Potret Gen Z di Tengan Tekanan Ekonomi dan Krisis Tujuan Hidup
Oleh: Devi Ririn Armiana
(Sahabat Tanah Ribath Media)
Generasi Z tumbuh di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, tetapi di balik kemudahan teknologi dan derasnya arus informasi, mereka juga menghadapi tekanan yang tidak ringan. Alokasi belanja Gen Z untuk selfreward, healing, dan gaya hidup justru terus meningkat karena dianggap kebutuhan emosional, bukan sekedar kemewahan.
Tanggal gajian adalah hari yang ditunggu-tunggu. Notifikasi transfer masuk di telepon genggam. Dalam hitungan menit, sebagian pekerja muda langsung membuka mobile banking untuk membayar sewa tempat tinggal, tagihan listrik atau kebutuhan lain yang tidak bisa ditunda. Setelah kewajiban itu selesai, sebagian lainnya membuka keranjang belanja daring yang sudah diisi sejak beberapa hari sebelumnya. Ada yang membeli lipstik dan parfum baru, memesan kopi atau matcha, memperpanjang langganan layanan musik digital, mencoba restoran yang sedang ramai diperbincangkan, menonton film di bioskop, sampai berburu tiket konser. Hal seperti itu kini menjadi hal yang lumrah. Di media sosial, kebiasaan tersebut dikenal dengan berbagai istilah, mulai dari self-reward, little treat, hingga healing tipis-tipis. (Kompas.com, 12-8-2028).
Sistem Kapitalisme menciptakan tekanan ekonomi yang menghimpit Gen Z di mana biaya hidup terus naik sementara gaji stagnan. Negara lepas tangan dari kewajiban menjamin kebutuhan dasar, sehingga generasi muda berjuang sendiri. Media sosial juga terus mencekoki generasi dengan tren popular yang memicu FOMO dan budaya belanja impulsif.
Di balik itu semua, ada krisis yang lebih dalam, yakni Gen Z tidak memahami tujuan hidupnya. Sehingga, kebahagiaan diukur dari kenikmatan materi sesaat, bukan dari ridha Allah dan kemuliaan Islam.
Dalam perspektif Islam, negara memiliki peran penting dalam mewujudkan kesejahteraan rakyat. Negara Khilafah, sebagaimana dikonsepsikan dalam pemikiran politik Islam, akan mengelola sumber daya alam untuk kemaslahatan rakyat dan menjamin terpenuhinya kebutuhan dasar mereka. Negara juga bertanggung jawab menyediakan lapangan pekerjaan yang layak, khususnya bagi laki-laki sebagai pencari nafkah. Dengan demikian, rakyat, termasuk Gen Z, tidak dibiarkan menghadapi persoalan ekonomi seorang diri. Potensi generasi muda dapat diarahkan untuk berkarya, bekerja, dan berkontribusi dalam membangun kehidupan masyarakat.
Selain persoalan ekonomi, generasi juga menghadapi tantangan berupa gaya hidup hedonis dan arus konten yang dapat membentuk pola pikir serta perilaku. Islam menutup berbagai jalan yang mendorong manusia terjebak dalam kehidupan materialistis dan berlebihan. Dalam sistem Khilafah, media diarahkan untuk memberikan informasi yang mendidik, mencerdaskan, dan mendorong ketakwaan. Dengan lingkungan informasi yang sehat, generasi diharapkan tidak mudah menjadikan kesenangan materi dan popularitas sebagai ukuran utama keberhasilan hidup.
Lebih mendasar lagi, Islam memberikan paradigma yang jelas mengenai hakikat kehidupan manusia. Allah Swt. berfirman dalam QS. Adz-Dzariyat ayat 56 bahwa manusia diciptakan untuk beribadah kepada-Nya. Pemahaman ini membuat kehidupan tidak semata-mata dipandang sebagai ajang mengejar kekayaan, jabatan, popularitas, atau kesenangan. Dengan akidah yang kokoh, generasi muda memiliki orientasi hidup yang lebih tinggi: menjalani kehidupan sesuai syariat dan memberikan kontribusi bagi kemaslahatan umat.
Dari sinilah lahir visi generasi sebagai pembangun peradaban Islam. Gen Z tidak hanya diposisikan sebagai konsumen informasi atau pencari kesuksesan pribadi, tetapi sebagai generasi yang memiliki ilmu, keterampilan, ketakwaan, dan kepedulian terhadap masyarakat. Ketika kebutuhan dasar terjamin, lingkungan informasi lebih sehat, dan tujuan hidup dibangun di atas akidah Islam, generasi memiliki ruang yang lebih kuat untuk berkembang dan berkontribusi.
Dengan demikian, membangun generasi tangguh tidak cukup hanya dengan menuntut mereka untuk beradaptasi terhadap berbagai tantangan. Diperlukan pula lingkungan dan sistem yang mendukung terpenuhinya kebutuhan mereka, menjaga mereka dari kerusakan, serta memberikan arah hidup yang benar. Dalam perspektif Islam, negara memiliki tanggung jawab besar untuk mewujudkan hal tersebut, sehingga generasi muda dapat tumbuh sebagai generasi yang produktif, berkepribadian Islam, dan memiliki visi besar dalam membangun peradaban.
Wallahu a'lam.
Posting Komentar