OPINI
Mengapa Generasi Z Terjebak dalam Kecemasan?
Oleh: Alin Aldini, S.S.
[Anggota Komunitas Muslimah Menulis (KMM) Depok]
TanahRibathMedia.Com—Di tengah derasnya arus informasi dan perkembangan teknologi, lahir sebuah paradoks. Generasi Z dikenal sebagai generasi yang paling terkoneksi dengan dunia, tetapi pada saat yang sama juga menjadi generasi yang paling banyak memiliki persoalan kecemasan, tekanan psikologis, dan hopeless pada ketidakpastian masa depan.
Berbagai survei menunjukkan kekhawatiran terhadap pekerjaan, kondisi ekonomi, hingga masa depan menjadi bagian dari kehidupan mereka (data.goodstats.id, 8-4-2026). Fenomena ini tidak muncul begitu saja. Ini terjadi karena suasana dan tekanan hidup ala kapitalisme dengan materi sebagai tolok ukur kesuksesan bahkan menjadi tujuan hidup.
Kehidupan digital pun membuat generasi muda terus-menerus membandingkan dirinya dengan orang lain. Media sosial hanya menyajikan potongan-potongan kehidupan yang tampak sempurna sehingga tanpa disadari melahirkan standar yang sulit dicapai. Di sisi lain, perubahan dunia kerja yang berlangsung sangat cepat dan banyaknya SDM yang menganggur membuat banyak anak muda khususnya gen Z merasa harus menguasai banyak keterampilan sekaligus agar tetap mampu bersaing.
Tekanan tersebut semakin berat ketika kondisi ekonomi tidak selalu memberi ruang bagi mereka untuk berkembang. Lapangan kerja yang kompetitif, biaya pendidikan yang tinggi, serta harga kebutuhan hidup yang terus meningkat membuat sebagian generasi muda mempertanyakan apakah kerja keras mereka benar-benar menjamin masa depan yang lebih baik. Tidak mengherankan jika muncul rasa cemas yang berkepanjangan.
Sayangnya, generasi ini kerap menerima stigma sebagai generasi yang lemah, mudah menyerah, atau terlalu sensitif. Padahal, di balik kecemasan itu tersimpan kesadaran kritis yang patut diapresiasi. Banyak anak muda mulai mempertanyakan sistem yang mereka jalani, mulai dari dunia pendidikan, budaya kerja, hingga berbagai persoalan sosial. Sikap kritis tersebut dapat menjadi modal penting untuk menghadirkan perubahan apabila diarahkan secara konstruktif.
Namun, perubahan tidak cukup dibebankan kepada generasi muda semata. Keluarga, masyarakat, institusi pendidikan, dunia usaha, dan negara memiliki tanggung jawab menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuhnya generasi yang sehat secara mental. Pendidikan tidak hanya berorientasi pada nilai akademik, tetapi juga perlu membangun kepribadian tangguh, kemampuan menyelesaikan masalah, dan daya tahan menghadapi tantangan.
Dalam perspektif Islam, ketenangan hidup tidak hanya dibangun melalui pemenuhan kebutuhan materi, tetapi juga melalui pembentukan kepribadian yang berlandaskan nilai-nilai keimanan. Islam memandang manusia sebagai makhluk yang memiliki tujuan hidup yang jelas, sehingga kesuksesan tidak semata diukur oleh pencapaian materi, melainkan juga oleh kualitas amal dan kemanfaatannya bagi sesama. Nilai-nilai seperti tawakal, sabar, ikhtiar, dan tanggung jawab sosial menjadi fondasi yang dapat membantu seseorang menghadapi tekanan hidup tanpa kehilangan arah.
Selain itu, Islam juga menekankan pentingnya tanggung jawab pemimpin dalam mengatur urusan masyarakat. Pemenuhan kebutuhan dasar, akses terhadap pendidikan, keamanan, dan kesempatan bekerja merupakan bagian dari upaya mewujudkan kemaslahatan bersama. Karena itu, pembahasan mengenai kesehatan mental generasi muda tidak dapat dilepaskan dari kondisi sosial yang mereka hadapi.
Generasi Z bukan sekadar generasi yang sedang dilanda kecemasan. Mereka adalah generasi yang sedang mencari arah di tengah perubahan zaman yang berlangsung begitu cepat. Jika saja energi, kreativitas, dan sikap kritis mereka didukung oleh lingkungan yang sehat serta nilai-nilai moral yang kuat, juga negara yang bertanggung jawab atas segala kebutuhan masyarakat, maka kecemasan hari ini dapat berubah menjadi kekuatan untuk membangun masa depan yang lebih baik. Saat ini, tantangannya bukan hanya bagaimana membuat generasi muda mampu bertahan hidup, tetapi bagaimana memastikan mereka memiliki harapan hidup yang layak untuk diperjuangkan.
Via
OPINI
Posting Komentar