OPINI
BBM Langka di Negeri Kaya Raya
Oleh: Adzkia Fatiha
(Sahabat Tanah Ribath Media)
TanahRibathMedia.Com—Belakangan ini, Bahan Bakar Minyak (BBM) kembali langka. Dilansir dari BBCNews.com pada Selasa (14 Juli 2026), kelangkaan BBM terjadi di berbagai daerah sehingga memicu antrian yang panjang. Masyarakat terkhusus para pekerja perjalanan seperti sopir truk, angkutan umum dan lain-lain bahkan kehilangan jam istirahatnya karena harus mengantri selama berjam-jam.
Antrian yang mengular ini bahkan menyebabkan para pengantri kelelahan hingga meninggal dunia. Salah satunya, yaitu ditemukan seorang sopir truk meninggal di balik kemudi saat mengantri solar di SPBU jalan Lintas Timur Palembang Jambi, kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan. Polisi menyebut korban diduga meninggal akibat kelelahan.
Sejumlah gubernur di beberapa daerah angkat suara. Mereka menyatakan permasalahan ini harus diusut tuntas karena menyangkut kesehatan ekonomi dan kesehatan masyarakat. Keduanya bisa terganggu apabila permasalahan ini tidak segera diselesaikan. Adapun Pertamina Patea Niaga menegaskan bahwa truk solar bersubsidi di Sumatra Selatan sebenarnya sesuai kuota yang ditetapkan dan menyatakan persoalannya lebih terkait dengan pengawasan distribusi maslah yang berulang.
Fenomena ini tak asing lagi di telinga kita. Hampir tiap tahun tejadi kelangkaan BBM yang entah mengapa terus berulang tanpa solusi yang jelas. Masalahnya, BBM memegang peran krusial dalam kehidupan modern saat ini. BBM yang langka dapat memicu naiknya harga barang dan memperlambat proses distribusi.
Penyebab langkanya BBM tentu bermacam-macam. Salah satunya adalah karena pengaruh perang Iran Amerika. Selain itu, baiknya harga pertamax akhir-akhir ini juga menjadi faktor utama. Selisih harga antara pertamax dan pertalite mencapai kurang lebih 6000. Ini menyebabkan masyrakat berbondong-bondong berganti pada pertalite yang murah, sehingga pertalite semakin menipis.
Problematika ini tak lain disebabkan oleh stau akar masalah yaitu masih bercokolnya sistem kapitalis di hari ini. Di bawah sistem Kapitalisme, negara berfungsi sebagai korporasi dagang, akibatnya SDA yang seharusnya milik rakyat justru dijadikan komoditas tertentu yang memberi keuntungan pada satu pihak saja.
Negara kita saat ini juga sedang kehilangan kontrol mandirinya. Hal ini dibuktikan dengan adanya liberalisasi pengelolaan dari hulu (eksplorasi) hingg hilir (distribusi) kepada korporasi swasta dan asing. Sedangkan rakyat dipaksa tunduk pada permainan pasar korporat. Negara juga semakin menyusahkan rakyat dengan membuat regulasi yang berbelit-belit. Dengan demikian, negara gagal menjalankan tugas utamanya yaitu sebagai ra'in (pemelihara).
Semua itu tidak akan kita dapatkan di dalam negara yang bernaung dibawah hukum besar Islam. Islam tentu saja melarang monetisasi dalam hal yang seharusnya menjadi hak bagi semua orang, contohnya: BBM, air, dan lain-lain. Negara akan menyediakan semua itu dengan harga yang terjangkau dan kualitas yang terbaik.
Islam melarang tunduk pada orang kafir, apalagi menyerahkan hasil SDA-nya. Negara Islam atau daulah akan mengelola semua SDA secara mandiri agar SDA tersebut dapat bermanfaat untuk Ummat. Maka solusi tuntas adalah menegakan kembali Daulah Al-Khilafah.
Solusi ini tidak hanya untuk satu problematika saja, namun juga menyelesaikan problematika yang lain. Maka meraihnya tidak bisa hanya dengan berdiam diri, namun perlu action. Yang dapat kita lakukan sebagai ikhtiar menegakan kembali adalah dengan berdakwah, agar opini Islam semakin tersebar luas sehingga masyarakat dapat memiliki satu perasaan, satu pemikiran dan disusul dengan satu peraturan, yakni peraturan Islam. Wallahu'alam bi ash-shawab.
Via
OPINI
Posting Komentar