OPINI TOKOH
Vaksinasi HPV di Kabupaten Karo Merenggut Nyawa
Oleh: Ria Nurvika Ginting, S.H., M.H
(Dosen-FH)
TanahRibathMedia.Com—Pelaksanaan program vaksinasi Human Papillomavirus (HPV) di Kabupaten Karo mulai menjadi perhatian publik bahkan semakin meningkat setelah kasus meniggalnya seorang siswi Sekolah Dasar. Program vaksinasi ini menyasar anak perempuan untuk mencegah kanker serviks, namun pelaksanaannya di tingkat daerah menjadi pertanyaan mengenai keterlibatan dan pengawasan dari Bupati Karo.
Felicia Karo Sekali (11), warga Desa Seberaya, Kecamatan Tiga Panah, Kabupaten Karo, siswa kelas V SD 047164 Seberaya, meninggal dunia setelah menjalani vaksinasi. Menurut informasi yang dihimpun, anak tersebut menerima suntikan vaksin pada Rabu, 5 Agustus 2026, dari tenaga medis Puskesmas Tiga Panah, Dinas Kesehatan Kabupaten Karo. Setelah vaksinasi, ia mengalami demam dan dibawa ke rumah sakit. Setelah tiga hari perawatan, ia meninggal dunia (Posmetromedan.com, 1-8-2026).
Keluarga korban meminta penjelasan terbuka dari pihak terkait mengenai prosedur pemberian vaksin, termasuk mekanisme pemberitahuan kepada orang tua. Pihak sekolah menyampaikan bahwa telah menyampaikan mengenai aktivitas vaksin tersebut jauh hari ketika upacara di lapangan sekolah (Kompas.com, 12-8-2026). Siswa/siswi dimintakan untuk menyampaikan ke orang tua. Apakah cukup dengan mekanisme seperti ini untuk pemberitahuan kepada orang tua bahwa ada vaksin di sekolah. Bukankah harusnya orang tua dimintai persetujuan terlebih dahulu?
Vaksi HPV, solusikah?
HPV adalah jenis virus DNA yang dapat memicu masalah pada kulit kelamin, seperti kutil pada kulit hingga menjadi penyebab kanker serviks. Jenis virus dapat ditularkan melalui aktivitas seksual. Lantas, kenapa harus anak SD yang diberikan vaksin kanker serviks? Seharusnya vaksin ini diberikan kepada orang dewasa yang sudah menikah atau yang sudah melakukan hubungan suami istri. Anak SD yang memiliki organ belum matang seharusnya tidak menjadi sasaran dari program vaksin tersebut. Namun, jika dilihat bagaimana pergaulan anak sekolah saat ini yang sudah seperti orang dewasa menjadi salah satu penyebab munculnya penyakit ini. Sehingga, pemerintah merasa butuh untuk melakukan pencegahan dengan memberikan vaksin HPV tersebut kepada anak SD hari ini.
Pacaran di kalangan anak SD saat ini sudah seperti orang dewasa bahkan banyak yang terpapar pornografi dan pornoaksi yang dapat diakses dengan bebas oleh anak-anak tersebut melalui gadget. Karena kondisi ini pemerintah melakukan pencegahan dengan menerapkan program vaksin agar kelak anak-anak SD khusus yang perempuan tidak terkena kanker serviks tersebut. Sungguh, ini merupakan solusi yang tidak tepat dikarenakan akar persoalannya bukan penyakitnya tetapi sumber penyakitnya. Seharusnya, pemerintah menghimbau agar masyarakat tidak berperilaku seks bebas serta memblokir jaringan pornografi dan pornoaksi yang bebas berseliwiran di media sosial maupun tayangan-tayangan lainnya.
Inilah akibat jika kehidupan dijauhkan dari agama. Urusan dunia diberikan kepada akal manusia. Sistem ini yang diterapkan ditengah-tengah masyarakat saat ini. Sistem kapitalis-sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan sehingga solusi yang diberikan tidak menyentuh akar persoalan. Kebebasan individu dijamin selama tidak merugikan orang lain. Setiap individu berhak untuk mengekspresikan perilakuya. Melakukan seks tanpa pernikahan sesuatu yang tidak bisa dipermasalahkan jika dilakukan suka sama suka. Tinggal bersama meski tidak menikah selama kedua pihak sepakat. Tayangan-tayangan fulgar dan mengandung seksualitas dengan mudahnya diakses di internet saat ini. Seharusnya ini persoalan yang harus diselesaikan sehingga penyakit tersebut dapat dihindari.
Islam Solusi Tuntas
Islam secara tegas melarang seks bebas. Setiap orang tua muslim tidak dibenarkan membiarkan anaknya mendekati zina, apalagi seks bebas yang sudah sangat jelas dilarang oleh Allah. Maka dari itu pemberian vaksin HPV ini sebenarnya tidak diperlukan untuk anak SD. Seharusnya pemerintah bijak dalam menyikapi pemberian vaksin HPV ini.
Jangan sampai salah langkah, karena yang dikhawatirkan ketika anak SD tersebut disuntik vaksin HPV justru terjangkit kanker serviks dikemudian hari karena virus serviks akibat zat yang masuk dalam tubuhnya, sementara anak tersebut ketika dewasa tidak melakukan hubungan seks bebas dan gonta ganti pasangan, atau meski belum menikah sehingga belum melakukan hubungan intim tetapi terjangkit kanker serviks. Jika ini terjadi sungguh sangat disayangkan sekali.
Meski tampak rumit pergaulan bebas hari ini, juga akibat yang ditimbulkannya, namun akan sangat mudah diselesaikan jika aturan yang digunakan adalah aturan dari Allah, Sunnah Rasulullah, yaitu dengan seperangkat aturan dari tata pergaulan menurut Islam yang akan memberikan keamanan dan kenyamanan. Hendaknya pemerintah membuat program yang lebih tepat sasaran pada anak dan masyarakat secara umum. Syariat Islam sudah sangat tepat menjadi solusi dengan melarang berzina dan seks bebas agar masyarakat terhindar dari kanker serviks. Dengan kepatuhan dan ketaatan kita kepada syari'at, insyaaAllah negeri kita akan mendapatkan keberkahan dari Allah Swt.
Selain itu, khilafah yang merupakan sistem Islam dimana akan menerapkan syariat secara sempurna akan menetapkan kebijakan kesehatan dengan sangat hati-hati dan bertanggung jawab. Salah satunya tidak akan serta Merta menetapkan kebijakan vaksin tanpa dengan menyelesaikan akar persoalannya. Hal ini dikarenakan khilafah yang dipimpin seorang Khalifah merupakan ra'in pengurus umat. Sebagaimana sabda Rasulullah saw.: "Seorang Imam (Khalifah) merupakan ra'in (pengurus) urusan umat, ia kan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang ia urus."
Dalam pandangan Khilafah, vaksin bukanlah obat, melainkan salah satu bentuk upaya untuk membentuk imunitas secara buatan. Oleh karena itu, vaksin diposisikan sebagai bagian dari strategi preventif, bukan satu-satunya solusi dalam penanganan penyakit. Alih-alih bergantung sepenuhnya pada vaksin, Khilafah akan mendorong para ilmuwan dan ahli kesehatan untuk mengembangkan obat-obatan dan meracik makanan bergizi yang mampu meningkatkan sistem imun, menghambat penyebaran virus, serta mempercepat proses penyembuhan. Selain itu, akar persoalannya pun akan segera diselesaikan yakni memberantas pergaulan bebas. Semua ini hanya dapat terlaksana ketika seluruh syariat Islam diterapkan secara sempurna dalam institusi Daulah Khilafah Islamiah.
Wallahua'lam bisshawwab.
Via
OPINI TOKOH
Posting Komentar