Editorial
Maraknya Balap Liar: Pemuda Membutuhkan Dakwah Islam
Oleh: Nai Ummu Maryam
(Pemred Tanah Ribath Media)
TanahRibathMedia.Com—Sering kali kita menyaksikan tren balap liar di kalangan remaja. Pesertanya didominasi oleh pelajar SMP dan SMA. Baik remaja di desa maupun di kota, tren balap liar dianggap sebagai ajang keberhasilan dan keberanian khususnya bagi remaja laki-laki. Memang benar, balap merupakan salah satu cabang olahraga, namun ketika aktivitas ini dilakukan tidak pada tempat dan waktunya maka akan menimbulkan permasalahan baru yang meresahkan, seperti kecelakaan, tawuran, miras hingga berujung pada tindak kriminal lainnya.
Kelihatannya tren ini sangat sepele, bahkan keberadaan tren ini dari tahun ke tahun tidak pernah berakhir sekalipun aparat kepolisian sudah mengamankannya berkali-kali. Remaja yang tidak memahami tujuan hidup "dari mana saya berasal - untuk apa saya hidup - dan mau ke mana setelah kehidupan" tentunya akan mudah terbawa arus. Ketika tolok ukur kesuksesan adalah populer, viral dan dianggap "jagoan", maka balap liar menjadi pilihan untuk mencari jati diri dan pengakuan. Inilah yang disebut dengan krisis identitas.
Menilik Akar Masalah yang Mendalam
Diakui atau tidak, lingkungan hidup kita diselimuti dengan paham sekularisme. Paham yang memisahkan agama dari kehidupan. Agama hanya digunakan ketika beribadah saja. Padahal, agama mengatur secara detail aturan hidup termasuk sistem pergaulan dan pendidikan.
Tidak bisa dimungkiri, sistem pendidikan hari ini hanya sibuk mengejar nilai akademis bukan penanaman akidah. Mirisnya, sistem pendidikan saat ini hanya berporos pada urusan ekonomi namun lupa membentuk karakter dan identitas remaja. Khusunya remaja muslim. Akibatnya remaja tumbuh tanpa arah yang jelas, bingung membedakan perbuatan halal atau haram.
Pelajaran agama Islam hanya bisa diperoleh di pondok pesantren yang biayanya mahal, sedangkan sekolah umum mempelajari agama hanya sekadarnya saja. Sistem pendidikan yang komersial juga menciptakan rapuhnya pondasi akidah generasi.
Solusi Islam yang Kompreheensif
Islam memandang remaja atau pemuda sebagai aset umat dan penerus peradaban. Menjaga mereka adalah kewajiban negara, bukan hanya orang tua. Negara seharusnya memanfaatkan keberadaan para pemuda sebagai bonus demografi yang harus dimaksimalkan arah tujuannya. Jika negara abai, maka bonus demografi menuju Indonesia emas akan menjadi boomerang Indonesia cemas.
Negara wajib memberikan pendidikan Islam sejak dini kepada para generasi. Agar mereka tumbuh menjadi individu yang bertakwa. Menjadikan sistem pendidikan berasaskan akidah akan menjadi benteng para generasi ke depannya. Pelajaran agama seharusnya didapatkan di semua sekolah tanpa memandang sekolah umum atau pesantren. Dengan bermodalkan tauhid dan akidah, seorang pelajar akan memiliki rem internal di dalam dirinya. Ia akan takut melanggar syariat bukan karena CCTV atau hukuman guru, namun karena ada Allah yang melihatnya.
Di sisi lain negara bersama aparat keamanan bertindak tegas dan menutup semua akses balap liar. Negara harus memberikan ruang kegiatan yang positif. Misalnya membangun sirkuit resmi yang mudah diakses agar hobi para remaja tersalur pada tempatnya dengan baik. Ruang kegiatan seperti ruang olahraga dan pelatihan keterampilan juga sangat bermanfaat. Selain itu negara juga harus mendorong para remaja agar memiliki kecintaan pada dakwah Islam.
Kesimpulan
Balap liar adalah alarm agar kita memperhatikan dan memperbaiki sistem kehidupan hari ini. Generasi kita sedang krisis identitas dan kehilangan jati dirinya sebagai umat yang terbaik. Jadi tugas kita semua adalah mengenalkan Islam sebagai aturan kehidupan lewat dakwah.
"Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia (selama) kamu menyuruh (berbuat) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah." (TQS Ali Imran: 110)
Via
Editorial
Posting Komentar