Telusuri
  • Pedoman Media
  • Disclaimer
  • Info Iklan
  • Form Pengaduan
Tanah Ribath Media
Pasang Iklan Murah
  • Home
  • Berita
    • Nasional
    • Lensa Daerah
    • Internasional
  • Afkar
    • Opini Tokoh
    • Opini Anda
    • Editorial
  • Remaja
    • Video
  • Sejarah
  • Analisa
    • Tsaqofah
    • Hukum
  • Featured
    • Keluarga
    • Pernikahan
    • Pendidikan Anak
    • Pendidikan Remaja
    • FiksiBaru
Tanah Ribath Media
Telusuri
Beranda OPINI Kebakaran Hutan Kalimantan Bukan Bencana, Tapi Kejahatan Sistem
OPINI

Kebakaran Hutan Kalimantan Bukan Bencana, Tapi Kejahatan Sistem

Tanah Ribath Media
Tanah Ribath Media
28 Agu, 2026 0 0
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp


Oleh: Faidah Alfiyah
(Sahabat Tanah Ribath Media)

TanahRibathMedia.Com—Langit Kalimantan kembali kelabu. Bukan karena mendung. Tapi karena asap kebakaran hutan dan lahan yang mengepul selama berminggu-minggu. Ribuan hektare hangus. Satwa kehilangan rumah. Sekolah-sekolah diliburkan. Rumah sakit penuh pasien ISPA. Warga memakai masker di rumah sendiri. Fakta tidak bisa ditutup. Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat titik api tersebar di Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Selatan. Luasan lahan terbakar kembali meningkat tajam di pertengahan Agustus 2026. BPBD dan TNI-Polri dikerahkan, tapi api selalu muncul lagi di titik baru. Ini bukan bencana alam. Ini bencana politik (antaranews.com, 15-8-2026). 

Mengapa hutan terus terbakar? Karena ada sistem yang memang membiarkan dan bahkan menguntungkan dari terbakarnya hutan. Sekularisasi mencabut agama dari urusan negara. Akibatnya hutan bukan lagi amanah Allah yang wajib dijaga. Hutan direduksi jadi objek ekonomi. Ukuran kebijakan bukan halal-haram, bukan maslahat umat, tapi pertumbuhan PDB dan devisa. Negara menjadi sekuler: memisahkan wahyu dari tata kelola sumber daya.

Kapitalisasi lalu masuk. Tanah, hutan, dan gambut diserahkan pada korporasi lewat konsesi, HGU, dan izin tambang. Negara berubah jadi makelar. Yang dikejar adalah investasi, ekspor CPO, nikel, dan kayu. Rakyat dipaksa mundur dari hutan yang sudah turun-temurun mereka jaga. Ketika musim kemarau datang dan biaya pembukaan lahan murah, maka pembakaran jadi pilihan paling efisien bagi pemilik modal. Kerugian ditanggung rakyat dan alam. Keuntungan dibawa segelintir oligarki.

Di titik ini jelas, negara tidak gagal. Negara memang bekerja untuk pasar, bukan untuk rakyat. Api di Kalimantan adalah cermin dari logika kapitalisme sekuler. Alam dikapitalisasi, rakyat dimiskinkan, kerusakan dilempar ke generasi berikutnya.

Islam menolak logika ini. Islam memandang negara sebagai ra’in: pengurus dan pelindung, bukan calo investasi. Sumber daya alam yang termasuk milik umum seperti hutan, air, dan padang rumput tidak boleh dimonopoli. Pengelolaannya wajib untuk kemaslahatan seluruh umat.

Rasulullah ï·º dan para Khulafaur Rasyidin sudah mencontohkan. Rasul melarang menebang pohon secara serampangan saat perang. Umar bin Khattab ra. menetapkan hima dan harim: kawasan lindung yang tidak boleh dirusak agar ekosistem terjaga. Khalifah Ustman bin Affan ra. membuat bendungan dan penghijauan untuk mencegah banjir dan kekeringan. Negara hadir memastikan hutan tidak dirusak, sungai tidak dikotori, dan udara tidak diracuni.

Islam punya perangkat hukum yang jelas untuk menjaga lingkungan. Allah Swt. berfirman:  
“Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya...”
(TQS. Al-A’raf: 56)

Rasulullah ï·º juga bersabda:  
“Tidaklah seorang muslim menanam tanaman atau menabur benih lalu dimakan burung, manusia, atau hewan, melainkan itu menjadi sedekah baginya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Menanam adalah sedekah. Merusak adalah dosa. Sejelas itu. Solusi Islam bukan hanya pemadaman dan patroli. Itu penting, tapi tambal sulam. Solusi hakiki adalah mengubah sistem.

Pertama, mengembalikan peran negara sebagai pengurus. Negara wajib mencabut konsesi yang merusak, menghentikan impunitas korporasi pembakar hutan, dan mempidana pelaku secara tegas tanpa pandang bulu.

Kedua, mengelola SDA berdasarkan syariat. Hutan milik umum dikelola negara. Hasilnya untuk rakyat: pendidikan gratis, kesehatan, dan transportasi. Bukan untuk menambah pundi-pundi segelintir konglomerat.

Ketiga, menegakkan Baitul Mal. Pembiayaan tidak berbasis riba dan utang luar negeri, tapi berbasis pengelolaan amanah. Dana digunakan untuk reboisasi, restorasi gambut, dan kesejahteraan masyarakat adat yang menjadi penjaga hutan paling depan.

Selama sekularisme masih jadi asas dan kapitalisme masih jadi mesin, maka setiap kemarau akan selalu ada asap. Setiap tahun kita akan berulang: kebakaran, kabut asap, konferensi, lalu lupa. Pertanyaannya bukan "siapa yang membakar", tapi: "sistem apa yang membuat pembakaran jadi menguntungkan?"

Hutan Kalimantan terbakar karena negara tunduk pada modal. Kembalikan pengelolaan hutan pada syariat. Cukup sudah rakyat menghirup asap. Cukup sudah alam dijarah. Kini saatnya kita menuntut negara yang benar-benar berfungsi sebagai penjaga, bukan pedagang. Saatnya mencampakkan sistem sekuler-kapitalistik, dan mengambil sistem yang baik, yakni Islam.
Wallahu a’lam bishshawab.
Via OPINI
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Postingan Lama
Postingan Lebih Baru

Anda mungkin menyukai postingan ini

Posting Komentar

- Advertisment -
Pasang Iklan Murah
- Advertisment -
Pasang Iklan Murah

Featured Post

Ketika Gelar Tak Menjamin Masa Depan, ke Mana 19 Juta Lapangan Kerja?

Tanah Ribath Media- Agustus 27, 2026 0
Ketika Gelar Tak Menjamin Masa Depan, ke Mana 19 Juta Lapangan Kerja?
Oleh: Haifa Manar (Penulis dan Aktivis Dakwah) TanahRibathMedia.Com— Sebuah ironi kini telah menjelma kenyataan di tengah masyarakat, yakni pendidi…

Most Popular

Kurikulum LGBTQ Masuk Sekolah, Menjadi Solusi yang Problematik

Kurikulum LGBTQ Masuk Sekolah, Menjadi Solusi yang Problematik

Agustus 23, 2026
Kapitalisasi Masjid Istiqlal: Dana Suci Umat Digulirkan ke Meja Judi Bursa Efek

Kapitalisasi Masjid Istiqlal: Dana Suci Umat Digulirkan ke Meja Judi Bursa Efek

Agustus 23, 2026
Solusi Stunting ala Makan Gizi Gratis yang bikin Miris

Solusi Stunting ala Makan Gizi Gratis yang bikin Miris

Agustus 23, 2026

Editor Post

Tak Habis Pikir

Tak Habis Pikir

Juni 11, 2023
Anak Terjerat Prostitusi Online, Dimana Perlindungan Negara?

Anak Terjerat Prostitusi Online, Dimana Perlindungan Negara?

Agustus 06, 2024
Lebih dari 70 Muslimah Hadiri Talk Show Kajian Risalah Akhir Tahun 2023

Lebih dari 70 Muslimah Hadiri Talk Show Kajian Risalah Akhir Tahun 2023

Januari 01, 2024

Popular Post

Kurikulum LGBTQ Masuk Sekolah, Menjadi Solusi yang Problematik

Kurikulum LGBTQ Masuk Sekolah, Menjadi Solusi yang Problematik

Agustus 23, 2026
Kapitalisasi Masjid Istiqlal: Dana Suci Umat Digulirkan ke Meja Judi Bursa Efek

Kapitalisasi Masjid Istiqlal: Dana Suci Umat Digulirkan ke Meja Judi Bursa Efek

Agustus 23, 2026
Solusi Stunting ala Makan Gizi Gratis yang bikin Miris

Solusi Stunting ala Makan Gizi Gratis yang bikin Miris

Agustus 23, 2026

Populart Categoris

Tanah Ribath Media

Tentang Kami

Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Contact us: contact@gmail.com

Follow Us

Copyright © 2023 Tanah Ribath Media All Right Reserved
  • Disclaimer
  • Privacy
  • Advertisement
  • Contact Us