OPINI
Teknologi di Era Kapitalisme Bagai Pisau Bermata Dua
Oleh: Hana Annisa Afriliani, S.S
(Aktivis Dakwah dan Penulis Buku)
TanahRibathMedia.Com—Saat ini kita hidup di era perkembangan teknologi yang demikian massif. Hal ini seiring sejalan dengan maraknya digitalisasi di berbagai sektor layanan publik. Berkembang pula teknologi kecerdasan buatan alias Artificial Intelligence (AI). Perkembangan teknologi ini bagaikan pisau bermata dua jika kita tidak memahami rambu-rambunya.
Bijak Berteknologi
Islam sebagai agama yang membawa kebenaran ilahiyah tentu saja tidak anti terhadap perkembangan teknologi. Karena sejatinya teknologi merupakan sarana yang menyediakan barang-barang yang dibutuhkan demi kelangsungan dan kenyamanan hidup manusia (KBBI).
Namun, sebagai muslim kita perlu memiliki fondasi yang kokoh sebelum menggunakan teknologi, yakni akidah Islam. Inilah yang akan menuntun kita agar memanfaatkan teknologi sesuai rambu-rambu syariat. Sebab, tanpa fondasi akidah Islam yang kokoh, teknologi justru dapat menjerumuskan kita kepada kebodohan bahkan kemaksiatan.
Sebagaimana yang terjadi hari ini, banyak orang yang memanfaatkan AI untuk berbagai kebutuhan, termasuk dalam sebagai tempat bertanya tentang berbagai persoalan. Sayangnya, banyak juga yang tidak mampu memfilter diri atas pemanfaatan tersebut sehingga menelan begitu saja segala jawaban yang diberikan produk teknologi tersebut. Padahal AI mampu menjawab berbagai pertanyaan berdasarkan pada memproses miliaran data teks melalui teknologi Pemrosesan Bahasa Alami (NLP). AI berkerja dengan cara menggunakan algoritma untuk fokus pada kata-kata penting dalam kalimat dan memahami bagaimana mereka saling terhubung satu sama lain. Jadi, apa yang dijawab oleh AI bukan berdasarkan pada proses berpikir sebagaimana halnya yang dilakukan oleh manusia.
Oleh karena itu, seorang muslim harus memiliki fondasi akidah Islam yang kokoh sebelum menggunakan AI sebagai mesin bertanya. Hal ini agar tetap mampu membedakan mana informasi yang benar dan mana yang salah. Mana informasi yang boleh diambil dan mana yang tidak.
Sejatinya, komponen berpikir ada empat yakni fakta, otak, panca indera, informasi sebelumnya (maklumat tsabiqoh). Maklumat tsabiqoh ini adalah pengetahuan, standar nilai, atau konsep yang sudah ada di dalam otak. Informasi ini digunakan untuk menimbang, menilai, dan menyimpulkan fakta yang sedang diindra. Oleh karena itu, ketika informasi yang terhimpun di dalam otak kita adalah informasi yang benar yakni yang sesuai dengan syariat Islam, maka penilaian atas fakta akan benar juga.
AI: Karunia atau Bencana?
Di satu sisi, keberadaan AI tentu saja akan memberikan banyak kemudahan pada manusia karena mempercepat sebuah pekerjaan. Misalnya, jika dulu pekerjaan desain gambar membutuhkan waktu yang lama, sekarang bisa dilakukan oleh AI hanya dalam hitungan detik. Manusia tinggal memberikan perintah lewat teks terkait desain gambar yang diinginkannya.
Di sisi lain, AI bisa menjadi bencana ketika digunakan untuk melakukan editing foto atau video yang bisa memanipulasi realita. Misalnya foto orang sedang di depan rumah, bisa diubah lokasinya menjadi di pantai. Bahkan menggunakan AI, seseorang di dalam foto bisa diubah ekspresinya, warna pakaiannya, dll. Manusia juga bisa membuat video seseorang sedang berbicara, padahal itu bukanlah asli orang tersebut yang bicara. Jelas itu semua adalah penipuan publik.
Dalam Islam, haram hukumnya melakukan manipulasi atau kebohongan. Oleh karena itu, sangat tidak layak seorang muslim melakukan aktivitas manipulatif demikian.
"...Laknat Allah akan menimpanya jika dia termasuk orang yang berdusta.” (TQS An-Nur ayat 7)
Syaikh Atha bin Khalil Abu Rasytah menyampaikan bahwa mengedit foto makhluk hidup—termasuk menggunakan AI (Kecerdasan Buatan)—hukumnya haram jika dilakukan untuk mengubah bentuk atau realitas aslinya. Aktivitas ini disamakan dengan perbuatan tashwir (menggambar) terlarang yang mengubah ciptaan-Nya.
Dengan demikian, jelaslah bahwa tanpa pemahaman Islam kaffah, manusia akan terjerumus dalam dosa dan kemaksiatan di tengah kecanggihan teknologi hari ini. Terlebih lagi, kita hidup dalam sistem yang jauh dari Islam, melainkan sistem sekuler yang tidak menjadikan syariat Islam sebagai timbangan atas benar dan salah dalam setiap perbuatan. Inilah urgensitas hadirnya Khilafah sebagai penjaga akidah umat dari segala bentuk ide atau pemikiran rusak. Wallahu'alam bishshawab.
Via
OPINI
Posting Komentar