OPINI
Solusi Tidak Tepat, Remaja Darurat HIV
Oleh: Pudji Arijanti
(Pegiat Literasi untuk Peradaban)
TanahRibathMedia.Com—Kasus HIV meningkat di sejumlah daerah. Menurut Plt Dirjen Penanggulangan Penyakit Kemenkes RI, dr. Andi Saguni, jumlahnya ditemukan melalui layanan tes HIV di berbagai fasilitas kesehatan (faskes). Kondisi ini diklaim sebagai bukti keberhasilan deteksi dini, sehingga tingginya angka kasus yang ditemukan, disebut sebagai dampak dari semakin efektifnya pelaksanaan tes HIV. Berdasarkan data kumulatif Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo, jumlah orang yang hidup dengan HIV sejak 2001 hingga Juni 2026 mencapai 7.230 orang. Dari jumlah tersebut, 522 di antaranya merupakan pelajar, mulai dari jenjang PAUD hingga SMA (kumparan.NEWS, 24 Juli 2026).
Emil Elestianto Dardak Wakil Gubernur Jawa Timur menilai: pendidikan seksual sejak dini menjadi salah satu langkah penting untuk mencegah perilaku seksual berisiko yang dapat berujung pada penularan HIV/AIDS. Menurut Emil, pendidikan seksual masih kerap dianggap tabu. Menurutnya, anak perlu dibekali sejak dini dengan pemahaman mengenai risiko yang ditimbulkan oleh pergaulan bebas. Namun begitu, pernyataan Emil tersebut dikatakan belum dapat menyentuh akar persoalan.
Pasalnya, persoalan HIV/AIDS erat kaitannya dengan sistem pergaulan saat ini yang semakin liberal. Hingga berujung pada krisis moral, lemahnya kontrol sosial, serta nilai-nilai yang membentuk perilaku masyarakat. Budaya pergaulan bebas, seks pranikah, normalisasi penyimpangan seksual, hingga kemudahan mengakses pornografi terus berkembang tanpa kendali. Alih-alih memberantas akar persoalan, negara pun hanya menawarkan solusi yang bersifat teknis, seperti kampanye seks aman atau perluasan layanan kesehatan. Padahal, langkah tersebut tidak menyentuh penyebab utama, yakni rusaknya akidah dan hilangnya kontrol masyarakat terhadap kemaksiatan.
Tampak bahwa cara pandang terhadap persoalan HIV masih kental dengan paradigma sekuler yang hanya berfokus pada penanganan dampak, bukan penyebab. Solusi yang ditawarkan pun lebih bersifat kuratif dan teknis, seperti memperluas layanan kesehatan serta meningkatkan deteksi dini, tetapi tidak menyentuh akar persoalan, yakni rusaknya sistem pergaulan akibat agama tidak berfungsi sebagai sistem kehidupan masyarakat. Menarasikan bahwa meningkatnya temuan kasus HIV tidak bisa secara langsung dimaknai meningkatnya kasus penularan, tapi justru karena meningkatnya efektifitas deteksi dini. Justru kasus yang dilakukan oleh pemerintah dan mitra, adalah bentuk gagal paham terhadap problem yang ada.
Solusi Terbaik Hanya Pada Islam
Islam memandang pencegahan HIV harus dimulai dari menutup akar penyebabnya. Karena itu, Islam membangun sistem pergaulan sosial yang preventif. Sistem Islam, menjaga interaksi laki-laki dan perempuan sesuai syariat, mewajibkan menutup aurat, melarang khalwat, ikhtilat serta mengharamkan zina dan segala jalan yang mengarah kepadanya. Dengan membangun ketakwaan individu, kontrol masyarakat melalui amar makruf nahi mungkar, serta penerapan hukum syariat oleh negara, perilaku seksual dapat dicegah sejak awal.
Negara menerapkan Nizham al-Ijtima'i (Sistem Pergaulan Islam) melalui aturan menjaga pandangan, kewajiban berpakaian syar'i, larangan mendekati zina, pensyariatan pernikahan sebagai satu-satunya jalan penyaluran naluri seksual yang halal serta penerapan sanksi (uqubat) bagi setiap pelanggar hukum syarak. Dengan demikian, Islam menutup seluruh pintu yang dapat mengantarkan pada perilaku seksual berisiko sehingga pencegahan dilakukan sejak akarnya, bukan sekadar mengobati dampaknya.
Islam menerapkan sistem pendidikan berbasis akidah yang mengintegrasikan pendidikan kesehatan reproduksi dengan fikih pergaulan dan pembinaan akhlak. Dengan demikian, pelajar tidak hanya memahami fungsi dan cara menjaga kesehatan organ reproduksi, tetapi juga menyadari bahwa menjaga kehormatan diri merupakan bagian dari ketaatan kepada Allah Swt. Keimanan yang tertanam kuat akan membentuk kesadaran untuk menjauhi segala bentuk kemaksiatan karena setiap perbuatan kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt.
Kekuatan Sinergi Tiga Pilar
Islam mewujudkan generasi yang terlindungi dari ancaman HIV dan pergaulan bebas melalui sinergi tiga pilar, yaitu keluarga, masyarakat (termasuk sekolah), dan negara.
Pertama, keluarga dan masyarakat/sekolah sejalan menanamkan akidah, akhlak, dan pemahaman fikih pergaulan Islam sehingga terbentuk kepribadian Islam pada diri pelajar.
Kedua, masyarakat dan negara menerapkan Nizham al-Ijtima'i melalui aturan menjaga pandangan, menutup aurat, larangan mendekati zina, pengaturan pernikahan, serta amar makruf nahi mungkar sehingga lingkungan sosial tetap kondusif.
Ketiga, negara menegakkan syariat secara kafah, termasuk menerapkan uqubat bagi pelanggaran hukum syarak serta menyediakan sistem pendidikan dan layanan kesehatan yang selaras dengan syariat.
Kesimpulan
Meningkatnya kasus HIV, khususnya di kalangan remaja, tidak cukup diatasi dengan memperluas edukasi seksual semata. Persoalan ini berakar pada rusaknya sistem pergaulan yang lahir dari kehidupan sekuler. Islam menawarkan solusi yang menyeluruh melalui pembinaan akidah, penerapan Nizham al-Ijtima'i, serta peran negara dalam menegakkan syariat secara kafah. Dengan penerapan Islam secara menyeluruh, berbagai pintu yang mengantarkan pada perilaku seksual berisiko dapat ditutup sejak akarnya sehingga terwujud masyarakat yang bersih, sehat, dan terjaga kehormatannya.
Wallahu'alam bissawab.
Via
OPINI
Posting Komentar