OPINI
Kesepian di Tengah Keramaian, Potret Generasi yang Kehilangan Pegangan
Oleh: Arpah Latifah
(Sahabat Tanah Ribath Media)
TanahRibathMedia.Com—Kasus dugaan bunuh diri kembali terjadi di kalangan generasi muda. Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya berinisial RR (19) diduga melakukan percobaan bunuh diri dengan melompat dari lantai 6 gedung kampus pada Kamis, 10 September 2026 (Kompas.id, 10 September 2026).
Beberapa hari sebelumnya, seorang pria berinisial FS (30) ditemukan meninggal dunia di kawasan GBK, Jakarta Pusat. Sebelumnya, FS sempat mengunggah pesan perpisahan dan mendonasikan Rp40 juta kepada komunitas kesehatan mental (Kompas.id, 6 September 2026).
Fenomena ini bukan perkara sepele. Layanan Healing119.id mencatat pengguna layanan didominasi kelompok usia muda. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tekanan psikologis dan persoalan kesehatan mental memang sedang menjadi masalah yang perlu diperhatikan.
Bahkan hasil skrining kesehatan jiwa dalam program Cek Kesehatan Gratis menunjukkan adanya gejala kecemasan dan depresi pada anak. Dari sekitar 7 juta anak yang mengikuti skrining, 4,4 persen menunjukkan gejala kecemasan dan 4,8 persen menunjukkan gejala depresi (kemkes.go.id, 9 Maret 2026).
Mengapa generasi muda makin rentan mengalami tekanan hidup?
Persoalan kesehatan mental sering kali menjadi masalah pribadi semata. Seseorang yang memiliki tekanan mental kerap dinilai kurang ibadah, tidak tangguh menghadapi ujian hidup, gagal mengelola stres, atau sekadar disarankan menemui psikolog. Padahal, akar masalahnya jauh lebih besar dari kapasitas individu.
Generasi hari ini, dibesarkan dalam sistem sekuler yang memisahkan nilai-nilai agama dari aktivitas harian. Agama hanya disisakan untuk ranah personal/ individu. Sementara itu, urusan sekolah, pekerjaan, ekonomi, hingga pandangan tentang masa depan murni diukur dari kemampuan pribadi untuk bertahan hidup dan sukses.
Situasi ini diperparah oleh budaya positivisme yang menuntut anak muda terus mengejar materi, karier, dan pengakuan sosial. Mereka dituntut harus produktif, harus berprestasi, dan tidak boleh tertinggal. Dari sini, ritme hidup pelan-pelan berubah menjadi arena pacu yang melelahkan. Ketika berhasil, seseorang disanjung. Namun saat jatuh atau tertahan, ia merasa gagal sepenuhnya, apalagi media sosial terus memamerkan pencapaian orang lain, yang makin memicu rasa minder dan cemas.
Di saat bersamaan, ikatan sosial justru makin merenggang. Karakter masyarakat yang kapitalisme mendorong tiap orang fokus pada urusan masing-masing. Akibatnya, di saat semua orang semakin mudah terhubung, justru banyak orang yang merasa terasing dan kesepian. Memiliki ribuan teman atau pengikut di medsos pun tidak menjamin ada satu orang yang benar-benar bisa diajak cerita saat masalah datang.
Sebab itu, krisis mental tidak dapat dibereskan dengan menyediakan layanan konseling atau saluran bantuan darurat. Layanan tersebut jelas penting untuk penanganan krisis, tetapi itu bukan solusi akhir.
Islam menawarkan cara pandang yang mendasar melalui penanaman akidah. Sejak awal, seorang Muslim diajak memahami bahwa hidup ini memiliki arah dan tujuan yang jelas, yakni beribadah serta berjalan di atas syariat Allah. Masalah tidak lagi dipandang sebagai akhir segalanya, melainkan ujian hidup yang berkelanjutan.
Dalam QS. Al-Insyirah ayat 5–6 disebutkan:
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
"Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan."
Selain membentuk mindset individu, Islam membangun ikatan keluarga dan masyarakat atas dasar kepedulian bersama. Ada kewajiban moral untuk saling memantau, merangkul, dan membantu, sehingga tidak ada orang yang dibiarkan menanggung bebannya sendirian.
Peran negara pun tak kalah krusial. Dalam Islam, penguasa memposisikan diri sebagai raa'in atau penanggung jawab penuh atas urusan rakyatnya. Negara bertugas memastikan sistem pendidikan mendidik kepribadian dan arah hidup, bukan sekadar mengejar gelar atau kesiapan kerja. Sistem ekonomi pun diarahkan agar kebutuhan dasar setiap warga terpenuhi tanpa membiarkan mereka bertarung sendirian tanpa kepastian.
Memperbaiki generasi yang rentan tidak bisa dilakukan hanya dengan menuntut mereka agar "lebih kuat" atau "lebih tahan banting". Yang perlu dibenahi adalah tatanan hidup yang membentuk mereka.
Selama sekularisme dan kapitalisme masih menjadi pilar utama, masalah mental akan selalu dipandang sebagai urusan pribadi semata. Manusia tidak hanya butuh pertolongan saat sudah terpuruk, yang dibutuhkan adalah fondasi yang utuh, yakni individu yang paham tujuan hidup, masyarakat yang peduli, serta negara yang hadir menjalankan kewajibannya secara nyata.
Wallahu'Alam bissawab.
Via
OPINI
Posting Komentar