mencintai rasulullah saw. merupakan jalan menuju kesempurnaan iman seorang muslim. Ini sejalan dengan hadits beliau:
“Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga aku lebih dia cintai daripada ayahnya, anaknya dan seluruh manusia.” (HR Al-Bukhari dan Muslim)
Islam mengajarkan umatnya agar lebih mencintai Allah dan Rasul-Nya di atas cinta sekalian yang ada di muka bumi. Allah memerintahkan dan mewajibkan kita meneladani Rasulullah dalam perjuangan.
Allah menegaskan dalam Al-Quran:
“Sesungguhnya telah ada pada diri rosulullaah itu suri tauladan yang baik bagi kalian, yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan hari akhir serta banyak mengingat Allah.” (TQS al-Ahzab :21)
Rasulullah dalam perjuangan dakwahnya tidak pernah lalai dari wahyu Allah. Baginda Rosulullah tidak pernah memikirkan diri sendiri dan keluarga atau kerabatnya, beliau fokus pada penyampaian tauhid dan menyampaikan kebenaran. Rasulullah tidak sedikit pun goyah saat ditawarkan dengan harta, kekuasaan, jabatan untuk ditukarkan dengan imannya. Beliau hanya fokus memperjuangkan kepentingan rakyat, dan hanya takut kepada Allah Swt.
Keteladanan Rasulullah dalam memimpin megara. Sebagai pemimpin negara rsulullah membangun Madina dengan prinsip hanya tunduk kepada wahyu Allah Swt. Menegakkan keadilan tidak pandang bulu, tidak mandang status sosial, serta pengangkatan pejabat didasarkan atas integrasi dan, ketaqwaan kepada Allah, dan kompetensi.
Wallahua'lam bishowab.
Via
OPINI
Posting Komentar